Sri Wijaya Berjaya Ketika Beribukota DI Jawa

Sri Wijaya Berjaya Ketika Beribukota DI Jawa 1

MUNCUL teori bahwa pusat pemerintahan Sriwijaya berpindah dari Palembang (Sumatera) ke Medang (Jawa). Teori pertama menyatakan bahwa perpindahan ibukota Sriwijaya ke Medang sejak pemerintahan Rakai Panangkaran Dyah Pancapana. Teori kedua menyebutkan bahwa perpindahan ibukota Sriwijaya ke Medang pada saat pemerintahan Rakai Panunggalan Dyah Dharanindra (Sri Sanggrama Dhananjaya).

Bila dianalisa secara cermat, teori pertama yang menyatakan bahwa ibukota Sriwiaya berpindah di Medang sejak pemerintahan Rakai Panangkaran Dyah Pancapana memiliki kelemahan. Memang Rakai Panangkaran, sebagian sejarawan menyatakan sebagai keturunan Sailendra. Namun Rakai Panangkaran bukan raja Sriwijaya. Mengingat semasa pemerintahannya, Sriwijaya masih di bawah kendali Rudra Vikraman.

Sementara teori kedua menyatakan bahwa ibukota Sriwijaya berpindah di Jawa di masa pemerintahan Rakai Panunggalan Dyah Dharanindra bisa dibenarkan. Mengingat Dharanindra yang disebut sebagai Wairiwarawiramardana (penumpas musuh-musuh perwira) berhasil menaklukkan Raja Wisnu yang diperkirakan sebagai raja Sriwijaya. Maka sejak Sriwijaya jatuh di tangan Dharanindra, pusat pemerintahan tersebut berada di Jawa. Dengan demikian, Sriwijaya sebagai bawahan Medang.

Membahas mengenai perpindahan pusat pemerintahan Sriwijaya dari Palembanga ke Jawa sangat menarik. Namun sebelum membahasnya, terlebih dahulu kita tilik sejenak tentang siapakah Rakai Panunggalan Dyah Dharanindra dan Rakai Panangkaran Dyah Pancapana yang sering dirancukan.

Antara Rakai Panunggalan dan Rakai Panangkaran

Berdasarkan prasasti Mantyasih, Rakai Panangkaran dicatat sebagai raja Medang kedua paska pemerintahan Ratu Sanjaya. Prasasti tersebut pula menjelaskan bahwa Rakai Panangkaran diminta oleh Guru Raja Sailendra untuk membangun Candi Kalasan pada tahun 778.

Teori van Naerrsen menyebutkan bahwa Rakai Panangkaran merupakan anggota Wangsa Sanjaya yang menjadi bawahan raja Sailendra. Nama raja Sailendra tersebut kemudian diketahui melalui prasasti Kelurak (782) sebagai Dharanindra. Pengertian lain, Dharanindra adalah atasan Rakai Panangkaran.

Namun teori van Naerrsen tersebut ditolak oleh Marwati Pusponegoro dan Nugroho Notosutanto. Kedua sejarawan tersebut menyatakan bahwa Rakai Panangkaran merupakan bawahan Wangsa Sailendra, karena ia dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka (permata Wangsa Sailendra) dalam prasasti Kalasan (778). Dengan demikian, Guru Raja Sailendra yang dimaksud adalah para guru Rakai Panangkaran. Dikarenakan, pengerluaran prasasti Kalasan dan prasasti Kelurak hanya berselisih empat tahun, maka diperkirakan bahwa kedua prasasti tersebut dikeluarkan dari raja yang sama. Artinya, Dharanindra identik dengan Rakai Panangkaran.

Menurut Slamet Muljana, Rakai Panangkaran bukan putra Sanjaya. Keduanya berasal dari dua dinasti yang berbeda. Rakai Panangkaran adalah anggota Wangsa Sailendra yang berhasil merebut tahta Medang dan mengalahkan Wangsa Sanjaya. Jika ia hanya menjadi raja bawahan, maka tidak mungkin bergelar maharaja yang dipuji sebagai Sailendrawangsatilaka.

Sedangkan, prasasti Kalasan menyebutkan bahwa nama asli Rakai Panangkaran adalah Dyah Pancapana. Dengan demikian, Dyah Pancapana tidak sama dengan Dyah Dharanindra. Pengertian lain, Dyah Dharanindra merupakan raja pengganti Dyah Pancapana.

Pernyataan prasasti Kalasan tersebut diperkuat oleh prasasti Mantyasih yang menyebutkan bahwa nama raja Medang sesudah Rakai Panangkaran adalah Rakai Panunggalan. Karenanya teori Slamet Muljana yang menyatakan bahwa nama asli Dharanindra adalah Rakai Panunggalan dapat dibernarkan.

Rakai Panunggalan, Penumpas Musuh-Musuh Perwira

Pada prasasti Kalurak (782), nama Dharanindra ditemukan. Pada prasasti tersebut disebutkan bahwa Dharanindra dipuji sebagai Wairiwarawiramardana (penumpas musuh-musuh perwira). Suatu julukan yang mirip pada prasasti Nalanda yakni Wirawairimathana serta prasasti Ligor B yakni Sarwwarimadawimathana.

Sejarawan Slamet Muljana menganggap julukan Wairiwarawiramardana, Wirawairimathana, dan Sarwwarimadawimathana tersebut merupakan sebutan untuk orang yang sama, yakni Dharanindra. Pada prasasti Nalanda, Wirawairimathana memiliki putra bernama Samaragrawira (ayah dari Balaputradewa, raja Sriwijaya). Pengertian lain, Balaputradewa merupakan cucu Dharanindra.

Prasasti Ligor B yang memuat julukan Sarwwarimadawimathana, menurut George Cœdès, dikeluarkan oleh Maharaja Wisnu (raja Sriwijaya). Prasasti tersebut dianggap lanjutan dari prasasti Ligor A yang berangka tahun 775. Berkaitan dengan hal ini, Slamet Muljana berpendapat bahwa hanya prasasti A yang ditulis pada tahun 775. Sedangkan prasasti B ditulis sesudah Sriwijaya jatuh ke tangan Wangsa Sailendra.

Alasan Slamet Muljana yakni adanya perbedaan tata bahasa antara prasasti Ligor A dan prasasti Ligor B. Sehingga kedua prasasti tersebut menurutnya ditulis dalam waktu tidak bersamaan. Muljana kemudian memadukannya dengan berita dalam prasasti Po Ngar. Prasasti tersebut menyebutkan bahwa Jawa pernah menjajah Kamboja (Chen-la) sampai tahun 802. Selain itu, Jawa juga pernah menyerang Campa pada tahun 787.

Dengan demikian, Slamet Muljana menyimpulkan bahwsa Dharanindra sebagai raja Jawa yang berhasil menaklukkan Sriwijaya, termasuk daerah bawahannya yakni Semenanjung Malaya (Ligor). Selain itu, Slamet Muljana pula menuturkan bahwa prasasti Ligor B sebagai pertanda bahwa Wangsa Sailendra telah berkuasa atas Sriwijaya. Prasasti tersebut pula berisi puji-pujian untuk Dharanindra sebagai penjelmaan Wisnu. Oleh Dharanindra, Daerah Ligor dijadikan sebagai pangkalan militer untuk menyerang Campa (787) serta Kamboja. Penaklukan terhadap Sriwijaya, Ligor, Campa, dan Kamboja selaras dengan julukan Dharanindra sebagai “penumpas musuh-musuh perwira”.

Dari penjelasan Slamet Muljana tersebut bisa disimpulkan bahwa raja Wisnu yang disebut oleh sebagian sejarawan sebagai raja Sriwijaya adalah Dharanindra. Mengingat arti nama Wisnu dan Dharanindra menurutnya sama-sama bermakna “pelindung jagad”.

Catatan Penting

Berpijak pada uraian di muka bisa disimpulkan bahwa perpindahan ibukota Sriwijaya dari Palembang ke Jawa dikarenakan Dharanindra berhasil menaklukkan Sriwijaya. Dengan demikian, pusat pemerintahan Sriwijaya secara otomatis tidak di Palembang, melainkan di Medang. Sementara, raja Sriwijaya menjadi raja bawahan Dharanindra.

Persoalan yang muncul siapakah raja Sriwijaya tersebut? Apakah sewaktu Dharanindra melakukan penyerangan terhadap Sriwijaya, apakah raja Sriwijaya selamat atau tewas? Kedua pertanyaan belum mendapatkan jawaban yang pasti sampai sekarang. Mengingat tidak ada sumber sejarah terpercaya yang dapat menjelaskan hal tersebut.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.