Sistem Luring yang Didaringkan


Sistem Luring yang Didaringkan 1

COVID-19 membawa dampak yang buruk dan cukup besar bagi seluruh masyarakat Indonesia. Tidak memandang baik itu pekerja, pejabat, kelas atas, atau kelas bawah, sekalipun siswa pun terkena dampaknya. Di saat ini pula, bukan hanya orang miskin yang tidak bisa makan melainkan orang kaya pun sulit untuk makan karena tidak ada yang bisa dibeli.

Di dunia pendidikan, dampak dari virus ini sangat nampak dan terasa. Pada awalnya sekolah terpaksa diliburkan, hingga akhirnya sekolah harus dilaksanakan secara daring untuk mencegah kerumunan di sekolah yang berpotensi menjadi klaster penyebaran baru virus mematikan ini. Dengan begitu, tentu sekolah harus dilaksanakan dengan sistem yang jauh berbeda dengan sistem yang biasa dilakukan.

Ini mungkin hanya mengungkapkan keresahan sebagian pelajar termasuk saya. Di beberapa sekolah termasuk sekolah saya, pembelajaran memang dilakukan seperti daring. Hanya saja berkesan memaksa, memasukkan sistem luring pada sistem daring. Jadi, waktu tetap dilaksanakan pagi hari, terjadwal untuk setiap orang, dan jadwalnya sama sekalipun keadaan setiap orang berbeda. Selain itu, kondisi koneksi jaringan yang berubah-ubah juga menjadi kendala yang sangat mengganggu.

Jika diibaratkan, saya bisa menganalogikan ini seperti sebuah perjalanan. Sebuah bus melaju di jalan, lalu tiba-tiba jalan tertutup longsor. Pilihannya ada beberapa yang aman. Diantaranya: menunggu hingga jalan selesai diperbaiki, menumpang kendaraan yang kompatibel dengan medan longsor seperti motor trail atau mobil jip, atau berjalan kaki. Tentu ini juga memiliki catatan: seluruh penumpang bus akan sampai ke tujuan terlambat dari jadwal yang ditentukan.

Namun, apa yang terjadi? Justru seluruh penumpang turun dari bus, bus tersebut dipaksakan berjalan tapi seluruh penumpang berjalan di belakangnya mengikuti bus tersebut. Berbahaya, memang, tapi itu yang dilaksanakan sekarang.

Kita melaksanakan sistem yang hanya kompatibel jika kita berada dalam ruang kelas yang sama, tapi dipaksakan di tempat yang ruangannya saja berbeda, seperti penumpang yang sudah berada di luar bus namun tetap berjalan mengikuti bus. Dan saat bus berjalan itu, tentu setiap orang juga memiliki kekuatan yang berbeda saat berjalan kaki. Apa artinya? Kondisi setiap siswa yang berbeda namun tetap terpaksa mengikuti sistem yang digunakan oleh sekolah.

Sistem Luring yang Didaringkan 3

Memang seharusnya siswa diberi opsi: menunggu selesai pandeminya, mengikuti pembelajaran yang lebih cocok di keadaan seperti ini, atau belajar sendiri. Catatannya, tentu kita tidak akan bisa mengejar materi tepat waktu karena jalannya terganggu. Tapi memaksakan keadaan atau sistem justru bisa berdampak yang sama buruknya atau bahkan lebih buruk.

Jika keadaannya seperti ini, maka jangan heran siswa bosan di rumah karena pembelajarannya begitu-begitu saja. Siswa juga kasihan jika diberi tugas terus menerus. Sudah bosan di rumah tak bisa pergi kemanapun, dihajar tugas yang terus menghujan, dan ditambah keadaan rumah yang belum tentu baik-baik saja. Bisa jadi jaringannya rebutan dengan adik-adiknya yang juga belajar daring. Bisa jadi siswa sedang tidak damai dengan keluarganya, tentu ini sangat menyiksa. Hanya saja, saya tidak tahu apakah sekolah berpikir kesana.

Sistem Luring yang Didaringkan 4

Kesimpulannya, ketika situasinya berubah, tentu sistemnya juga perlu diubah. Tidak ada sistem terbaik, paling bagus, atau paling sesuai. Sama seperti mobil sedan yang hanya cocok di jalan kota tapi lemah di jalan batu. Begitu juga mobil jip yang akan tidak terasa nyaman di jalan kota.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

EnamDelapan

   

Sukses hanyalah tentang seberapa beruntung kita. Tuhanlah yang menentukan keberuntungan itu, kita hanya bisa berdoa dan berusaha.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments