Tampil beda, itu menakutkan

Tampil beda, itu menakutkan

Kalimat itulah yang paling sering saya dengar dari mereka yang sedang merintis karir, nyaris di bidang apa saja, yang mensyaratkan kemampuan diri untuk tampil.

Misalnya, sebagai penyanyi, sebagai disainer, sebagai dhalang wayang, sebagai pemusik, atau sebagai pelukis, atau aaah banyak sekali contohnya…

Apakah benar itu menakutkan? Bisa jadi benar, jika orang itu sama sekali tidak punya keyakinan diri yang kuat.

Tidak punya bekal atau modal diri yang kuat. Atau, dia tidak punya kekhasan, kebisaan, atau keistimewaan yang bisa diexploitasi.

Seorang sahabat saya, yang seorang dhalang muda, pernah saya kritik, karena cara men-dhalang-nya sangat mirip dengan dhalang idolanya.

Padahal menurut saya, ia mempunyai suara, mutu, langgam, cengkok, dan bahkan cara men-dhalang; yang sebenarnya jauh lebih bagus dari pada dhalang senior yang dijadikan idola bagi dirinya.

Argumentasinya, kalau ditanya, ternyata jujur banget: “Sukar banget Mas, saya kok merasa belum mampu, dan belum sanggup bersaing dengan beliau…”

Saya waktu itu menimpali kerisauan hatinya: “Ya gimana mau bersaing melawan beliau? Kan engkau jauh lebih muda.

Jamannya juga berbeda. Umurmu apalagi, baru juga seumur jagung. Pengalamanmu, kan tak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengalaman beliau.

Tapi, apa ya itu yang membuat dirimu merasa tak sanggup melawan beliau?”

Sahabat muda saya itu mengangguk pelan, membenarkan kata-kata saya. Ia memang amat sangat mengidolakan seorang dhalang wayang kulit senior yang pada masa itu sangat populer.

Semua gaya, peri-laku, sabetan wayang (gaya menggerakkan dan memainkan wayang), anta-wacana (cara melakukan dialog), janturan (gaya bercerita), cengkok (gaya permainan, style), bahkan gendhing yang dimainkannya; nyaris semuanya mengikuti begitu saja, tepat seperti dhalang senior yang dijadikan idola itu.

Dia bisa bercerita berapi-api tentang dhalang idolanya itu, selama berjam-jam. Nyaris semua hal tentang dhalang idolanya itu ia mengetahuinya.

Saya sendiri, juga sering meminta dia bercerita tentang dhalang idolanya itu. Saat ia mendengar permintaan saya, matanya terlihat berbinar-binar.

Seolah hendak mengatakan bahwa ia tahu segalanya tentang dhalang idolanya itu. Dan, dengan penuh semangat, ia lantas bercerita, nyaris tak terputus.

Bisa berjam-jam tanpa berhenti, jika ia sudah bercerita tentang dhalang idolanya itu.

Pada suatu ketika, saya bertanya kepada sahabat muda saya itu: “Engkau bisa bercerita berjam-jam, nyaris tentang semua hal, yang berkait-erat dengan tokoh dhalang idolamu itu. Lalu, bagaimana dengan dirimu sendiri?”

Baca juga  Pro dan Kontra Pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan Timur

Mendengar pertanyaan saya, ia seperti terkejut, menjublak terkesiap. Lama ia berdiam diri sambil memandang saya.

Lalu, perlahan dia bertanya: “Tentang saya?” Saya, sambil menggeliat mengiyakan: “Iya, tentang dirimu sendiri…”

“Saya amat sangat menghormati beliau itu Mas. Kan beliau adalah dhalang idola saya”, begitu kata dia.

Saya menggumam perlahan: “Kalau gitu sih, namanya itu ‘cinta mati’, tak melihat kanan-kiri, tak melihat kenyataan lain, tak melihat dirimu sendiri….” begitu kata saya perlahan.

“Iya kelihatannya saya memang seperti itu Mas. Tapi, itu semua kan karena saya amat sangat menghormati beliau.”

Saat mendengar argumentasinya itu, saya lantas menyampaikan pendapat saya kepadanya, yang meskipun dia sebenarnya akhirnya mau menerima, tetapi dengan perasaan yang amat sangat berat hati, dan sangat terlihat dia seperti tak bisa menerima kenyataan yang saya sampaikan. Tapi, ya itu dia, namanya kan ‘cinta mati’. 

Kepada sahabat muda saya yang amat sangat potensial bakatnya itu, saya bilang: “Orang yang jatuh cinta, apalagi termasuk jenis ‘cinta mati’, itu ada syaratnya loh.

Dan, ada juga indikasinya, yang sebenarnya amat sangat mudah dilihat oleh orang lain. Tahu ndak indikasinya apa?” Begitu sergah saya. Sahabat muda saya itu menggelengkan kepala.

“Orang yang jatuh cinta, apalagi dalam status ‘cinta mati’, itu indikasinya hilang akal….!!!!” begitu kata saya sambil tertawa terbahak-bahak, terpingkal-pingkal sampai air-mata saya ke luar.

“Indikasinya, mudah dilihat oleh orang lain. Hilang akal, tak bisa melihat secara jernih. Tak bisa melihat secara obyektif. Semuanya serba benar, tak ada salahnya, tanpa keliru sedikitpun.

Semuanya serba baik, serba indah, dan serba menarik. Kalaupun ada kesalahan yang dibuatnya, engkau akan menutup mata saja, menutup telinga, dan mengacuhkan saja.

Namanya juga ‘cinta mati’ kan? Engkau lalu menutup diri. Kalau ada orang lain yang menyatakan sesuatu kekurangan tentang diri idolamu itu, juga kekurangan dirimu; engkau lantas merasa orang mulai memusuhi dirimu. Engkau lalu merasa, orang lain iri terhadap dirimu…”

Setelah tertawa terbahak-bahak habis-habisan, saya akhirnya berubah menjadi sangat serius, saat menyatakan bahwa sahabat muda saya itu seharusnya mulai memikirkan dirinya sendiri.

Cinta mati kepada seorang tokoh idola itu baik-baik saja. Tapi, itu semua seharusnya dijadikan bahan renungan, dijadikan bahan rujukan, dijadikan bahan pelajaran kehidupan, dijadikan bahan untuk memperbaiki kemampuan diri sendiri; bukan ditiru habis-habisan.

Baca juga  4 Stereotipe Tidak Benar Tentang UTBK Dan SBMPTN

Saya bilang, seharusnya ia bukan menjadi ‘replika’ dari idolanya. Jangan lupa, semuanya bahkan bisa berubah menjadi kesalahan fatal, manakala seseorang mengikuti begitu saja semua yang diilakukan  oleh idolanya itu.

Sewaktu mendengar penuturan saya, sahabat muda saya itu tiba-tiba saja nyeletuk: “Kok bisa?”

Saya ceritakan kepadanya. Bagaimanapun canggihnya dirinya, saat menirukan idolanya, saat ia memainkan wayang kulit-nya, saat dia melantunkan tembang-suluk-nya, yang semua bukan lagi mirip idolanya, tapi benar-benar sama persis dengan idolanya itu.

Lalu, apa yang didengarnya dari para pemirsa pagelarannya?

“Waaaaaaaah amat sangat mirip dengan Ki Anom Suroto ya,” kebetulan, sahabat muda saya itu amat sangat mengidolakan Ki Anom Suroto, seorang dhalang senior dari Sura-Karta; yang terkenal punya cengkok tembang suluk yang bagus. “Ini sih Pak Anom banget cengkoknya,” begitu bunyi celetukan seorang pemirsa pagelarannya.

“Sukar dibedakan ya dengan gaya main Pak Anom Suroto,” seseorang lainnya menyatakannya.

Tapi, yang membuat saya termangu-mangu, di antara banyak orang yang jadi pemirsa pagelarannya itu, bahkan tak ada seorangpun yang menyebut namanya.

Ya betul! Tak ada satupun yang menyebut, atau menyinggung namanya. Semua orang memuji Pak Anom Suroto, bukan memuji dirinya. Mungkin, bahkan mengingatpun tidak.

Sahabat muda saya itu, seketika terdiam tak bisa berkata-kata. Dalam hatinya dia setuju dengan apa yang saya kemukakan.

Dalam banyak kesempatan dia memang suka menyatakannya kepada saya. Tetapi, ikatan batinnya rupanya sudah terlalu dalam. Sudah sampai pada, ya itu dia, ‘cinta mati’!

Sebenarnya, saya berulang kali sudah menyatakan kepadanya, untuk menggali dan mengembangkan saja berbagai potensi yang ada dalam dirinya.

Berbagai potensi itu, sebenarnya sudah tertanam dalam dirinya sejak lama. Sudah pula berkembang selama beberapa tahun belakangan itu.

Tetapi, semua perkembangannya itu, justru tertutup oleh kharisma Pak Anom Suroto yang memang luar biasa.

Menurut saya, sahabat muda saya itu sendirilah yang menutup semua jalan yang menuju pengembangan potensi dirinya. 

Segala penghormatan, keseganan, rasa rendah diri (minderwardig het complex) itulah; yang menghalangi dirinya untuk melompat jauh ke angkasa meraih mimpinya, untuk menjadi seorang dhalang terkenal.

Saat saya mengatakan hal itu secara terbuka kepada dirinya, ia hanya diam termangu-mangu saja. Penuh keraguan, dan penuh dengan segala pertanyaan; yang semuanya muaranya adalah pada dirinya sendiri.

Bisakah ia menjadikan dhalang idolanya itu sebagai gurunya. Seorang guru yang baik, itu ibaratnya sebagai seorang pemanah.

Baca juga  Mari Menyelami Manusia Korporat

Busur panahnya, adalah alat yang digunakan untuk mencapai sasarannya. Sedangkan murid yang baik, itu bagaikan anak panahnya, yang akan digunakan untuk mengenai sasarannya.

Guru yang baik, saat memanah, akan mengincar sasarannya secara tepat, hati-hati, cermat, penuh perhatian, dan melakukannya dengan sepenuh hatinya.

Tetapi, saat anak-panahnya melesat; ia akan melupakan segalanya, merelakan saja, dan hanya mengingat bahwa ia pernah memanah dan melesatkan sebuah anak-panah menuju suatu sasaran.

Dalam pelajaran kehidupan ini, yang mencapai sasaran adalah anak-panahnya, bukan pemanahnya.

Begitulah, jika seseorang yang mengidolakan seorang tokoh, bisa mengubah peran tokoh itu menjadi guru, dan bukan sesuatu yang harus diikuti habis-habisan; maka suatu ketika nama orang itulah yang akan diingat dan disebut oleh khalayak ramai.

Sedangkan orang yang menjadi idolanya, akan semakin dihormati oleh khalayak ramai, karena ditempatkan sebagai guru yang luar biasa, dan bukan sebagai ‘mal’ (template) bagi diri seseorang supaya orang itu menjadi sama persis dengan dirinya.

Apa yang saya tampilkan itu, benar-benar terjadi sekitar 40 tahun yang lalu, sekitar tahun 1980-an.

Tetapi, cobalah melihat dan merenungkan apa yang terjadi di sekitar kita, saat ini, 40 tahun sejak cerita itu.

Ternyata banyak sekali kondisi yang seperti itu, terjadi bahkan di sekitar kita, bahkan juga saat ini. Empat-puluh tahun, bukan waktu yang pendek.

Kalau selama itu, ternyata hal seperti itu tetap tidak berubah, maka kita jadi punya kesimpulan. Mungkin saja kesimpulan saya salah. Tetapi, bisa jadi kesimpulan saya juga benar.

‘Bahwa, tampil berbeda itu, ternyata memang sukar’.

Meskipun demikian, tetap harus diupayakan dan dijadikan target. Bukan sekedar berbeda begitu saja.

Tetapi, berbeda karena suatu kebisaan tertentu, karena suatu unjuk-kerja yang luar biasa, karena suatu keunikan tertentu, karena ‘cengkok’ yang bagus, karena ‘garap’ yang memang bisa membuat orang merasa terpikat, karena ‘sanggit’ yang luar-biasa, yang bisa membuat pemirsanya tertegun, menangis, menggerutu, atau marah; serta jelaslah karena ia mampu membawa dirinya, ke tingkat yang jauh lebih tinggi, dari pada yang bisa dibayangkannya sendiri; tanpa merendahkan orang lain.

Bahkan, juga tanpa merendahkan guru dan orang yang diidolakannya. Bisakah mencapai semua itu? Ya tentu saja bisa, kalau saja kita punya niat kuat, dan usaha yang luar biasa….

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Bram Palgunadi