Suka Deg-Degan Karena Si Dia? Ternyata Ini Alasannya…

Suka Deg-Degan Karena Si Dia? Ternyata Ini Alasannya... 1

Pernah gak sih tiba-tiba merasa deg-degan pas lagi ketemu dengan orang yang kita suka? Padahal bukan lagi UTBK tapi jantung berasa mau copot. Mungkin sebagian temen-temen akan beranggapan bahwa sebenarnya ada rasa cinta, tapi kira-kira temen-temen tau gak sih bagaimana penjelasan dari sisi ilmiah terkait peristiwa deg-degan tersebut?

Deg-degan itu secara sederhana disebabkan oleh meningkatnya ritme kerja jantung yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Pada kasus ini deg-degan dapat dipengaruhi oleh faktor emosi yang lebih tepatnya adalah emosi terkejut, takut atau malu.

Emosi merupakan sebuah bentuk reaksi inidividu terhadap suatu kondisi sehingga nantinya dapat melahirkan perasaan. Cara pandang kita terhadap sebuah kondisi menentukan emosi apa yang akan kita keluarkan, contohnya ketika kita memandang pertemuan tiba-tiba dengan orang yang kita sukai sebagai bentuk yang negatif maka mungkin saja kita akan mengeluarkan emosi terkejut atau takut sehingga membuat kita ingin segera meninggalkan tempat tersebut.

Emosi dibagi menjadi 2 macam yaitu primer (bawaan seperti takut , marah , senang , terkejut , jijik ,dan tidak suka)  & sekunder ( dipelajari seperti cinta, kecewa, optimis, pesimis, putus asa,dll). Cinta dapat diartikan sebagai sebuah bentuk emosi tetapi disisi lain cinta juga dapat diartikan sebagai sebuah hubungan.

Definisi tentang cinta memang sangatlah luas namun menurut salah satu tokoh cinta adalah hubungan sehat antara sepasang manusia yang melibatkan perasaan saling menghargai, menghormati, dan mempercayai (Maslow, dalam Alwisol : 217). Sehingga dapat disimpulkan bahwa jika belum terbangun suatu hubungan antara kedua individu maka belum bisa dikatakan sebagai cinta melainkan hanya sebuah ketertarikan yang umumnya mulai dirasakan ketika menginjak usia remaja.

Refrence : Sucianty Sudjarwadi
Refrence : Sucianty Sudjarwadi

Proses sederhana terbentuknya respon deg-degan yang disebabkan oleh rasa takut atau terkejut dalam kasus itu diawali pada saat mata melihat situasi dimana secara tidak sengaja kita bertemu dengan orang yang disuka, kemudian informasi (pristiwa) itu dikirim ke bagian otak yang disebut Thalamus – Thalamus akan menyampaikan informasi tersebut ke Visual Kortex untuk dipersepsikan – Visual kortex meneruskan informasi tersebut ke Amygdala untuk diproses sebagai indikasi ancaman – Amygdala  menanggapi ancaman itu dan segera mengirimkan sinyal untuk merespon situasi itu ke Hipotalamus – Hipotalamus mengirimkan zat neurokimia ke Hippofise – Hippofise meneruskan zat itu ke kelenjar Supra renalis – Kelenjar Supra renalis kemudian mengeluarkan hormon adrenalin – pengeluaran hormon adrenalin ini memicu peningkatan kinerja otot jantung untuk bekerja lebih keras sehingga inilah yang mengakibatkan kita merasa deg-degan.

Deg-degan itu timbul bukan karena faktor cinta melainkan pengaruh dari kognisi kita yang menilai sebuah kondisi sebagai ancaman sehingga tubuh merespon dengan meningkatkan kinerja jantung sebagai penanda bahwa kita harus menjauh dari situasi itu. Peristiwa sederhana seperti  Deg-degan itu ternyata memiliki proses yang begitu complex dalam diri kita ini membuat kita  sadar begitu menakjubkannya manusia diciptakan.

Allah berfirman dalam Q.S At-Tin ayat 4 :

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Daftar pustaka

  • Alwisol. (2019). Psikologi Kepribadian (Revisi ed.). Malang: Universitas Muhamadiyah Malang press.
  • J.W.Kalat. (2015). BIOPSIKOLOGI (9 ed.). Jakarta: Salemba Humanika.  
  • Risky Ananda Ariyati, F. L. (2016). GAYA CINTA (LOVE STYLE) MAHASISWA. Jurnal Psikoislamika |Volume 13 Nomor 2 Tahun 2016, 13, 29-38.  
  • Rita L. Atkinson, R. C. Pengantar Psikologi (11 jilid 2 ed.). (D. Saputra, Penyunt., & P. D. W. Kusuma,Penerj.) Batam: Interaksara.  
  • Rita L. Atkinson, R. C. Pengantar Psikologi (11 jilid 1 ed.). (D. Saputra, Penyunt., & D. W. Kusuma,Penerj.) Batam: Interaaksara.  
  • Robert L.Solso, O. H. (2007). Psikologi Kognitif (8 ed.). (M. Wibi Hardani, Penyunt., & K. B. Mikael Rahardanto, Penerj.) Jakarta: Erlangga.  
  • W.Santrock, J. (2012). Life Span- Dvelopment (13 jilid 1 ed.). Jakarta: Erlangga.  

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

ADRIAN WIKRA WARDANA