Suku Karen: CANTIKnya Perempuan dinilai dari Panjang Lehernya

Suku Karen: CANTIKnya Perempuan dinilai dari Panjang Lehernya 1

Haloooooooooo para pembaca Digstraksi yang setia. Lama setelah tidak mengunggah artikel, akhirnya kini saya aktif kembali. Ya sudah, tanpa basa basi lagi berikut akan saya paparkan informasi tentang suku Karen buat kalian. 

sumber gambar : pinterest.com
sumber gambar : pinterest.com

Menurut keyakinan para suku Karen yang mendiami Thailand khususnya kaum perempuan, nilai kecantikan di kalangan mereka diukur dari seberapa panjangnya leher mereka yang dililit oleh cincin-cincin besar melingkar  seperti gambar di atas. 

Bahkan, cincin-cincin tersebut meski tampaknya juga sedikit terlihat menyiksa, tapi para suku Karen malah sudah membiasakan hal tersebut sejak usia dini. Bukan tanpa alasan, suku yang hidup di kawasan Baan Tong Luang yang ada di Chiang Rai tersebut (bukan suku asli dari Thailand, tapi mereka datang dari Dataran Tinggi  Tibet) memiliki sejarah tersendiri sejak dulu.

Awalnya, tradisi yang oleh dunia diketahui dengan sebutan “neck ring ini berguna atau bertujuan untuk melindungi diri perempuan dari serangan harimau. Eh lah? Iya, sebab pada masa lampau sempat terjadi insiden serangan harimau yang membuat beberapa suku perempuan Karen terbunuh. Nah lalu, sang pemimpin suku mengambil inisiatif atau putusan agar mereka-kaum perempuan suku Karen menggunakan cincin leher yang terbuat dari bahan kuningan untuk melindunginya agar selamat dan tentunya terhindar dari kepunahan. 

Tapi unik juga ya, kalau bahannya dari kuningan itu sama halnya seperti perhiasan. Walhasil, seiring berkembangnya zaman, para perempuan dari suku Karen ini menggunakannya sebagai tolak ukur kecantikan. Tapi mungkin, ada juga efek samping yang timbul bagi kesehatan mereka Sob, pingin tahu?

Yap, meskipun tidak ada syarat tertentu cincin leher ini maksimal mencapai jumlah tertentu untuk dipakai, namun pada umumnya sih hingga 25 buah saja. Dan, ketika perempuan suku Karen beranjak sampai di usia mereka yang ke 15 tahun, mereka bisa memilih mau lanjut seumur hidup atau lepas total? Karena sesudah usia ini, tulang rusuk mereka memiliki peluang untuk terjadi kerusakan bahkan leher akan menjadi begitu longgar alias tidak mampu menahan bebannya sendiri.

Wah.. Kasihan juga ya T_T

sumber gambar : pinterest.com
sumber gambar : pinterest.com

Namun kini, tradisi tersebut masih tetap bertahan bukan hanya untuk meneruskan dari nenek moyang mereka saja agar tidak luntur, namun juga sebagai media pencari nafkah dari turis yang berdatangan dan tertarik dengan tradisi suku Karen ini.

Meskipun begitu, ada kalanya cincin ini boleh dilepas pada waktu tertentu lho. Misalnya saat perempuan suku Karen menikah, dalam posisi melahirkan, serta meninggal dunia. Bahkan, saat pembersihan, cincin boleh dilepas. Namun tidak boleh sering-sering, karena cincin tersebut harus dipakai kembali.

Gimana nih para pembaca  Digstraksi yang setia? Mau coba ga? -Eh. Atau kalian punya pendapat lain tentang standar kecantikan? Tapi yah, saya yakin kalau semua perempuan di dunia ini cantik dan memiliki karakteristiknya masing-masing. Cantiklah dengan cara kita sendiri ^_^

Oke sekian dulu, sampai ketemu lagi. Terimakasih sudah membaca 🙂

Referensi :

  • https://www.kompas.com/global/read/2021/05/28/171100770/kebiasaan-memanjangkan-leher-suku-karen-di-thailand-bukan-murni-karena?page=all

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.