Sudut Pandang Hukum Mengenai Kedudukan Seorang Anak


Sudut Pandang Hukum Mengenai Kedudukan Seorang Anak

Usia pernikahan belum lama kini rumah tangga Rezky Aditya diguncang badai sengketa anak dengan Wenny Ariani, wanita yang mengaku memiliki anak dari hasil hubungannya dengan Rezky Aditya.

buntut persoalan Rezky Aditya dengan wanita bernama Wenny Ariani kembali mengudara setelah lapuk tak digubris oleh pihak Rezky Aditya maupun Citra Kirana.

Kabar tersebut juga rupanya mengudara begitu saja mengejutkan public lantaran lelaki kelahiran 1985 itu telah menikah dengan artis Citra Kirana dan sudah memiliki seorang anak laki-laki dari hasil pernikahan tersebut.

Kabar terbaru menyebutkan bahwa Pengadilan Tinggi Banten menetapkan Rezky Aditya sebagai ayah biologis anak dari Wenny Ariani.

Lantas bagaiamana kacamata hukum melihat hal ini?

Berbicara soal keabsahan atau kedudukan dan/atau juga sesuatu hal yang pasti mengenai seorang anak adalah sesuatu yang sangat serius, satu dan lain hal karena ini mempunyai kaitan erat dengan pewarisan.

Tentang anak ini diatur secara khusus dan terperinci dalam pasal 42 s.d 44 dan pasal 55.

Disebutkan bahwa anak yang sah adalah anak yang lahir dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah menurut (pasal 42).

Hal tersebut berarti bahwa anak yang lahir di luar perkawinan atau pernikahan yang sah bukanlah anak yang sah atau sebenarnya.

Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya saja, ini juga mengacu pada (pasal 43).

Bahkan menurut hukum islam saja mengatakan bahwasannya status anak yang lahir di luar pernikahan sah ikut pada nasab seorang ibu yang melahirkan.

Perzinaan ini merupakan suatu hal yang terlarang dan keji, sebab bertemunya kelamin laki-laki dan perempuan merupakan dosa yang terlarang, apalagi sampai memiliki keturunan dari hasil hubungan badan tersebut.

bukan saja berdampak buruk bagi sang lelaki atau perempuan yang melakukan perzinaan saja, akan tetapi juga pada keturunannya.

Al-Quran secara terang-terangan melarang manusia untuk mendekati zina apalagi berbuat zina dan ini terikat jelas pada Al-Qur’an وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا

artinya :

Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.

Anak hasil zina adalah anak yang lahir akibat dari hubungan badan di luar perkawinan yang sah menurut ketentuan agama dan negara.

Anak tersebut juga sama sekali tidak mempunyai hak atas nasab sang ayah, melainkan nasabnya mengikuti sang ibu saja.

Bahkan tidak sampai disana anak tersebut juga sama sekali tidak memiliki hak atas wali, nikah, waris dan nafkah dari sang ayah.

Artinya anak hasil zina ini hanya memiliki hubungan nasab,waris,dan nafkah dengan ibu dan keluarga ibunya saja.

Kasarnya anak tersebut jika berkelamin perempuan bisa saja dinikahi oleh sang ayah karena dilihat secara segi hukum agama dan negara anak tersebut sama sekali tidak memiliki nasab dari ayah nya.

Namun anak hasil nikah siri apakah sama hal nya?

Sebenarnya perkawinan atau pernikahan siri ini sah saja secara agama akan tetapi tidak sah secara hukum negara, karena pernikahan siri hanya akan merugikan pihak wanita saja.

namun akan tetapi Di Indonesia pernikahan siri ini masih saja dilakukan.

Jika terjadi sebuah pernikahan siri kerugian apa saja yang bisa dialami?

1. Sah atau tidak nya pernikahan di mata hukum

Dalam pernikahan siri, perempuan tidak bisa dilindungi haknya dengan undang-undang dan menuntut harta gono gini pernikahan.

Bahkan jika terjadi KDRT atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga ini hanya bisa menggunakan proses hukum penganiayaan pada pasal 351 ayat 1, bukan menggunakan UU yang menyangkut KDRT, yakni Pasal 1 UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (UU PKDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/ataupenelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan atau perampasan kemerdekaan,secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

2. Status anak dalam pernikahan

Jika hadir seorang anak dalam pernikahan siri maka status anak yang dilahirkan tersebut tidak dapat disebut sebagai anak dalam pernikahan yang sah secara hukum.

Status kelahirannya ini sama dengan anak yang lahir diluar nikah atau dengan kata lain tidak bisa mendapatkan perlindungan hukum atas dasar waris dan sebagainya.

Mengapa? Hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 43 ayat (1) yang menyebutkan “anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya”

3. Hukum warisan

“anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan saling waris dengan ibunya dan keluarga pihak ibunya” misalkan suatu hari nanti anak ataupun istri tak dapat menuntut hak warisan dari ayah kandungnya, sekalipun tes DNA menunjukan bahwasanya anak tersebut adalah anak biologis dari sang ayah.

dan dapat disimpulkan pada persoalan yang sedang dihadapi oleh Rezky Aditya dan sang istri Citra Kirana.

entah anak yang dari Wenny Ariani dan Rezky Aditya ini hasil dari hubungan badan di luar pernikahan ataupun pernikahan siri maka bisa ditetapkan bahwa anak tersebut sama sekali tidak mendapatkkan hak sekecil apapun dari Rezky Aditya, meskipun Pengadilan Tinggi telah menetapkan Rezky Aditya adalah ayah biologis dari anak Wenny Ariani.