Strategi Menjaga Eksistensi Biro Haji, Umroh dan Wisata Religi di Tengah Pendemi Covid-19


Strategi Menjaga Eksistensi Biro Haji, Umroh dan Wisata Religi di Tengah Pendemi Covid-19

-19 merupakan sebuah virus yang saat ini sedang menyerang hampir seluruh Negara di dunia. Hampir seluruh sektor kehidupan mendapati dampak virus ini, sektor ekonomi, sosial, budaya, keagamaan, dan lainnya. Salah satunya pada sektor keagamaan dalam kegiatan perjalan , umroh, dan . Seperti yang terjadi saat ini di Nusa Tenggara Barat yang memiliki jumlah penduduk 3,4 juta dan 90% jiwa beragama Islam, wajar saja jika NTB kususnya di pulau Lombok dijuluki pulau seribu masjid.

Dilihat dari tahun-tahun sebelumnya pra pendemi -19, NTB menjadi daerah yang sangat strategis jika di jadikan menjadi usaha untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. selain mengikuti prosedur dalam UU Nomor 8 tahun 2019, hal ini di dukung oleh kondisi sosial, budaya, dan jumlah penduduk di NTB yang hampir semua mengutamakan dalam hal keagamaan. Apalagi di pulau Lombok yang saat ini menjadi destinasi wisata dalam lingkup nasional bahkan internasional.

Jika peluang ini benar-benar di kembangkan oleh masyarakat NTB tentu akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat, karena yang pertama adalah dapat mengurangi tingkat pengangguran bahkan mengurangi tingkat kriminalitas di NTB.

Dalam persoalan dan Umroh yang telah di tetapkan mekanisme dalam UU, para pelaku usaha ini hanya perlu mengembangkan dalam ranah manajemen pelayanannya agar konsumennya merasa tertarik, aman, dan nyaman, jika konsumen sudah merasakan kenyamanan maka bisa saja mereka yang akan menjadi media pemasaran usaha ini. Kemudian dalam ranah , kita sering salah artikan bahwa ini, wisatawan harus agamis, menggunakan pakaian yang menutup aurat dan sebagainya, ada beberapa kriteria yang perlu diketahui:

  • Pemenuhan kebutuhan dari wisatawan muslim
  • Ketersediaan makanan dan minuman halal
  • Kemudahan fasilitas bersuci dan beribadah

Sarana, fasilitas, dan pelayanan tidak bertentangan dengan norma-norma kesusilaan dan nilai syariah

Jadi semua tempat dapat dijadikan, dimodifikasi menjadi tempat dengan tetap memenuhi beberapa kriteria di atas, semisal musholah, tempat wudhu, kamar mandi, dan lainnya.

Disisi lain, tantangan pertama yang harus dipikirkan oleh pelaku usaha biro dan umroh maupun adalah dalam sektor pelayanan. Pelayanan yang harus dilakukan adalah memberikan rasa aman dan nyaman kepada konsumen sehingga akan menimbulkan sebuah kepercayaan.

Apalagi ditengah -19 saat ini menjadi tantangan terbesar bagi para pelaku usaha perjalanan . Sebagai pelaku usaha harus memutar otak agar konsumen tetap merasa nyaman walaupun belum bisa melaksanakan dan umroh saat ini, begitupun dengan tempat-tempat wisata yang telah menerapkan .

Sehingga ada beberapa langkah strategis yang dapat dilaksanakan untuk tetap menjaga usaha kita ditengah pendemi ini:

Dari segi perjalanan dan umroh, travel dan umroh dapat beradaptasi dengan kondisi saat ini, agar tetap mendapati kepercayaan dari konsumen, salah satunya adalah dapat melaksanakan kegiatan berbasis media sosial: webinar terkait pelaksanaan dan umroh, membuat silaturahmi online untuk konsumen atau kegiatan-kegiatan sejenisnya, dengan begitu konsumen akan tetap merasa nyaman dan bahagia karena ditengah pendemi usaha travel kita tetap memperhatikan mereka.

Untuk , dikarenakan masyarakat masih disarankan untuk tidak bepergian dan melaksanakan kegiatan dirumah. Sehingga yang harus dilakukan oleh pelaku adalah meningkatkan pemasran melalui media. Apalagi dizaman modern dan semua aktifitas dari rumah maka tinggat penggunaan media sosial akan semakin banyak. Jika para pelaku usaha menggunakan media untuk tetap melakuan promosi wisatanya walaupun belum ada pengunjung, namun dengan hal tersebut dapat meningatkan keinginan masyarakat untuk berkunjung kesana setelah pendemi -19 selesai.

Hal-hal tersebut yang perlu dilaksanakan untuk menjaga konsumen agar tetap percaya pada usaha perjalan wisata religi yang kita miliki.

Baca Juga

Exit mobile version