Tak Sanggup Untuk Melangkah

Tak Sanggup Untuk Melangkah 1

Tak terasa sudah telah memasuki 2021, bulan pun dengan cepat juga berganti. Januari sudah dilewati dengan berbagai macam suka dan duka. Mungkin sangat sulit untuk mengungkapkannya. Apalagi masih di masa yang sama yaitu belum berakhirnya wabah Covid 19.

Seperti yang dirasakan Rani. Dia masih SMP kelas 2 di Tembilahan, tentu perjalanannya masih cukup panjang. Terlebih dia juga memiliki seorang adik perempuan bernama Shinta yang masih SD. Ibu dan Ayahnya berjualan gorengan. Semenjak Covid 19, dia juga ikut membantu perekonomian keluarga dengan bekerja di toko baju.

Semenjak adanya Covid 19 ini, keluarganya benar – benar kesusahan dalam mencari nafkah. Namun, itu memang ketika di awal Covid 19 saja. Ibu dan Ayahnya biasanya berjualan gorengan di sore hari. Walaupun demikian, tetap saja berbulan – bulan lamanya gorengan tersebut tidak terlalu banyak pembeli, akibat orang juga takut untuk keluar.

Sedih rasanya, ketika di masa seharusnya bisa bermain bersama teman dan bisa fokus mengerjakan tugas kini hanya khayalan belaka. Ingin rasanya putus sekolah, namun Ibu dan Ayah tidak mengizinkan. Ibu dan Ayah tidak mau anaknya bernasib seperti mereka, hanya tamat SD.

Lelah pastinya ada. Mengingat Rani harus mengerjakan tugas sekolah sekaligus bekerja. Memang di tahun 2020, tidak begitu banyak yang dibicarakan. Hanya otaklah yang terus berpikir, mencari jalan keluar untuk bisa menyelesaikan segala permasalahan.

Terkadang Rani juga merenung dimalam harinya sebelum tidur. Mau menjadi seperti apa dia nanti. Impiannya ingin sekali bisa menjadi seorang perawat. Namun, entahlah semua terasa tidak mungkin baginya untuk mencapai impian tersebut.

Terlebih, dia masih mempunyai seorang adik yang masih kelas 2 SD. Tentu biaya yang dibutuhkan sangatlah banyak, jika dia nanti berkuliah.

“Hmm, sudahlah. Mungkin ini sudah takdirku. Mungkin saja ada jalan terbaik ke depannya.” Ujar Rani.

Rani juga berpikir rumahnya saja sebenarnya harus diperbaiki dan masih banyak lagi peralatan – peralatan yang seharusnya tidak layak pakai lagi. Namun, mau bagaimana lagi? Tidak cukup uang untuk memperbaiki dan membelinya. Hanya bisa untuk makan sehari – hari dan tentunya untuk biaya sekolah.

Memang sekarang sudah tahun 2021, pastinya sudah lebih mendingan daripada di tahun sebelumnya. Gorengan Ibu dan Ayahnya mulai kembali seperti biasanya. Masyarakat sudah mulai berani untuk keluar, namun tentunya dengan mematuhi protokol kesehatan. Namun, walaupun demikian Rani tetap saja melanjutkan pekerjaannya. Dia sangat kasihan melihat Ibu dan Ayahnya bekerja.

Rani juga bekerja membawa adiknya, karena HP mereka hanya 1. Jadi, mereka berganti – gantian untuk pembelajaran daring. Rani juga merasa dia sudah terbiasa ketika mengerjakan tugas sambil bekerja. Bahkan guru banyak yang mengatakan dia termasuk siswa yang sangat rajin dalam mengerjakan tugas.

Tetapi satu hal yang mungkin tidak akan bisa dia gapai, yaitu impian menjadi perawat. Walaupun dia mempunyai tabungan, namun pastinya Rani memikirkan adiknya, orang tua, rumah yang harus diperbaiki, hingga kebutuhan sehari – hari.

Pastinya sangatlah kecewa, hanya bisa memandang orang – orang yang berhasil menjadi perawat. Namun, inilah takdir. Semua dijalani saja dengan penuh keikhlasan. Walaupun diri ini tak sanggup lagi. Tetapi diri ini sadar, bahwa masih ada tanggung jawab yang harus diselesaikan.        

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Rewina Dianti