Suara Guru dari Hati yang Terdalam


Suara Guru dari Hati yang Terdalam 1

Membuka laman facebook, betapa saya dikejutkan dengan satu video yang diupload salah seorang pemilik akun yang berinisial AMR. Video berdurasi pendek tersebut memuat sebuah perilaku beberapa murid yang tak seharusnya mereka lakukan. Mereka dengan santai merokok di dalam kelas di saat guru menjelaskan materi pelajaran. Dengan pongah mereka keluar masuk kelas, bergurau, sambil mengepulkan asap rokoknya, dan tidak sedikitpun menghargai gurunya yang berada di depan mereka.

Kenyataan semacam itu pada sebenarnya banyak kita jumpai di media sosial. Bahkan beberapa bulan yang lalu sempat viral adegan seorang murid sok jagoan menantang (duel) gurunya. Dan masih segar di ingatan, seorang guru melayang nyawanya di tangan muridnya sendiri. Ironisnya, semua terjadi di negeri yang “konon” menjunjung tinggi nilai-nilai budi luhur.

***

Anak-anakku, murid-muridku…!

Ratusan tahun lalu, Imam Ali berkata, “Sungguh aku adalah budak sahaya bagi guruku. Seandainya guruku memintaku seribu dirham emas untuk satu huruf saja, pasti akan aku bayar…” Namun tidak anakku, aku tidak memintamu membayar uang emas semelimpah itu. Apalagi uang sebanyak itu, bahkan sepeserpun aku tidak memintanya. Aku tidak ingin menjual berjuta-juta huruf yang aku ajarkan padamu. Tidak. Di kelas aku tidak sedang bertransaksi. Tidak sedang berniaga. Apa artinya harta, jika aku melihat kalian memegang dan memeluk mesra medali dan tropi saja sudah membuatku bangga?

Harga yang perlu kau bayar untuk gurumu hanya “menghargai”. Ya, menghargai bahwa aku gurumu, dan engkau muridku. Aku punya hak dan kewajiban, dan kamupun juga punya hak dan kewajiban yang perlu aku tunaikan. Hanya itu. Itu saja. Sebab, ketika engkau tahu akan hal ini, maka kita saling mengerti. Saling memahami.

Murid-muridku, anak-anakku…!

Di sekolah engkau adalah anak-anakku. Buah hatiku yang perlu aku jaga, perlu aku sayangi dan aku kasihi. Meskipun engkau tidak aku lahirkan dari dalam rahimku. Namun, engkau adalah anak yang aku lahirkan dari dalam hatiku. Sebab, menuntunmu ke jalan terang adalah tanggung jawab moril bagiku.

Namun, betapa renyuh hati ini ketika dengan cinta aku ajarkan padamu, malah engkau membalikkan badan dan membentakku. Dengan cinta pula waktu bersama dengan keluarga aku taruhkan demi dan untukmu. Akan tetapi, betapa aku mengelus dada ketika engkau melawan dan menghantamku dengan ujaran-ujaran yang tak pantas. Malah ada di antara kamu dengan tanpa belas kasihan melaporkan aku seperti layaknya maling ayam yang ketangkap basah.  Betapa retak hati ini ketika aku melapangkan jalanmu, namun di saat yang sama engkau mencoreng namaku dengan perbuatan jahilmu.

Dengarkan, duhai anakku. Dengarkan baik-baik. Hukum alam ini lazim terjadi. Di manapun tempatnya, di daerah manapun. Hukum ini umum terjadi, yaitu di saat engkau berprestasi, yang menikmati hasilnya engkau sendiri dan orang-orang rumahmu. Lalu lantang kau dengar, “Anak siapa ini, dan siapa orang tuanya…?” bukan siapa gurunya… Kalimat tersebut tentu bikin kamu dan keluargamu bangga. Namun sebaliknya, tatkala engkau bikin onar, maka “Siapa gurunya dan sekolah di mana…?” suara yang sering tersebar. Begitulah adanya.

Anak-anakku, anak didikku…!

Mohon untuk dimengerti. Sekali lagi,  bahasa yang gurumu lontarkan setiap hari di depanmu adalah bahasa cinta. Dengan cinta itu pula maka aku ajarkan dirimu, mendisiplinkanmu,  meski sering kau anggap kelewat batas dan tak manusiawi.

Kamu tahu akan kisah Nabiyullah Musa (alaihis-salam)? Ketika beliau meminta klarifikasi di hadapan Allah, mengapa sebagian manusia ditempatkan di surga dengan fasilitas mewah di sana dan sebagian lainnya disiksa di neraka? Kemudian Allah meminta Musa agar menanam gandum. Gandum-gandum tersebut menguning dan siap untuk dituai setelah mengalami proses panjang. Hasilnya, gandum yang kualitasnya super Musa jual di pasar-pasar dan gandum yang jelek yang tak layak dikonsumsi beliau bakar. Kemudian dengan itu, Allah menjawab pertanyaan Musa dengan begitu lugas. Kau tahu itu?

Dengan kisah Nabiyullah Musa tersebut pada sebenarnya aku ingin menyampaikan, bahwa teguran-teguran kecil yang aku layangkan padamu, yang engkau anggap tak manusiawi itu pada sebenarnya bertujuan agar engkau menjadi insan yang berkualitas. Di antara kalian, sebagian perlu aku beri nilai yang memuaskan dan sebagian lagi aku disiplinkan. Sama dengan teguran yang orang tuamu layangkan di rumah, ketika engkau melakukan sesuatu yang memancing amarah. “Mendisiplinkanmu” bukan berarti kau bermasalah, apa lagi dianggap sering bikin ulah. Namun, ini semua demi kebaikan dirimu, demi masa depanmu kelak.

Anak-anak didikku…!

Masa depan negeri ini berada di pundakmu. Jika engkau hebat, bangsa ini akan bermartabat. Sebaliknya, jika engkau berbuat laknat, maka negeri ini akan terlumat. Engkau pewaris bangsa ini. Gunakan otak dan hatimu.  Segeralah berfikir, maka sejarah pasti kau ukir.

Di tanganmu kekuatan negeri ini terkepal. Kekuatan yang mengantarkan bangsa ini berpradaban luhur. Kau tak perlu lagi memanggul senapan, meruncingkan bambu. Tugasmu hanya belajar, belajar dan belajar.

Anak-anakku, murid-muridku…!

Tulisan pendek ini bukanlah berarti ujaran kekesalan, ngambek, apalagi memberitakan aibmu. Tulisan sederhana yang berderet ini tidak bertujuan memelas agar dirimu mendengar suara hatiku, suara hati gurumu. Namun, agar dirimu membukakan hatimu, lalu merangkum semua tutur kataku menjadi penuntun jalanmu ke jalan yang bercahaya sehingga tak ada lagi siapapun yang berstatus murid melakukan sesuatu yang tak seharusnya pada gurunya. Semoga.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap