Tanaman Pletekan, Sering Dijumpai Namun Banyak Yang Tidak Tahu Manfaatnya


Tanaman Pletekan, Sering Dijumpai Namun Banyak Yang Tidak Tahu Manfaatnya

Pernahkah anda melihat tanaman pletekan? Di mana anda menemukannya? Apakah anda mungkin pernah memainkan buah dari tanaman pletekan?

Tanaman pletekan atau kencana ungu liar adalah gulma yang biasa tumbuh di pinggir jalan, trotoar atau selokan, tanaman ini memiliki bunga yang berwarna ungu sehingga tergolong ke dalam famili Acanthaceae.

Menurut (Munadir, 1990) gulma merupakan tanaman yang dapat tumbuh baik di wilayah yang penuh akan nutrisi maupun wilayah yang hanya memiliki sedikit nutrisi.

Klasifikasi gulma terbagi atas 3 jenis, yaitu gulma golongan rerumputan, gulma golongan tekian dan gulma golongan berdaun lebar.

Jika dilihat dalam klasifikasi, tanaman pletekan termasuk ke dalam gulma berdaun lebar.

Buah dari tanaman ini berwarna hijau, namun ketika buah sudah tua dan masak maka warnanya akan menjadi cokelat, buah dari tanaman pletekan biasa dimainkan dengan cara dicelupkan ke dalam air, bahkan terkadang diletakkan di telapak tangan saja kemudian tutup telapak tangan hingga berkeringat maka buah yang ada di dalam tangan akan meletup dan mengeluarkan biji buahnya.

Letupan yang dihasilkan oleh tanaman pletekan sangat kecil dan tidak berbahaya. Memiliki banyak sebutan diantaranya adalah bunga kencana ungu untuk wilayah Lampung, dan disebut pletekan di wilayah Jawa

Tanaman pletekan memiliki nama lain yaitu Ruellia tuberosa memiliki marga Ruellia, di mana sangat banyak jenis tumbuhan Ruellia, beragam warna bunga mulai dari putih, merah muda, dan ungu.

Namun, yang paling sering dijumpai adalah tanaman Ruellia dengan bunga berwarna ungu.

Bahkan, Ruellia yang berwarna ungu juga memiliki banyak persamaan, sama dalam segi warna bunga namun tetap beda spesies. Seperti contohnya pada Ruellia tuberosa dengan Ruellia simplex.

Gambar 1. Ruellia tuberosa
Gambar 2. Ruellia simplex

Terlihat jelas bukan perbedaannya? Mulai dari bentuk daun, kemudian buah, dan juga batangnya.

Jika Ruellia tuberosa adalah tanaman liar, maka Ruellia simplex adalah tanaman hias.

Pada beberapa tempat buatan seperti hutan kota, atau taman-taman, tanaman Ruellia tuberosa di babat habis untuk digantikan dengan Ruellia simplex, hal itu dikarenakan Ruellia simplex memang cocok dijadikan sebagai tanaman hias, dan juga perbanyakan tanaman jenis ini dapat dilakukan melalui biji atau secara vegetatif melalui stek batang.

Mungkin teman-teman masih tidak menyadari perbedaan dari kedua tanaman tersebut.

Jadi menurut (Steenis, 1988) Ruellia tuberosa memiliki morfologi seperti berkas akar bentuk umbi memanjang, 0,4-0,9 m tingginya.

Batang segi empat tumpul. Tangkai daun 0,5-1,5 cm; helaian daun bentuk memanjang hingga bulat telur terbalik, dengan pangkal berangsur runcingdan ujung tumpul, dengan tepi bergigi, gundul, 6-18 kali 3-9 cm.

Tangkai bunga 0,5-2,5 cm. Kelopak 2-3 cm tingginya. Mahkota 5-6 cm tingginya, kebanyakan ungu cerah, kadang-kadang ungu pucat hingga merah muda pucat atau hampir putih, sebelah luar berambut; tabung sempit pada pangkalnya, diatasnya melebar dan berusuk.

Pinggiran 3,5-5 cm garis tengahnya, taju sama, oval hingga bulat telur terbalik, bergigi menggelombang tidak teratur.

Benang sari tertancap pada puncak dari tabung. Tangkai sari berlekatan berpasangan pada pangkalnya.

Kepala sari berwarna putih. Tonjolan dasar bunga berbentuk bantal. Taju kepala putik 2, yang terdepan lebar, yang paling belakang sangat kecil.

Buah gundul, 2-3 cm panjangnya, membuka dengan 2 katup. Biji tiap ruang 2-20.

Sedangkan pada bunga kencana ungu Ruellia simplex memiliki ciri yang khas pada daun nya, yaitu berbentuk tegak memanjang dengan sedikit kehitaman di pinggir daunnya.

Morfologi lainnya yang tampak pada tanaman Ruellia simplex seperti warna bunganya yang berwarna ungu, yang biru-biru menunjukkan adanya antosianin jenis malvidin yang tersedia dalam jumlah yang cukup besar pada bagian bunga.

Beberapa manfaat yang didapat dari tanaman Ruellia tuberosa antara lain, bunga Ruellia tuberosa dijadikan sebagai pewarna tekstil alami.

Hal ini sesuai dengan jurnal (Hidayah, et, al., 2022) menurutnya hasil analisis pewarnaan kain sutera menggunakan ekstrak daun kencana ungu pada aspek arah warna, ketuaan warna dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian menunjukkan hasil yang berbeda, hal ini disebabkan zat warna alam masuk terlebih dahulu kedalam serat sutera.

Sedangkan dalam manfaat konsumsi menunjukkan sebagai obat-obatan tradisional, berupa pengobatan peluruh batu kencing dan jantung coroner (Hariana, 2004).

Bahkan melalui eksperimen menurut (Chothani, et al., 2011; Rajan, et al., 2012) Ruellia tuberosa memiliki efek sebagai antioksidan, antimikroba dan aktivitas antiinflamasi.

Sedangkan secara fungsi mampu mengobati sifilis, kencing batu, bronchitis, penyakit jantung, pilek, demam, dan hipertensi.

Namun, dari banyaknya manfaat yang terkandung di dalamnya, untuk pemakaian dan pengobatan harus dilakukan menurut resep dokter.

Kita tidak diperkenankan untuk melakukan nya secara mandiri karena takut timbul hal –hal yang membahayakan sebab beberapa penelitian menunjukkan bahwa adanya efek toksik yang muncul jika digunakan secara asal atau bahkan berlebihan.

Referensi

Chothani, D.L., Patel, M.B., & Mishra, S.H., (2012). HPTLC Fingerprint Profile and Isolation of Marker Compound of Ruellia tuberosa. Chromatography Research International, 2012, 180103.

Hariana, A. (2004). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya (Vol.1). Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya.

Hidayah, N., Syamwil, R., Nurrohmah, S.  (2022). Pemanfaatan Gulma Kencana Ungu (Ruellia Tuberosa L) sebagai Pewarna Alami Kain Sutera Menggunakan Proses Post Mordanting. Majalah Farmasi, 14 (1), 47-52.

Munandir, Yody. (1990). Pengantar Ilmu Dan Pengendalian Gulma. Jakarta : Rajawali.

Rajan, M., Kumar, V.K., Kumar, S., Swathi, K.R., Haritha, S. 2012. Antidiabetic, antihyperlipidaemic and hepatoprotective activity of methanolic extract of Ruellia tuberosa Linn leaves in normal and alloxan induced diabetic rats. Journal of Chemical and Pharmacheutical Research, 4(6), 2860-2868.

Steenis, V. (1988). Flora untuk Sekolah di Indonesia. Jakarta: PT Pradnya Paramita.