Surat Untuk Ibu dan Bapak


Surat Untuk Ibu dan Bapak 1

Bu, Pak, tahu tidak kemampuan apa yang benar-benar harus dimiliki manusia?

Yaitu kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan maupun dengan zaman. Karena seiring berjalannya waktu, keduanya pastilah berbeda dengan yang telah dilalui kalian.

Bu, Pak, kita ini sedang hidup di masa kini, di zamanku. Bukan di masa lalu, zaman kalian muda dulu. Apa Ibu dan Bapak tidak merasa bahwa zamanku ini berbeda dengan zaman yang telah kalian lalui bertahun-tahun lamanya? Makanya, bagiku rasanya tidaklah wajar jika kalian merasa tidak ada perbedaan di antara zaman kita.

Bu, Pak, lantas, apa hanya karena lebih dulu dilahirkan dan lebih sering menelan asam garam kehidupan menyebabkan kalian tidak pernah salah? Perkataan, perbuatan, pilihan, dan keputusan kalian adalah mutlak sebuah kebenaran? Padahal, Ibu dan Bapak juga manusia sepertiku yang bisa salah dan khilaf.

Bu, Pak, apa hanya karena lebih dulu dilahirkan dan lebih sering menelan asam garam kehidupan menyebabkan kalian bisa dengan bebas merasa tahu segala sesuatu yang terbaik untuk kebahagiaanku? Sehingga tanpa sadar, atau mungkin sadar betul sudah sering mendikte agar aku melakukan apa yang kalian anggap paling baik dan bisa membuatku bahagia. Namun, apakah kalian tahu kalau aku memang benar-benar merasa bahagia?

Bu, Pak, aku tidak hidup di zaman Siti Nurbaya. Aku juga tidak hidup di zaman pada saat kalian masih muda, di mana seorang gadis yang belum menikah ketika berusia 20 tahun atau lebih disebut perawan tua.

Bu, Pak, di zamanku ini umur 23 tahun masihlah belia. Lantas, apa harus aku menikah di usia yang bahkan tidak bisa disebut tua? Sehingga ketika ada tetangga yang ingin menjodohkan anaknya yang berbeda 10 tahun denganku dan belum pernah kutemui bahkan kukenal sekali pun langsung kalian setujui begitu saja tanpa tanya dulu pendapatku, apakah aku mau atau enggak.

Bu, Pak, ketika aku bercerita kepada teman-teman, baik yang berada di dunia nyata maupun dunia maya, mereka semua terkejut. Kaget bahwa di zaman sekarang masih saja ada tradisi jodoh-menjodohkan. Bukankah ini artinya bahwa di zamanku, yang namanya jodoh-jodohan ini sudah tidak lagi lazim dilakukan?

Lalu, Bu, Pak, bukankah aku sudah seringkali mengatakan bahwa ada seseorang yang aku suka? Yang ingin aku jadikan pendamping hidup serta bapak dari anak-anakku kelak? Tapi, kenapa bisa Ibu dan Bapak sampai hati menjodohkanku? Apa karena menurut kalian perjodohan ini adalah hal yang tepat demi kebaikan dan kebahagianku? Atau karena menurut kalian perempuan itu sudah seharusnya dipilih bukan memilih? Lantas, bagaimana bisa kalian memaklumi Khadijah yang memilih Muhammad untuk dijadikan suami?

Bu, Pak, sejak ada wacana perjodohan ini, sudah seberapa sering aku berkata tidak mau karena ingin menikah dengan orang yang kusuka? Sudah seberapa sering aku bilang tidak karena memang belum siap menikah? Namun, telinga kalian seolah tertutup dan dengan entengnya malah berkata, “Kalau enggak siap sekarang terus kapan siapnya? Mending sekarang aja nikah. Siap enggak siap nanti lama-lama juga jadi siap.”

Bu, Pak, aku sungguh sudah sangat lelah juga frustrasi memikirkan bagaimana caranya agar suaraku dapat didengar hingga akhirnya aku mendapatkan sebuah ide. Ide untuk pergi meninggalkan rumah dan mulai hidup sendiri. Maaf, aku hanya bisa berbicara lewat surat ini karena kalau bicara langsung, seperti biasa kalian tidak ingin dan tidak akan mau mendengar.

Bu, Pak, tunggu aku dua atau tiga tahun mendatang. Aku akan pulang membawa pasangan dan meminta restu kalian.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Naee

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap