Sikap Egois & Cinta Diri Membuat Kita Sulit Mencintai Orang Lain

Sikap Egois & Cinta Diri Membuat Kita Sulit Mencintai Orang Lain 1

Salah satu ciri yang menandai manusia modern ialah sikap egoisme. Egoisme adalah sikap atau pandangan hidup yang medewakan pemenuhan kebutuhan ego dan penghargaan.  Orang yang egois selalu berpusat pada diri sendiri, mementingkan diri sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain, bahkan cenderung meniadakannya.

Dalam pandangan Kierkegaard, perilaku egoisme menyangkal hakikat cinta manusia. Sebab cinta manusia itu adalah cinta yang membutuhkan orang lain. Manusia yang egois dengan sendirinya adalah tipe manusia yang tidak menyadari keterbatasannya bahwa ia membutuhkan sesamanya.  Sebaliknya Kierkegaard menekankan bahwa Cinta manusia adalah cinta yang tidak mencari kepentingan diri sendiri, tetapi cinta yang berkorban dan penuh belaskasih.

Hakikat cinta memberi dan membutuhkan dalam diri manusia masih relevan sampai kapanpun. Di tengah dunia di mana cinta seolah-olah kehilangan kekuatannya karena ditempatkan dalam segala macam konteks, undangan untuk memahami hakikat cinta manusia kiranya terus aktual. Undangan Kierkegaard ialah agar orang tidak hanya sampai pada level pamahaman tetapi menyentuh pada tindakan nyata sehari-hari. “Setiap orang hendaknya tidak hanya mewartakan cinta, tetapi memberi terladan.”

Manusia modern cenderung memandang negatif terhadap tubuh. Belum banyak revolusi berpikir yang mengajak untuk melihat tubuh sebagai karya agung Tuhan.Pemikiran Kierkegaard tentang cinta, relevan untuk kemajuan berpikir dalam mengubah cara berpikir orang tentang tubuh. Bawasannya tubuh manusia itu suci karena diciptakan oleh Allah. Karena dalam dirinya suci, tubuh itu harus diperlakukan dengan sewajarnya dan bukan dieksploitasi untuk pemuasan kebutuhan jasmani semata. Kierkegaard menegaskan kembali tentang arti penting tubuh itu, ketika mengutip tulisan Paulus, “Tubuhmu adalah bait Roh.”

 Makna cinta manusia itu sangat mendalam. Karena itu perlu menemukan makna itu bagi hidup setiap pribadi. Untuk menemukan makna itu orang harus sampai pada relasi yang mendalam dengan Tuhan. Kierkegaard mengritik makna cinta, yang hanya menginginkan kepuasan seksual, tetapi tidak mengikat diri pada perkawinan. Cinta romantisme yang sering dialami dalam hidup harian, harus diangkat dalam derajat perkawinan. Dengan itu orang memahami apa artinya kesetiaan dan pentingnya berpegang pada pilihan.

Pandangan Kierkegaard tentang hakikat cinta manusia, tidak sepenuhnya bisa diwujudkan. Terutama mewujudkan cinta tanpa hak milik seperti yang dihidupi jemaat perdana. Mungkin, pandangan ini berlaku untuk kaum religius, tetapi tidak untuk masyarakat kebanyakan. Memiliki harta dan kekayaan itu bahkan penting untuk kelangsungan hidup, apalagi dengan sistem kapitalis yang semakin menguat. 

Pandangan sempit tentang cinta dalam dunia modern membuat cinta mengalami devaluasi makna. Cinta menjadi kehilangan makna. Kierkegaard menawarkan makna baru tentang cinta. Menurut Kierkegaard, cinta manusia memiliki makna memberi dan menerima. Cinta memberi dan menerima itu adalah hakikat cinta manusia. Hakikat cinta itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Kierkegaard menyebut teladan dan aksi nyata.

Dengan pemahaman akan cinta yang terlibat dalam tindakan nyata, Kierkegaard menyebut cinta adalah pengorbanan, tidak mencari kepentingan diri sendiri, cinta mengharapkan segala sesuatu dan murah hati adalah tindakan cinta. Cinta sejati tidak pernah lepas dari salib. Untuk menghayati cinta, orang harus melewati jalan salib, sebab jalan yang sama telah dipilih Allah untuk menunjukan cintaNya kepada kita manusia.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

kardi manfour