Status “Janda”, Apakah Cacat Sosial?

Status “Janda”, Apakah Cacat Sosial? 1

“Janda”. Mendengar sebutan ini, apa yang sebenarnya terlintas di benak Anda? Jika ditanya, apa pendapat Anda tentang sebutan ini? Penggoda, genit, perusak rumah tangga orang, perempuan murahan, buangan laki-laki dan stigma negatif lainnya tentang “Janda”. Sepintas, itulah makna yang identik dengan kata “Janda” yang dialamatkan pada kaum perempuan yang mengemban status sebagai seorang “Janda”.

Sebutan ini tak urung menjadi “momok” bagi sebagian perempuan yang mengemban status “Janda”. Bagaimana tidak? Dengan stigma negatif yang lebih mendominasi itulah, membuat hampir sebagian besar perempuan berstatus Janda terdiskriminasi dan kurang mendapat tempat yang layak di mata kaum Pria termasuk keluarganya. Banyak dari pihak keluarga laki-laki yang tak segan untuk menolak anak laki-laki, saudara atau keluarganya untuk menikahi seorang perempuan yang telah berstatus “Janda”. Dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya.

Dunia yang telah memasuki abad ke-21 dengan kemajuan pesat hampir di semua bidang ilmu saat ini, tidak pelak membuat sebagian dari kita mempunyai wawasan dan pola pikir meluas atau dengan sebutan kerennya open-minded tentang sesuatu hal. Apalagi ditambah dengan sebagian besar Masyarakat di Indonesia yang masih menganut budaya “Patriarki”, yang di mana kaum laki-laki lebih memiliki hak istimewa di lingkungan keluarga maupun sosialnya dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibanding perempuan. Hal ini tentu berpengaruh dalam kehidupan bersosial kita, khususnya peran dan status sosial perempuan di dalam Masyarakat dari waktu ke waktu. Termasuk di dalamnya status “Duda” yang pada realitasnya lebih memiliki stigma positif dibanding status Janda.

Tahukah Anda? Banyak hal yang mengakibatkan seorang perempuan akhirnya terpaksa  memutuskan untuk menjadi seorang Janda. Dari mulai yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, ditinggal meninggal oleh suaminya, ditinggal begitu saja oleh suaminya, bahkan hamil di luar nikah dan tidak mendapat tanggung jawab yang seharusnya diperoleh dan ada pula Istri yang terpaksa menjadi kepala keluarga demi menghidupi keluarganya karena suaminya yang sakit atau bahkan suami yg tak memiliki pekerjaan, di mana kasus-kasus di atas kemudian menjadikan hal ini sebagai suatu alasan untuk akhirnya perceraian atau perpisahan menjadi pilihan terbaik.

Terjadinya perceraian atau perpisahan itulah yang membentuk status sosial yang kita kenal dengan sebutan Janda dan Duda. Terminologi Janda atau Duda sebenarnya mengacu pada arti yang serupa yaitu orang yang tidak bersuami atau beristri lagi, karena bercerai atau ditinggal mati oleh suami atau istrinya. Kendati demikian, di dalam realitasnya, status Duda lebih bernilai positif dibanding status Janda. Hal ini bukan sebab dari kata ini sendiri (Janda/Duda) melainkan stigma bahwa perempuan adalah makhluk lemah dan kurang memiliki kemampuan sehingga ketika Ia memilih untuk bercerai atau berpisah dari suaminya maka tidak lagi memiliki pegangan ekonomi yang di mana menopangnya untuk melanjutkan hidupnya. Berbeda dengan status Duda, di mana laki-laki lebih dianggap punya kemampuan untuk bekerja dan menghasilkan uang, sehingga tidak menjadi masalah yang serius ketika status Duda melekat padanya.

Namun, berbeda dengan kenyataan yang kita dapati sekarang. Banyak perempuan di luar sana yang berstatus Janda, berjuang seorang diri demi menghidupi keluarganya. Banyak pula yang sudah membuktikan bahwa statusnya sebagai seorang Janda, tidak menghalanginya untuk menjadi seorang Ibu yang sukses mendidik anaknya, bahkan memiliki prestasi dikarier yang Ia tekuni. Di jaman yang sudah modern seperti saat ini, ditambah lagi dengan emansipasi wanita yang diikuti dengan kesetaraan gender, sudah seharusnya kata “Janda” tidak lagi memiliki konotasi yang negatif di Masyarakat kita. Sebab, peranan seorang perempuan yang berstatus “Janda”, setara dengan seorang laki-laki yang berstatus “Duda”.

Lalu, masih adakah alasan kita untuk berpegangan pada stigma “lama” dengan konotasi negatif tentang status Janda?

Saya percaya, bahwasannya kaum muda di era modern seperti saat ini, sudah mempunyai pandangan yang luas dan wawasan yang jauh lebih terbuka dari sebelumnya, sehingga mampu mematahkan konotasi negatif terhadap status “Janda” dari waktu ke waktu. Sudah sewajarnya kita untuk berpikir lebih positif, mempunyai perspektif yang luas dari berbagai arah tentang sesuatu hal, sehingga proses kita menyaring informasi apapun itu akan lebih sempurna dan jernih. Tentu sikap seperti ini akan memberi dampak positif ketika kita dihadapkan dengan suatu kondisi bahkan isu apapun yang beredar di dalam masyarakat kita.

Apa pendapat Anda tentang hal ini? Aku tunggu pendapatmu di kolom komentar yah guys…!

 

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Keytimu_12'March