Suku Asyur Beringas Akibat Salah Pergaulan

Suku Asyur Beringas Akibat Salah Pergaulan 1

Awal mula orang-orang Asyur berasal dari Sem, anak kedua Nabi Nuh, yang sebenarnya Sem beserta keturunannya mendapat warisan dan berkat luar biasa baik. Dari namanya saja Sem diartikan sebagai orang terkenal atau kemakmuran.

Ketika Sem dan kakaknya bernama Yafet bersepakat menutup aurat Nuh yang kala itu mabuk anggur, mereka berdua memperlihatkan penghormatan layaknya seorang anak pada orang tua, selain itu mereka juga menaruh penghormatan pada Allah yang telah menyelamatkan dari musibah air bah. Sedangkan Ham, anak bungsu Nuh, yang justru membicarakan ketelanjangan ayahnya sebagai tontonan menarik akhirnya diusir.

Setelah itu Nuh mengucapkan berkat untuk ketiga anaknya, yang menarik di sini, adalah berkat untuk Sem dan Ham. Sem dirancangkan untuk menduduki tempat terhormat sebagai pemimpin umat manusia, keturunannya akan menjadi orang-orang hebat yang dicintai Allah, mereka hadir di dunia dimaksudkan untuk melayani Allah. Nabi Abraham adalah salah satu keturunan Sem, dan hidupnya dibenarkan karena kepercayaannya pada Allah. Sedangkan Ham, karena sudah mengecewakan hati ayahnya, maka Nuh menjatuhkan kutuk. Ham serta keturunannya akan menjadi orang-orang yang mengingkari kebaikan Allah.

Dengan berjalannya waktu keturunan anak-anak Nuh berkembang sangat banyak, tersebar sampai penjuru bumi, kita semua yang masih eksis di dunia ini aslinya berasal dari satu bapak yaitu Nuh.

Sem memiliki sejumlah anak, salah satunya bernama Asyur atau Asiria. Asyur kemudian membuat kota bernama Asiria terletak di hulu sungai Tigris Mesopotamia, yang kemudian berubah menjadi Niniwe, dan sekarang dikenal dengan nama Irak. Asyur pada mulanya dikenal sebagai orang-orang yang paling makmur di muka bumi, para Arkeolog banyak sekali menemukan benda-benda bernilai seni di situs-situs sekitar bekas kota Niniwe.

Cerita beralih pada saudara laki-laki Sem yang bernama Ham juga memiliki banyak keturunan, salah satu dari keturunan Ham adalah Nimrod. Ia dikenal sebagai seorang pemburu yang gagah perkasa, namun hatinya menjauh dari Allah. Semula Nimrod tinggal di kota Babel dan beberapa kota lain di Mesopotamia. Pada jaman itu semua umat manusia hanya menggunakan satu bahasa, Nimrod kemudian memerintahkan untuk membuat Menara Babel yang tingginya sampai ke langit. Allah membenci perbuatannya kemudian mengacak-acak bahasa manusia sampai mereka tercerai berai ke segala penjuru bumi. Menara Babel hancur dan Nimrod dicap sebagai pemberontak. Nimrod kemudian lari ke kota Asyur, tempat tinggal saudara tuanya dari garis keturunan Sem.

Sejak ribuan sebelum masehi ternyata pengaruh negatif itu lebih cepat merasuki pikiran daripada pengaruh positif. Nimrod yang hatinya menjauh dari Allah, bisa diartikan sebagai penyembah berhala mulai menularkan kebiasaannya pada orang-orang Asyur. Dan sejak itu para nabi besar, salah satunya Nabi Nahum, menjuluki kota Niniwe yang dulunya dikenal dengan nama kota Asyur sebagai Kota penumpahan darah… di sana ada semua dusta, dan perampasan.

Dari Asyur inilah bangkit raja-raja bengis yang seolah selalu haus dengan peperangan dan kematian. Buat mereka peperangan adalah pekerjaan tetap.

Raja Salmanesser III (859 SM – 824 SM), pada masa pemerintahannya ia membuat prasasti obelisk hitam yang sangat terkenal. Di Prasasti itu dibuat begitu banyak relief atau ukiran timbul yang mengisahkan pertempuran demi pertempuran yang ia lalui selama 31 memerintah. Bahkan di salah satu daftar reliefnya menggambarkan raja Israel bernama Yehu yang menyerahkan upeti oposisi dengan Asyur, dan memilih memutuskan hubungan dengan raja Yehuda.

Prasasti Obelisk Hitam Raja Salmanesser III di Brithis Museum
Prasasti Obelisk Hitam Raja Salmanesser III di Brithis Museum

Keturunan Raja Salmenesser meneruskan cita-cita moyangnya untuk menguasai tanah Israel. Satu persatu raja Israel tunduk, rela menyerahkan upeti dan mengikuti penyembahan berhala mereka yang sangat dibenci Allah.

Raja paling sadis diantara yang sadis adalah Sanherib, hidup pada tahun 732 SM, ia mengadakan peperangan dengan bangsa Yehuda yang kala itu dipimpin oleh Raja Hizkia. Meskipun sang raja telah menyerahkan upeti emas dan perak dalam jumlah besar, Sanherib tetap mengepung kota Yehuda dengan ketat. Di istananya ia membuat panel-panel batu besar yang memperlihatkan ketika suasana ketika Yehuda diserang. Masyarakat sipil berduyun-duyun keluar dari kota dan menyerahkan diri, mereka menjadi tawanan, sebagian mati disiksa dengan dipaku di tiang-ditiang, dikelupas kulitnya, bahkan dimutilasi dan mayatnya dibiarkan dimakan burung bangkai. Sebuah prasasti menceritakan bahwa Sanherib duduk di tahtanya untuk menikmati pemandangan itu.

Raja Sanherib dalam perang Babelonia, di istananya Niniwe
Raja Sanherib dalam perang Babelonia, di istananya Niniwe

Para nabi besar masa itu sudah memberitahukan kehancuran Niniwe, namun sampai raja terakhir, cucu Sanherib, Raja Asyurbarnipal, tetap terus mengobarkan peperangan demi memperluas wilayah. Sampai suatu masa kerajaan Babel dan Media bersatu mengalahkan Niniwe, menghancurkan kotanya sampai tinggal puing. Sampai sekarang, kerajaan besar itu hanya tinggal tanah, dua gundukan besar dijadikan penanda bahwa di sana pernah ada sebuah kerajaan yang ditakuti bangsa lain karena kekejamannya.

Seandainya dulu bangsa Asyur awal mengusir Nimrod dari kota mereka, tentu saja ceritanya akan lain. Memang dengan siapa kita bergaul jadi seperti itulah kita.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.