Sudah Syariah kah, Bank Syariah Indonesia?

Sudah Syariah kah, Bank Syariah Indonesia?

Indonesia (BSI) telah menjadi trend pembicaraan yang menarik bagi masyarakat umum. hasil merger anak perusahaan BUMN bidang perbankan yang diantaranya Rakyat Indonesia (BRIS), Mandiri dan BNI yang pada saat pembentukannya melewati pro kontra dimana banyak opini muncul tentang dampak apa yang ditimbulkan dari merger ini? Baik atau buruk untuk masyarakat? Bisa atau tidak membawa perubahan kearah positif?

Melihat polemik tersebut, maka saat ini setelah BSI berjalan beberapa bulan, muncul kritik dari salah satu pemuka agama dan sekaligus pendiri Paytren, Ustaz Yusuf Mansur. Beliau mengatakan di akun instagramnya seperti berikut :

Masa dari dulu, jauh lebih mahal dari konvensional, Harusnya skrg udah GA BOLEH ADA ALASAN lagi. Sebab udah merger, 3 . Jadi BSI. Ya mana keberpihakannya? Jangan sampe an ibadah dan amal saleh, an sesuatu yang lebih halal dan syar’i, lalu masyarakat dibuat ga boleh nawar, ga bisa nawar, ga boleh menggugat soal mahal,” ujarnya

Baca juga  Sukuk Ritel : Instrumen Investasi Syariah untuk Pembangunan Negeri

Mengkritik BSI yang hanya berorientasi pada keuntungan, karena bagi hasilnya lebih mahal  daripada berskema konvensional. Menurutnya, bunga kredit konvensional justru bisa murah, mudah dalam prosesnya, ringan pengembaliannya, dan tidak mencekik nasabah.

Melirik kembali diawal kemunculannya masih dapat diterima alasannya mengapa biaya-biaya didalam produknya mahal dan masih terdapat banyak kesulitan dalam operasional dikarenakan share yang masih kecil dibanding konvensional. Seharusnya hari ini yang telah didukung oleh pendanaan yang besar, bisa menjadi jalan keluar atas masyarakat untuk menjungjung nilai-nilai dalam muamalahnya dan menjadi garda terdepan dalam men-support kesejahteraan perekonomian masyarakat secara umum.

Baca juga  Wiraswasta Muslim Harus Paham! Kerjasama Bisnis Dengan Perbankan Syariah

“Jika ruh ga ada perjuangan, maka ya perusahaan2 jadi perusahaan kapitalis murni aja.” Ujarnya

Kemudian ustaz yusuf menyentil BSI yang hanya memanfaakan keuntungan mayoritas masyarakat muslim Indonesia yang terbawa semangat menegakkan pada merger ini.

“Maka jika demikian, ini mah namanya memanfaatkan euforia, memanfaatkan ghairah dan ghirah, ke . Aslinya? Kapitalis.” Selanjutnya coba kita kembali merujuk ke tujuan yang terkenal dengan kaidah :

“Sesungguhnya bertujuan untuk mewujudkan kemashlahatan dunia dan akhirat”

Sudah jelas harapan kita kepada yang ada, untuk bisa membawa kemaslahatan, kesejahteraan, kebaikan, dalam ekonomi maupun sosial, dan sekaligus bisa membawa nilai-nilai spiritual untuk bekal umat di akhirat.

Baca juga  6 Keuntungan Menabung di Bank Syariah Indonesia

Namun dibalik kontrovesial tersebut kita sebagai umat muslim khususnya, dan umumnya sebagai rakyat Indonesia harus terus mendukung dan turut andil dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas segala proses dan sistem yang ada di perbankan syariah. Karena tertera dalam kaidah ushul fiqh ;

مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لَا يُتْرَكُ كُلُّهُ

“Sesuatu yang tidak bisa dilakukan seluruhnya janganlah ditinggal seluruhnya”

Jangan samapai karena ketidaksempurnaan suatu hal, membuat kita acuh dan berpaling dari hal tersebut, dan akhirnya tidak menghasilkan dan tidak menyelesaikan masalah yang ada. Melihat konteks perbankan syariah sekarang terutama BSI sendiri yang merupakan terbesar di Indonesia saat ini, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menciptakan ekonomi syariah yang membawa kemaslahatan dunia dan akhirat. Kedepannya diharapkan BSI mampu memberikan peningkatan baik dari aspek kepatuhan syariah, pembiayaan, fasilitas, pelayanan, dll. Sehingga bisa menjadi role model yang baik bagi lainnya.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rhafi Alamsyah Alamsyah