Suku Baduy Petani Organik Sejati


Suku Baduy Petani Organik Sejati 1

Jika melakukan perjalanan dari Rangkas Bitung menuju Ciboleger, kita akan melewati perbukitan indah nan hijau. Di perbukitan Kendeng, Banten bagian selatan itulah Suku Baduy bermukim. Suku Baduy adalah sebuah komunitas adat Sunda yang telah ada sejak sekira 600 tahun lalu.

Mereka tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Berdasarkan Peraturan Daerah no. 32 tahun 2001 mengenai perlindungan hak ulayat masyarakat Baduy, Orang Kanekes ( sebutan lain suku Baduy) mengelola tanah seluas 5.101,85 hektar.

Asal mula Suku ini masih bias. Namun menurut para ahli sejarah, berdasarkan prasasti catatan pelaut Tiongkok dan Portugis nenek moyang Suku Baduy adalah sekelompok tentara pasukan Kerajaan Sunda.

Penguasa wilayah Banten saat itu, Pangeran Pucuk Umum memerintahkan kelompok tentara tersebut untuk menjaga dan mengelola kelestarian wilayah hutan di Gunung Kendeng. Kemudian identitaas keberadaan mereka sengaja di tutup dan disamarkan untuk melindungi diri dari musuh-musuh daerah Padjajaran.

Pasukan penjaga kelestarian hutan inilah yang diduga kuat merupakan leluhur Suku Baduy. Doktrin yang terus dilestarikan adalah menolak menggunakan tekhnologi. Hal ini menanamkan kesan, Orang Kanekes melekat pada alam. Inti kearifan lokal “tanpa perubahan apapun” Suku Baduy tersebut berlandaskan pada Pikukuh Baduy.

Yang berbunyi:

Buyut nu dititipkeun ka puun, Buyut nu dititipkeun ka puun.Negara satelungpuluh telu, Bangsawan sawidak lima, Pancer salawe nagara, Gunung teu meunang dilebur.Lebak teu meunang diruksak, Larangan teu meunang dirempak, Buyut teu meunang dirobah, Lojor teu meunang dipotong, Pendek teu meunang disambung, Nu lain kudu dilainkeun, Nu ulah kudu diulahkeun, Nu enya kudu dienyakeun. (garna, 1998, dalam permana 2001).

Terjemahannya sebagai berikut: 

Tabu yang dititipkan kepada pemimpin (puun), Negara tiga puluh tiga, Bangsawan enam puluh lima, Pusat dua puluh lima negara, Gunung tidak boleh dilebur, Lembah tidak boleh dirusak, Larangan tidak boleh dilanggar, Tabu tidak boleh dirubah, Panjang tidak boleh dipotong, Pendek tidak boleh disambung, Yang bukan harus dibedakan, Yang tidak boleh harus tidak diperbolehkan, Yang benar harus dibenarkan.

Pikukuh ini kemudian menjadi dasar setiap konsep kehidupan Suku Baduy. Setiap orang yang tidak sanggup memenuhi tabu ini akan dikeluarkan dari Baduy Dalam. Tampaknya, pembagian dua golongan Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar adalah dampak konsekwensi larangan ini.

Kearifan lokal “tanpa perubahan” ini juga berlaku pada perekonomian Orang Kanekes. Sampai dengan hari ini, mereka mencari nafkah dengan bergantung pada kegiatan bercocok tanam.

Swasembada Pangan di Tangan Suku Baduy

Kunyit dan Jahe Hasil Hutan Kanekes
Kunyit dan Jahe Hasil Hutan Kanekes

Suku Baduy memiliki konsep kemandirian pangan yang amat mengagumkan. Jaro Hasan, seorang tetua Baduy Luar menyebut kemandirian pangan tersebut berkat buah pemikiran para tetua Suku Baduy.

Golongan Baduy Dalam memiliki tiga pemimpin yang di sebut puun. Masing-masing puun memiliki kewajiban dalam bidang perekonomian, militer dan pengobatan serta ramalan. Menurut Hasan, berkat pemikiran mereka suku Baduy memiliki penambahan 900 hektar lahan produktif untuk pertanian.

Hasan memiliki lumbung padi terletak di luar desa. Lumbung padi itu mereka sebut Leuit. Leuit berbentuk bangunan persegi dengan bahan kayu seperti rumah panggung. Bangunan tersebut berkelompok, menyerupai kampung mereka sendiri. Suku Baduy, memiliki 405 Leuit. Konon, gabah berusia 40 tahun masih tersimpan bernas di Leuit itu. Gabah yang mereka miliki tabu untuk dijual.

Berkat gabah di Leuit, Suku Baduy mampu bertahan dari masa panen ke panen selanjutnya. Kebutuhan lain mereka penuhi dengan menjual hasil hutan seperti madu, mangga, durian dan buah-buahan lain. Mereka juga sangat produktif menghasilkan gula aren, kain tenun dan kerajinan anyaman kulit pohon.

Gula Aren Merupakan Salah Satu Komoditas Unggulan Suku Baduy
Gula Aren Merupakan Salah Satu Komoditas Unggulan Suku Baduy

Gula Aren, kain tenun dan kerajinan anyaman kulit pohon digarap oleh kaum hawa. Keterampilan bertenun, secara otodidak diwariskan dari generasi ke generasi. Setidaknya beberapa lembar kain tenun dihasilkan dalam seminggu. Eneng, pemudi Baduy Luar, Desa Kadu Ketug mengaku paling sedikit mengantongi dua ratus sampai dengan tiga ratus ribu dari hasil niaga kain tenun.

Sistem kemandirian pangan Suku Baduy berjalan baik jika ada penambahan sumber daya alam seiring pertumbuhan penduduk. Pikukuh Baduy disamping berefek positif, di lain sisi membatasi kinerja Orang Baduy. Hal ini perlu menjadi kajian bersama. Baik oleh pemerintah maupun warga Kanekes sebagai pewaris budaya mulia tersebut.

Bertani Organik Ala Suku Baduy

Dengan menggenggam erat Pikukuh Baduy, suku ini menggeluti sistem pertanian khas mereka yang sederhana. Berhuma dengan sistem ladang berpindah. Tabu bagi mereka bersawah basah. Komoditas utama Orang Kanekes adalah padi gaga. Padi yang mereka panen tidak untuk dijual, namun disimpan untuk hajat hidup keluarga.

Demi tak merusak ekosistem, alat pertanian yang mereka gunakan hanyalah Tugal untuk menanam, Golok/bedog untuk membersihkan lahan, Kujang dan kored untuk menyiangi gulma, Kapak baliung untuk memotong kayu serta Lodong bambu untuk mendaras nira gula aren.

Sistem pertanian ini tak pernah berubah sejak 600 tahun lalu. Jika di terjemahkan dengan ilmu budidaya hari ini maka sangat mencengangkan. Mereka memiliki penanggalan dan tekhnik menghitung waktu pertanian yang akurat dan otentik. Penanggalan ini didasari dengan pergerakan bintang dan perputaran bulan. Sungguh ilmu bertani yang bijak dan bersahaja.

Membuat Pestisida Alami Menggunakan Buah Maja
Membuat Pestisida Alami Menggunakan Buah Maja

 Ilmu pengendalian hama dan penyakit tanaman sangat bervariasi. Semuanya tanpa proses kimia. Jaro Sanip, menuturkan ratusan resep obat alami tanaman ditularkan secara lisan. Semua tanpa perubahan dari tuturan leluhur.

Bahkan selama proses tumbuh padi gaga, mereka memiliki resep obat tersendiri. Proses pengobatan itu mereka sebut Ngirab Sawan. Rotasi pengobatan dilakukan 10 kali selama masa tanam. Ramuan daun mengkudu, jeruk nipis, beuti lajo, karuhang, gembol, areuy beureum, hanjuang, kelapa muda di tumbuk halus dan dicampur abu dapur. Kemudian disebar merata di area lahan pertanian.

Masuk akal! Dalam khasanah ilmu modern, abu dapur adalah penghasil nitrogen, kelapa muda adalah sumber zat pengatur tumbuh seperti giberelin dan sitokinin. Leluhur suku baduy telah mempelajari itu sejak 600 tahun lalu dengan pengalaman empiris.

Namun tetap ada kekurangan dari faktor perkembangan zaman. Dengan pesatnya pertumbuhan jiwa Suku Baduy, mengutip penelitian Dra. Endang Nugraheni, Med. Msi. dibutuhkan masa bera ladang berpindah Suku Baduy minimal 24 tahun untuk mencapai kondisi optimal tanah setelah penanaman tiga musim. Dengan asumsi tidak ada penambahan pupuk selama proses pertanian mereka. Maka ladang berpindah yang selama ini mereka praktikkan dapat berkelanjutan.

Terlepas dari kekurangan itu, seandainya ada pengepul menyambangi bumi Orang Kanekes membeli hasil bumi dengan harga jujur, maka akan sangat fantastis! Bagaimana tidak, pembudidaya kekinian dengan berlabel organik melipat gandakan bandrol. Sedangkan Suku Baduy petani organik sejati yang sudah teruji. Salam..

 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Bangun Hd

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap