Sinyal Waspada Demokrasi di Balik Cover Buku Anies


Sinyal Waspada Demokrasi di Balik Cover Buku Anies 1

Buku Steven Levitski dan Danial Ziblat terbit di awal tahun 2018, alias sudah cukup lama. Walaupun terbilang agak telat,  saya baru berkesempatan membacanya di bulan Oktober 2018, sekitar sembilan bulan setelah terbit.  Jadi saya cukup yakin Anies pun sudah membaca buku tersebut sejak lama.  Dengan kata lain, pose Anies sedang membaca buku tersebut, di mana judulnya terlihat jelas, saya meyakini,  memiliki pesan tersendiri, baik untuk para pihak yang sedang bersitegang (Kodam Jaya dan FPI), maupun untuk pemerintah pusat

Bagi yang pernah membaca buku tersebut, memang bagian “empat test litmus demokrasi” untuk menguji apakah sebuah pemerintahan terpilih sedang menundukan demokrasi atau malestarikannya, sangat sering dikutip.  Walaupun sebenarnya para pakar politik dari berbagai universitas tenar lainya di Amerika juga kerab merumuskan kriteria sendiri.  Namun semuanya rerata hanya berbeda pada redaksional saja,  sementara substansinya sama.

Lepas dari soal test litmus tersebut, menurut Levitski dan Ziblat,  ada dua jenis “sikap politik” (budaya politik) yang akan membuat demokrasi tetap bertahan dengan baik, yakni “refrain” dan “tolerance“, alias sikap atau budaya “menahan diri” dan “toleransi.”  Dua sikap tersebut selalu dikedepankan oleh para elit di Amerika selama ini (sebelum Trump berkuasa),  yang membuat demokrasi tetap bisa bertahan dari berbagai goncangan politik dari waktu ke waktu.

Mengapa? Karena kedua sikap tersebut bisa membuat kedua partai di Amerika tetap berada  pada jalur ideal ideologisnya. Republik diidealisasikan mewakili kalangan “center right” (tengah kanan) dan Demokrat diidealisasikan mewakili kalangan “center left” (kiri tengah). Artinya, jika sikap atau budaya  “refrain” dan “tolerance” hilang,  maka Partai Republik akan  condong ke kanan (far right)  seperti era Donald Trump atau Demokrat akan condong ke kiri (far leftt)  jika Bernie Sander atau Elizabeth Warren masuk Gedung Putih.

Sinyal Waspada Demokrasi di Balik Cover Buku Anies 3

Nah, saya lebih cenderung menerjemahkan bahwa Anies sedang berbicara tentang dua sikap tersebut via cover buku Levitski dan Ziblat.  Faktanya, ada dua pihak yang sedang “gagal” menunjukan dua sikap di atas.  Yang satu dianggap gagal menunjukan sikap “toleransi” dan yang satu lagi gagal menunjukan sikap “menahan diri”. Tapi lucunya,  yang bersitegang dan  gagal menunjukan kedua sikap tersebut justru sama-sama berada pada posisi ekstrim kanan secara ideologis.  Walhasil,  yang dicandra berada di kiri sekuler akan ketawa sambil asyik minum kopi,  mungkin mirip Putin dan Xi yang terbahak saat Donald Trump berkuasa.

Melalui cover buku yang ditonjolkn secara jelas itu, Anies seolah ingin mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang sedang bersitegang berpeluang membuat “Democracy Dies” di Indonesia. Lihat saja, aksi dan reaksi antara HRS/FPI dan Kodam Jaya langsung membelah dukungan publik, baik di level grassroot maupun di level elit. Para pihak yang selama ini memang tak berada dalam barisan HRS langsung memberikan apresiasi atas Tindakan Kodam Jaya, termasuk Panglima TNI yang mengafirmasi dengan cerita “Arab Spring” yang sejatinya kurang kontekstual dengan Indonesia dan Polda Metro Jaya yang baru saja dilantik

Sementara di sisi sebaliknya merasa bahwa Kodam Jaya telah melewati garis merah demokrasi. Tokoh seperti Fadli Zon, Refly Harun, dan Fahri Hamzah, mengkhawatirkan kembalinya militer ke panggung politik, tanpa sadar bahwa agresifitas HRS juga berpeluang menjerumuskan Indonesia keluar dari garis batas demokrasi. Walaupun secara prosedural, tentu Kodam Jaya tak berwenang dalam urusan spanduk dan baliho di Jakarta, bahkan terkesan Kodam Jaya sedang melakukan “self embarrassment” (mempermalukan diri sendiri)  atas institusi Kodam Jaya sendiri dengan mengotori “prestise” militer dengan noda politik recehan.

Sinyal Waspada Demokrasi di Balik Cover Buku Anies 4

Dalam konstelasi inilah, saya mengira,  Anies memosisikan cover bukunya. Apapun pembenaran kedua belah pihak dan para pendukungnya, keduanya sama-sama sedang membawa Indonesia ke jurang perpecahan yang sangat kontraproduktif untuk demokrasi. Kedua pihak sama-sama “gagal” mempertunjukan dua sikap demokrat sebagaimana yang ditulis oleh Levitski dan Ziblat. FPI terlalu larut dalam euphoria kepulangan HRS, yang berimbas kepada kemunculan “keramaian dadakan” di beberapa kali pertemuan, yang tidak saja melanggar protokol kesehatan, tapi juga memunculkan keberanian masa untuk mengeluarkan ujaran-ujaran kecencian terhadap pemerintah dan koalisi-koalisi pemerintahan.

Sementara Kodam Jaya juga terjebak dalam euphoria sebaliknya (anti) dengan level dan kualitas yang tak kalah bahayanya dibanding FPI dan HRS. Keputusan Kodam Jaya untuk terlibat secara aktif dalam urusan teknis masyarakat sipil dan urusan teknis politik, mengaktifkan kembali ingatan publik pada sepak terjang ABRI di era Orde Baru. Demokrasi tak akan menyimpan banyak harapan lagi jika para “men behind the gun” turun gunung dan menduduki arena politik sembari berusaha untuk mendominasi narasi di ruang publik. Tak ada keraguan sedikitpun, jika itu sampai terjadi dan berlajut, maka Demokrasi akan selesai di Indonesia.

Jadi, dalam kontek ini, kita tidak saja bisa menafsirkan cover buku yang dipegang Anies sebagai pesan dan peringatan, tapi juga sebagai ekspresi ketakutan dari seorang kepala daerah, seorang gubernur, yang dipilih secara demokratis. Anies adalah pihak pertama yang merasa dilecehkan oleh aksi kedua pihak di Jakarta, di mana wewenangnya sebagai pemimpin terpilih, dianggap tidak ada. Keputusan FPI dan HRS untuk mengadakan keramaian di tengah larangan yang berkali-kali disampaikan Anies adalah bentuk pelecehan terhadap kantor gubernur DKI Jakarta.

Sinyal Waspada Demokrasi di Balik Cover Buku Anies 5

Dan aksi koboi Kodam Jaya yang dengan arogan ingin membubarkan FPI serta menurunkan semua spanduk yang terkait dengannya, adalah juga penyerobotan atas wewenang pemerintahan sipil (Kementerian Hukum dan Ham) dan wewenang pemerintahan DKI Jakarta. Walhasil, dengan sisipan bahaya yang terkandung dari aksi dan reaksi kedua pihak, sangat wajar jika Anies merasa cukup khawatir yang digambarkan oleh sebuah cover buku berbunyi “How Democracies Die”. Pasalnya, konteks politik praktis menghalangi Anies untuk berbicara secara gamblang. Anies tidak boleh berada di salah satu pihak secara jelas, karena keduanya memang telah menerabas dua sikap demokratis yang akan menambah perpecahan di Jakarta.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Ronny P Sasmita

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments