Si Tampan Bermata Sayu


Si Tampan Bermata Sayu 1

Suasana rumah sakit sore itu sangat ramai dan aku sengaja mengabiskan waktu berkeliling sekedar menghilangkan pegal-pegal badan yang dari pagi terus duduk menemani nenek, lumayan juga bisa cuci mata melihat rumput hijau serta bunga-bunga yang ditanam di taman rumah sakit itu, lalu akupun duduk di kursi kayu bercat putih berdampingan dengan pengunjung lainnya. Sesaat aku teringat dengan keadaan nenekku. Aku merasa sangat bersalah padanya. Nenekku masuk rumah sakit karena ia tertabrak motor saat meyebrang jalan.

“Brakkkkkk… ” suara itu mengagetkan aku yang saat itu masih merangkai mimpi,  padahal hari sudah mulai pagi. Meskipun matahari masih bersembunyi di balik awan namun nenekku tidak berani membangunkan aku, ia keluar rumah sendirian lalu menyebrang jalan untuk buang hajat, maklum saat itu di rumah nenek belum ada WC…hmmm…jadi kami selalu pergi ke kali saat fajar agar tak terlihat orang..wkwkwk….kebayang malunya saat nongkrong pinggir kali tiba-tiba ada orang lewat…langsung cebok dan buru-buru berlari….

“Neng…neng…” Tiba-tiba lamunanku membuyar seketika seseorang memanggilku. Lalu aku menengok ke seorang pria tampan berkulit putih mirip dengan Rendy Bragi…suittt…aku merasa bergetar melihatnya tersenyum padaku…”Ya ampun… ganteng banget ini cowok…” sesaat terbersit dalam hatiku.Namun aku tak terlihat sedang mengaguminya. Saat itu aku balik bertanya ” Apakah kamu memanggilku atau siapa?” Iapun menjawab ” iya, dari tadi kok ngelamun terus…”. ” Ouh..hmm..gak kok, aku cuma lihat-lihat tanaman itu..” Jawabku sangat ketus. Lelaki putih itu tidak lantas diam dengan sikapku yang ketus.”Neng, siapa namanya?” Akupun makin ketus dan menjawab sekenanya saja, “Au ah… siapa tuh.” Lalau akupun mulai membaca koran, padahal sebenarnya aku gerogi ditanya sama lelaki putih dan bermata sayu, membuatnya terlihat tampan, namun aku tak mau merasa ge’er lah di depan dia. Lelaki itu terus bertanya semakin penasaran karena sikapku yang judes. “Neng, serius nih siapa namanya?”, Lagi-lagi aku menjawab dengan ketus dan jawabanku tetap sama seperti tadi. “Hee..hee..Neng, gak salah kamu baca korannya terbalik tuh,” Ledek dia sambil tersenyum padaku.”Hah…”ya ampun aku malu banget, namun aku tak mau membalikkan koran itu lalu aku mulai berdiri dan pamit, “Maaf, aku pamit kak mau lihat nenek dulu.” Aku berlalu pergi menuju kamar nenekku yang saat itu masih belum sadar juga. Ada budeku di sampingnya. ” Bude, nenek belum sadar juga yak? ” ” Belum, bude mulai kuatir sama ibu.. luka di kepalanya mendapatkan beberapa jahitan dan kakinya semakin memar” jawabnya…akupun sangat panik dan mulai khawatir dengan nenek…tapi aku yakin dokter akan bisa menyadarkannya sesaat setelah kontrol lagi.

Setelah obrolan kecil mengenai nenek akupun bergegas keluar kamar lagi, aku mencari warung untuk makan sore bersama bude. Saat keluar pintu, aku melihat lagi laki-laki yang mirip Rendy Bragi sedang kumpul makan bersama beberapa orang, mungkin itu kakak dan ibunya karena wajah mereka terlihat mirip. Aku berusaha berajalan tegak lurus kedapan, meski hati berdebar-debar akan melewati sosok tampan itu.Tak kusangka lelaki itu melihat aku keluar dari pintu, lalu ia tersenyum dan mencoba menawarkan makanannya kepadaku.”Neng, hayoo sini, makan bareng!” Ajaknya padaku. Aku hanya bisa tersenyum saja, malu bercampur senang dan deg-degan… entah itu rasa apa yang sedang menyerang jantunku, yang pasti aku merasa sedikit melayang..hehe,  apalagi kedua perempuan yang disampingnya itu ikut menawarkan makanannya.  ” Hayoo neng, makanan masih banyak, pasti neng lapar dari siang belum makan kan?” Ledek dia lagi. “Iiiyaa, makasih kak, saya disuruh Bude ke warung, mari kak”, aku mulai berani menjawab dan berlalu meninggalkan mereka dengan perasaan yang entah seperti apa, yang pasti aku sedikit merasa gugup namun senang.

Mataharipun mulai kembali ke ufuk barat, semakin gelap di luar sana namun semakin terasa ramai dan hangat karena kala itu masih banyak orang yang mengunjungi kerabat atau keluarga pasien silih berganti. Rumah sakit itu tak seseram yang aku bayangkan seperti di film-film horor di TV. Akupun merasa nyaman tak takut hantu atau setan yang kalau di TV suka tiba-tiba nongol di lorong atau di dekat kamar jenazah. Akupun berniat duduk kembali di kursi yang tadi sore, karena hanya itu yang paling dekat dengan pintu masuk kamar nenekku. Lagi-lagi aku melihat si tampan bermata sayu, jantungku berdetak kencang tak beraturan, namun aku bingung mau duduk di mana lagi.. Ya sudahlah akhirnya aku duduk berdampingan lagi dengannya..”Eh si neng..belum tidur?” Tanyanya padaku, “Belum kak, masih jam delapan, belum ngantuk.” Lalu aku terdiam dan membolak-balikkan koran yang tadi aku baca terbalik…” Neng, namanya siapa, rumahnya di mana?” Lelaki itu masih penasaran ingin tahu namaku. Namun aku tak langsung menjawab pertanyaannya, masih bersikap dingin sampai dia tertawa melihat aku yang sok bersikap cool gitu…” Neng, kamu itu lucu, kalau lagi jutek begitu kamu terlihat cantik” rayunya…” Akupun hanya diam dan menatap tajam padanya. Duh, antara hati dan sikap tak seirama.. inginnya aku tersenyum kegirangan, tapi aku gengsi ah…”Neng, kakak serius nih, namanya siapa sih, rumahnya di mana?” Sepertinya si tampan itu merasa bosan menanyakan namau sampai berkali-kali. Akhirnya akupun menjawab dengan sikap yang cuek dan cool gitu, tapi jantung terasa mau membludak hebat…suit banget bagi aku saat itu..” Namaku Saras, aku tinggal di kampung Sayuran,” “Ouh namanya cantik yak sama seperti orangnya, sambil tersenyum senang karena aku telah menjawab pertanyaannya..”Saras masih sekolahkah?” “Iya, kak”.”Aku masih sekolah SMP kelas 3, sebentar lagi aku lulus…Usiaku saat itu masih 15 tahun, dan jika melihat penampilan lelaki itu tampaknya ia lebih tua banyak dariku, ya sekitar usia 20an, tapi gantengnya itu gak nahan..dibandingkan denganku bagikan kopi dan susu…hee.” Oh, udah mau ujian yak neng..eh..Laras?” “Iya kak”, akupun diam kembali, namun si tampan itu memecahkan itu kesunyian dengan obrolan-obrolan kecil yang lucu dan bikin aku tertawa.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, akupun sudah menguap beberapa kali, lalu aku pamit tanpa bertanya balik tentang nama dan tempat tinggalnya. “Kak, aku balik ke kamar dulu yak..udah ngantuk.” Iapun menganggukkan kepalanya, ” iya Laras, selamat beristirahat”..

Setelah masuk ke kamar nenek, Bude masih terjaga menunggu nenek yang belum sadar juga, matanya yang begkak serta suara yang keluar dari tenggorokan nenek membuat aku berpikiran yang tidak-tidak. ” Bude td kata dokter nenek gimana?” ” Kata dokter nenek hanya gak sadar, mudah-mudahan besok segera siuman, gak ada yang serius”. “Oh.. baiklah bude, aku tidur yak”. Akhirmya aku rebahkan tubuhku di atas sehelai alas tipis tanpa berbalut selimut.

” Bu, boleh saya masuk?”, terdengar suara perempuan dari luar kamar nenek, kamar-kamar di Rumah sakit tersebut hanya dikasih pintu gorden saja, jadi berisik sekali jika ada orang ngobrol di seberang atau di sebelah kanan kiri kamar pasien. Aku pura-pura tidur, memejamkan mata dan membalikkan badan membelakangi mereka, namun telingaku masih mendengar percakapan bude dan perempuan itu. ” Bu, anak gadis yang sedang tidur ini siapa bu?”, tanya perempuan itu kepada budeku.” ouh, ini keponakan saya, Laras. kenapa Dek?” Bude balik bertanya penasaran. “Hmm.. tadi ngobrol-ngobrol sama adik saya. Manis sekali yak keponakannya.” Budeku hanya tersenyum mendengar pujian perempuan itu, yang ternyata kakak tertuanya si pria bermata sayu itu. Lama kelamaan akupun mengantuk, akhirnya aku terlelap tidur dan tidak tahu lagi apa yang dibicarakan bude dan kakak tertuanya si pria tampan itu.

(To be continued)


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

susi_0683

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap