Tahukah Kamu, Jengkol Bisa Menyebabkan Keracunan

Tahukah Kamu, Jengkol Bisa Menyebabkan Keracunan

Jengkol dapat dinikmati dalam bentuk rendang, disemur dengan kecap manis, atau disajikan bersama sambal goreng. Tidak hanya nikmat, jengkol sebenarnya mengandung banyak nutrisi dan memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan.

Meski demikian, penggemar jengkol dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi secara berlebihan, sebab dapat meningkatkan risiko mengalami keracunan jengkol.

Apa itu keracunan jengkol?

Keracunan jengkol, atau disebut juga sebagai jengkolisme, merupakan penyebab pelukaan ginjal akut yang signifikan. Jengkolisme terjadi secara sporadikal akibat konsumsi biji jengkol. Patogenesis yang akurat mengenai jengkolisme masih belum diketahui.

Menurut studi oleh Nur C Bunawan, et al (2014), jengkolisme lebih banyak dialami pria dibandingkan wanita (perbandingan 7:1) dengan peningkatan insidensi pada bulan September hingga Januari, saat musim penghujan di mana pohon jengkol berbunga.

Biji jengkol mengandung senyawa yang disebut asam jengkolat. Dalam setiap 100 gr berat basah jengkol terdapat sekitar 0,3-1,3 gr asam jengkolat.

Di dalam tubuh kita, asam jengkolat akan membentuk kristal seperti jarum. Kristal ini dapat melukai jaringan dalam ginjal dan mneyebabkan pendarahan. Dalam kasus berat, kristal asam jengkolat dapat membentuk endapan pada saluran urin.

Seperti apa gejala keracunan jengkol?

Gejala keracunan jengkol terjadi secara sporadikal. Orang yang pernah mengalami keracunan jengkol sebelumnya tidak selalu mengalami gejala yang sama pada konsumsi jengkol setelah itu.

Keracunan jengkol menimbulkan gejala dalam 2 hingga 12 jam setelah konsumsi, meliputi:

  • Spasme kandung kemih
  • disuria (anyang-anyangan)
  • kolik
  • perut kembung
  • muntah
  • diare
  • konstipasi
  • urin berbusa yang kemudian menjadi urin berdarah
  • urin mengandung protein albumin dan sel epitel

Kebanyakan kasus keracunan jengkol akan membaik dalam 3 hari dengan perawatan suportif. Keracunan jengkol ringan tidak memerlukan pengobatan spesifik, biasanya hanya diberikan obat untuk mengurangi rasa sakit dan infus untuk menjaga hidrasi tubuh.

Keracunan jengkol berat ditandai dengan anuria (tidak diproduksi urin) dan pelukaan ginjal akut.

Bagaimana cara mencegah keracunan jengkol?

Sampai saat ini belum diketahui cara pasti untuk mencegah keracunan jengkol. Hal ini dikarenakan insidensi keracunan jengkol yang rendah.

Di samping itu, gejala keracunan muncul secara sporadik dan tidak terlihat bergantung pada kuantitas (jumlah porsi) atau cara pengolahan biji jengkol. Menurut studi, orang-orang yang memakan hidangan jengkol yang sama tidak semuanya mengalami gejala keracunan.

Selain itu, kerentanan terhadap jengkolisme dan pelukaan ginjal akut akibat konsumsi jengkol terjadi dengan tidak menentu dari satu paparan dan paparan selanjutnya. Jadi meski seseorang pernah mengalami keracunan jengkol, orang itu bisa baik-baik saja saat mengkonsumsi jengkol lagi.

Terdapat dugaan bahwa merebus biji jengkol dalam larutan basa encer akan menghilangkan asam jengkolat dan meminimalisir risiko keracunan jengkol. Akan tetapi, efektivitas dan keamanan cara ini belum dipastikan.

Tapi setidaknya dengan memahami risiko keracunan jengkol, kita bisa lebih mewaspadai dan membatasi diri untuk tidak makan jengkol secara berlebihan. Selain itu, dengan mengetahui gejala yang mungkin ditimbulkan, memungkinkan orang yang mengalami keracunan mendapatkan penanganan medis yang sesuai.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Laila N Faizah