Sering Menyalahkan Diri Sendiri!


Sering Menyalahkan Diri Sendiri! 1

Perjalanan hidup seringkali memperlihatkan kepada saya bahwa hidup ini tidak sesuai dengan apa yang diharapan. Saya merasa, masalah selalu datang dan tidak pernah mau berhenti untuk memperhambat kebahagian. Musibah, diputusin oleh pacar, ketindakadilan, itu menjadi teman baik yang selalu setia menemani perjalanan hidup.

Saya sering bertanya-tanya dalam benak karena kenyataan yang ada terjadi diluar dari prediksi. Putus asa dan dilematis menjadi teman hidup yang sulit ditinggalkan karena perasaan pada diri menyatakan bahwa saya sungguh tak berdaya atas setiap pencobaan yang ada. 

Pada waktu saya masih menempuh pendidikan Sarjana Teologi, terdapat banyak hal yang selalu membawa kepada tindakan menyalahkan diri. Seringkali tindakan itu tidak terpikirkan dampaknya, sehingga masalah datang silih berganti.

Semua dari kejadian tersebut ternyata secara tidak sadar telah membawa kehidupan saya kedalam perhambaan logika. Logika yang menjadi sosok terpenting dalam perjalanan hidup ternyata telah membuat diri ini tidak memiliki damai sejahtera, apalagi sukacita. 

Indahkah hidup jika tidak memiliki damai sejahtera? Indahkah hidup jika tidak ada sukacita? Damai sejahtera dan sukacita ada jikalau harapan dan masa depan itu nyata. Lalu bagaimana jika hal tersebut tidak nyata? 

Banyaknya ketidakjelasan hidup membuat saya berpikir bahwa tidak hidup lebih baik dari pada hidup. Tidak lahir lebih baik dari pada lahir. Karena, perjalanan hidup hanya berorientasi kepada kesia-sian belaka dan tidak membawa kepada kehidupan yang sesungguhnya.

Menurut saya masalah akan terus menemani hidup tanpa berpikir untuk pergi dari setiap perjalanan hidup. Ia akan lebih setia dari orang-orang yang sangat setia. Ia akan berbuat jahat lebih dari orang yang sangat jahat. Itulah masalah.

Menurut saya diri ini akan terus tidak berdaya atas segala situasi yang dialaminya. Ia akan terus putus asa dan dilema menjadi warna kehidupannya. Ia akan terus merasa bersalah dan sering mengabaikan kelebihannya. Sungguh akhir hayat menjadi penantian utama dalam kehidupannya.

Ketika saya rindu mengetahui masalah tersebut. Saya mendatangi teman-teman untuk mencari tahu apakah mereka mengalami permasalahan tersebut. Waktu itu, disaat saya bertanya, ada yang menyatakan permasalahannya lebih besar dari saya, dan ada juga yang tidak lebih.

Saat ini saya menyadari jikalau semua orang mengalami permasalahan. Saya juga akhirnya tahu dari banyaknya orang yang mengalami tersebut tidak sedikit orang menyalahkan dirinya. Bahkan, ada juga yang ingin mengakhiri hidup seperti saya.

Mungkin, dengan mengakhiri hidup semua masalah akan selesai. Dilema akan hilang dan tanpa memiliki kesempatan lagi untuk setia menemani perjalanan kehidupan. Masa depan akan hilang tanpa menghantui dalam hayalan kehidupan. Sukacita menghampiri atau tidak? saya tidak tahu, karena itu keputusan Sang Maha Kuasa.

Mungkin, bijaksananya tidak mengakhiri hidup dengan tindakan yang tidak terpuji. Jikalau masih bisa berbuat baik walaupun ditengah pencobaan kenapa tidak! Jikalau hidup di dunia bersifat sementara dan diakhirat bersifat kekal kenapa harus sedih dan dilema. Jalani hidup mengarah kepada kebahagiaan yang kekal, layaklah untuk saya pikirkan dan dapatkan. 

Refleksi Diri

  1. Apakah segala sesuatu yang nyata dalam hidup saudara membuat saudara tidak memiliki pengharapan dan masa depan? Jika ya, sebutkan hal tersebut!
  2. Apa yang menjadi tolak ukur saudara jika semua yang nyata membuat pengharapan dan masa depan hilang? 
  3. 3. Seperti apa sukacita yang saudara harapkan?

Yang Harus Dilakukan

Buatlah kritik terhadap pandangan sadara dengan melihat kebaikan Tuhan dalam hidup saudara?

Hikmat Hari Ini

Kasih Tuhan selalu tetap nyata dalam kegelapan hidup kita.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Junio Richson Sirait

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap