Setelah Wisuda Honorer ini Tidak Mampu Menebus Ijazahnya

Setelah Wisuda Honorer ini Tidak Mampu Menebus Ijazahnya 1

Tuntutan UU No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, menuntut para pengajar khususnya pada jenjang pendidikan dasar harus memenuhi standar pendidikan yakni bergelar DIV atau S1. Sejak UU itu diberlakukan banyak kalangan para pengajar yang memiliki latar belakang SLTA harus kembali melanjutkan pendidikannya, meskipun dalam usianya yang sudah setengah baya.

Untuk memenuhi tuntutan UU tersebut, berbagai upaya dilakukan oleh para guru-guru honorer senior meskipun harus mencari kerja sampingan, atau bahkan mencari pinjaman di sana-sini, yang terpenting mereka dapat memenuhi tuntutan pemerintah atas UU tersebut.

Bantuan pendidikan yang diberikan pemerintah terhadap guru-guru yang menempuh pendidikan tinggi memang diberikan, tapi sayangnya hanya berlangsung selama 2 tahun, setelah tahun ke-2 bantuan pendidikan tidak dicairkan kembali. 

Honorer tersebut masuk kuliah pada tahun 2012, tahun 2013 dan tahun 2014 mendapat suplay pemerintah berupa biaya pendidikan senilai 3,5 juta / tahun, tapi setelah tahun 2014 dan tahun 2015 biaya pendidikan tidak cair kembali sehingga biaya pendidikan kuliahnya tersendat. 

Minimnya gaji sebagai honorer tidaklah cukup untuk memenuhi biaya kuliah, dan juga rumah tangganya,  wal hasil seluruh biaya pendidikannya terhenti. 

Saat ingin mendaftarkan diri sebagai ASN P3K, guru honorer tersebut tidak bisa, karena terkendala oleh Ijazahnya yang belum di tangan bahkan untuk menebus Ijazahpun tidak mampu.

Kondisi seperti inilah yag membuat honorer semakin terpuruk, dan akan selalu tersingkir meskipun perjuangan mereka sudah begitu lama. Honorer tersebut sudah mengabdi selama 25 tahun, berangkat dari seorang staf Tata Usaha, Ketua Tata Usaha, hingga berkiprah menjadi seorang guru.

Perjalanannya sebagai seorang guru dimulai dari mengajar bidang study PPKn, TIK, IPS, Seni Budaya, Bahasa Indonesia, Prakarya , bahkan pernah mengajar sebagai guru matematika. 

Sebagai staf tata usaha dirinya juga pawai dalam hal surat-menyurat. Tapi lagi-lagi, honorer tetaplah honorer. Gajinya tidak pernah cukup untuk memenuhi tuntutan hidup di era sekarang. Terlebih dengan situasi pandemi seperti sekarang, adanya lockdown, PPKM, meskipun sebagian guru honorer dapat BSU tapi kebetulan honorer tersebut tidak mendapatkannya. 

Sekarang tinggal menunggu perhatian pemerintah, karena untuk ikut dalam seleksi P3K juga tidak mungkin terkendala Ijazah dan transkip nilai masih ditahan pihak Perguruan Tinggi. 

Usianya sudah memasuki 48 tahun dan masa pengabdiannya terhitung sejak tahun 1995, sebuah perjalanan yang sudah cukup panjang dan cukup melelahkan. 

Semangatnya sebagai seorang guru tidak pernah pudar, bahkan guru-guru muda pun tak pernah mengalahkan semangatnya. Dari penuturan salah seorang rekan kerjanya, guru honorer ini sangat rajin dalam segala bidang, termasuk dalam hal kebersihan dan tata ruang. 

Kini dirinya mengabdi di salah satu SMP Swasta di Lampung, tepatnya di SMP Ma’arif 3 Bangunrejo Lampung Tengah. Kepala sekolah dimana honorer tersebut mengajar selalu mempercayakan tata ruang sekolah dan kantornya kepada guru tersebut. Tapi, hingga saat ini pihak sekolahpun tidak bisa membantu menebus ijazahnya sehingga meskipun statusnya kini sebagai sarjana (S1) tetapi tidak memiliki ijazah di tangan.

Harapannya mungkin ada uluran tangan dari pihak lain yang dapat membantu dirinya untuk dapat menebus ijazahnya. Jika memang memungkinkan dirinya sangat berharap dari pihak kampusnya untuk dapat memberikn secara cuma-cuma, tapi rupanya dari pihak kampuspun tidak pernah merespon dan tanggap terhadap permasalahan honorer tersebut.

Kehidupan rumah tangganya tergolong sangat sederhana, dalam sebulan honorer ini tidak lebih dari 15 Kg beras yang mereka habiskan meskipun dengan seorang istri dan 2 orang anaknya yang kini sudah masuk di SMA kelas XI dan SD kelas I.

Keadaan itulah yang membuat honorer ini hingga kini tidak mampu menebus ijazahnya meskipun dirinya wisuda sudah sejak tahun 2017. Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari honorer ini seringkali menjadi buruh harian lepas karena sekolahnya saat ini lebih banyak daring daripada tatap muka.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendri Sumarno