Tamparan Keras Untuk PSSI Usai Kegagalan Timnas Berangkat Menuju Piala AFF U-23


Tamparan Keras Untuk PSSI Usai Kegagalan Timnas Berangkat Menuju Piala AFF U-23

Kabar mengejutkan datang dari U-23 . Tim yang dijadwalkan akan bertolak menuju Kamboja terpaksa membatalkan keberangkatannya, sekaligus menyatakan mundur dari turnamen .

Timnas sejatinya akan mulai mengawali kiprahnya di Piala AFF  U-23 pada 15 Februari mendatang melawan Laos, dengan batalnya timnas berangkat otomatis tim yang berada di grup B menjadi 3 tim saja.

Keputusan pembatalan ini secara resmi diberitahukan oleh pada Jumat pagi. Yunus Nusi selaku sekjen menjelaskan bahwa pembatalan pemberangkatan ini hasil dari diskusi bersama antara ketua umum, wakil, sekjen, direktur teknik dan tentunya pelatih.

Pembatalan ini tidak terlepas dari melonjaknya kasus Covid-19 yang belum usai. Sebanyak tujuh pemain dan 1 official tim dinyatakan positif Covid-19.

Disamping itu ada juga sebanyak empat pemain dalam masa inkubasi karena satu kamar dengan pemain yang positif. Lebih parahnya lagi terdapat tiga pemain yang mengalami cedera.

Gagalnya timnas U-23 untuk mengikuti piala AFF menyimpan kekecewaan bagi masyarakat Indonesia. Berstatus sebagai juara bertahan ekspektasi terhadap tim ini sangatlah besar untuk kembali memenangkan turnamen.

Setidaknya pasca kasus ini terjadi perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh agar kasus serupa tidak terjadi, berikut dua poin penting yang bisa menjadi perhatian kedepan.

1. Pertegas Status Pemain di Liga

secara resmi memanggil sebanyak 29 pemain pada awal Februari lalu. Pemain-pemain yang notabennya berada dalam kelompok usia U-23 banyak yang statusnya pemain penting di klubnya.

Karena kompetisi masih bergulir disaat badai covid juga melanda, maka klub memutuskan meminjam pemain dan mendapat persetujuan untuk kembali ke klub sementara waktu.

Hal ini kemudian memicu potensi terjangkit wabah Covid-19 mengingat saat ini klub liga 1 sedang di terjang badai Covid.

Selain itu intensitas melakoni pertarungan di liga juga berpotensi menyebabkan pemain cedera dan fokus pemain menjadi terpecah.

Kedepan diperlukan komunikasi yang tegas terhadap klub mengenai status pemain yang dipanggil ke pemusatan latihan timnas.  

2. Perketat Pemusatan Latihan

Pemusatan latihan diperlukan untuk mematangkan taktik dan kondisi tim sebelum bertarung menuju turnamen. Namun kali ini tidak benar-benar konsisten dalam melakukannya.

Pemusatan latihan yang awalnya direncanakan di Jakarta pindah ke Bali, jika melihat situasi saat ini Bali sedang mengalami lonjakan kasus Covid-19.

Timnas baru benar-benar menjalani pemusatan latihan di Jakarta pada tanggal 8 Februari kemarin.

Selain itu kedepan perlu menambah fasilitas pemain sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19 seperti menempatkan pemain dalam kamar yang berbeda beda selayaknya sistem karantina.

Terlepas tidak jadinya Timnas U-23 berlaga di AFF, bagaimanapun juga keselamatan pemain dan official tetap harus menjadi prioritas utama.

Semoga kedepan ada langkah konkret yang dilakukan untuk mengantisipasi kejadian semacam ini tidak terulang.

Baca Juga

Exit mobile version