Stereotip Masyarakat yang Keliru mengenai Gangguan Mental

Stereotip Masyarakat yang Keliru mengenai Gangguan Mental

Masyarakat Indonesia masih sering menyebut penderita sebagai orang gila atau sakit jiwa. Penderita juga sering mendapat perlakuan buruk, bahkan dalam beberapa kasus mereka sampai dipasung. Padahal, penderita harusnya dibawa ke rumah sakit untuk mendapat penanganan yang seharusnya. Hal ini disebabakan karena rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai .

Penderita gangguan mental sering disebut orang gila atau sakit jiwa
Penderita sering disebut orang gila atau sakit jiwa

merupakan penyakit yang memengaruhi emosi, pola pikir, dan perilaku penderitanya. Penyebab masih belum diketahui secara pasti hingga saat ini. Namun, berbagai riset menunjukkan bahwa banyak kondisi yang disebabkan oleh kombinasi dari beberapa faktor.

Pertama faktor biologis, bisa disebabkan oleh gangguan fungsi otak akibat genetik, infeksi, cedera kepala, atau gangguan nutrisi. Kedua faktor psikologis, bisa disebabkan oleh trauma akan sesuatu, rasa kehilangan mendalam khususnya ketika masih anak-anak, ditelantarkan, dan kesulitan berhubungan dengan orang lain. Terakhir faktor lingkungan, gangguan metal bisa disebabkan oleh perceraian atau kematian, kehidupan keluarga yang berantakan, pergantian tempat kerja atau sekolah, ekspektasi sosial, hingga kekerasan yang didapat dari lingkungan.

Di samping itu, beberapa orang dengan kondisi tertentu memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengembangkan gangguan jiwa. Sejumlah resiko yang dapat menjadi penyebab gangguan jiwa adalah faktor genetik dan riwayat kesehatan jiwa keluarga, keadaan janin pada ibu hamil yang terpapar virus atau bahan kimia beracun, penyalahgunaan alkohol atau narkoba, dan memiliki kondisi medis serius seperti kanker.

Baca juga  Insecure: Tanda Gangguan Mental Atau Hanya Gejala Kawula Muda Kekinian?

Kemudian karena pengetahuan yang rendah mengenai hal-hal tersebut sehingga memunculkan stereotip yang cenderung keliru di kalangan masyarakat namun stereotip tersebut masih saja dipercaya dan membuat penderita gangguan mental merasa tidak nyaman bahkan merasa tersisih dari masyarakat. Berikut stereotip-stereotip keliru yang masih dipercayai masyarakat tentang orang yang menderita gangguan mental.

Yang pertama, orang-orang beranggapan jika penderita gangguan mental biasanya jauh dari agama dan Tuhan. Masyarakat masih sering mengaitkan gangguan mental dengan agama padahal dua hal ini memiliki konteks yang berbeda. Hanya karena mereka menderita gangguan mental bukan berarti mereka tidak taat kepada agama dan jauh dari Tuhan. Daripada menyalahkan dan memojokkan mereka, lebih baik kita merangkul mereka dan memberi mereka semangat untuk sembuh dari penyakitnya.

Yang kedua, orang-orang beranggapan jika penderita gangguan mental cenderung baperan. Miris mengetahui jika orang-orang masih menganggap penderita gangguan mental adalah orang yang baperan. Tidak sedikit pada akhirnya penderita gangguan mental mendapat perundungan, padahal penyakit yang mereka derita tidak sesederhana baperan. Dengan mendapat perundungan, gangguan mental yang dialami seseorang akan bertambah parah dan kemudian akan mengarahkan orang tersebut untuk bunuh diri.

Baca juga  Cara Mengatasi Intermittent Explosive Disorder, Perlu Diketahui Oleh Penderita

Yang ketiga, orang-orang beranggapan jika penderita gangguan mental adalah orang gila atau tidak waras. Jika seseorang mengalami gangguan mental bukan berarti mereka orang gila. Masyarakat sering menganggap enteng masalah kesehatan mental. Dan jika seseorang mengalami gangguan mental bukannya didukung untuk sembuh, malah dikatai gila dan parahnya ada yang sampai dipasung. Orang yang mengalami gangguan mental seharusnya mendapat pengobatan dari tenaga kesehatan seperti psikolog atau psikiater. Dan karena stereotip tidak benar ini, orang-orang yang memiliki gangguan mental merasa semakin pesimis untuk sembuh.

Yang keempat, segelintir menganggap jika orang yang mengalami gangguan mental itu keren. Hal ini dikarenakan penderita gangguan mental berbeda dengan orang normal pada umumnya. Dan mirisnya malah dijadikan bahan guarauan karena anggapan bahwa gangguan mental bukanlah masalah yang serius dan pada akhirnya akan menyakiti perasaan seseorang yang mengalami gangguan mental. Rendahnya pengetahuan tentang kesehatan mental di masyarakat memang membuat pengidapnya selalu merasa tersisihkan.

Yang terakhir, orang-orang beranggapan jika penderita gangguan mental biasanya disebabkan oleh gagalnya tujuan hidup. Anggapan ini didasari dengan fenomena beberapa orang yang sukses dan pintar tapi mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Orang-orang menganggap alasan bunuh diri orang-orang sukses tersebut adalah gangguan mental. Padahal anggapan tersebut sangatlah keliru dan salah, alasan bunuh diri tidak selalu karena gangguan mental. Jadi penyakit mental ini bisa hadir pada siapa saja entah orang itu sukses atau tidak.

Baca juga  Bahaya Glorifikasi Mental Illness

Penderita gangguan mental yang mendapatkan stigma dan diskriminasi dari masyarakat akan mengalami kondisi yang semakin buruk. Banyak dari mereka yang enggan mencari bantuan ataupun pengobatan lebih lanjut karena merasa malu atas perlakuan tidak wajar dari orang-orang di sekitarnya bahkan keluarganya sendiri. Mereka merasa tidak memiliki kerabat dekat yang mengerti terhadap sesuatu yang dialaminya sehingga mereka lebih memilih untuk terus memendam perasaannya. Parahnya lagi, tidak sedikit penderita gangguan mental yang akan melakukan kekerasan fisik hingga percobaan bunuh diri.

Oleh sebab itu disinilah pentingnya untuk mengkaji ulang karena semua anggapan yang beredar di masyarakat tidak selalu benar. Terlepas dari itu semua, gangguan mental bukanlah aib yang memalukan. Diperlukan pengetahuan tentang pentingnya kesehatan mental sehingga stigma dan diskriminasi bisa berkurang dan orang-orang dapat lebih menghargai orang-orang yang mengalami gangguan mental. Orang-orang yang mengalami gangguan mental harusnya dirangkul dan didukung agar mereka lebih semangat dalam menjalani hidup bukannya malah disisihkan.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Nasyidah Rukhaniyah