Tantangan Guru Pedesaan Di Masa Pandemi COVID-19

Tantangan Guru Pedesaan Di Masa Pandemi COVID-19 1

Semenjak  mewabahnya covid-19 terhitung mulai  Tanggal 16 sampai 30 Juni 2021 lembaga Madrasah Tsanawiyah Tarbiyatul Banat Moncek Tengah Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep,  melaksanakan model pembelajaran  BJJ (belajar jarak jauh) dengan media group whatshaf  di semester gasal, dan Model “door to door” di semester genap.  Pemilihan bentuk  BJJ dan “door to door”, karena lebih apik, gampang dan praktis,  dibandingkan dengan bentuk pengajaran online lainnya, seperti Google Classroom, Flipped Classroom, e-Learning Versi Kemenag, dan guru berbagi (Wibsite guru Pasca Corona) yang dirilis Kemendikbud.

Dengan metamorfosis sistem pembelajaran online,  adalah menjadi tantangan baru bagi guru pedesaan,  yang notabeni mereka terbelakang dari aspek informasi,  apalagi mayoritas dari  mereka  gaptek.  Sehebat apapun penawaran  model pembelajaran Versi Kemenag dan Kemendikbud,  Bagi mereka terasa sulit untuk menerapkannya  Apalagi  siswa-siswi yang tidak semua memiliki Hand Phone, sebagai media pembelajaran. Karena hal tersebut sebuah tuntutan, maka  lembaga Kami tetap melaksanakan model pembelajaran  secara online.

Pada semester gasal Tahun pelajaran 2020-2021, MTs Tarbiyatul Banat menggunakan sistem BJJ dalam belajar mengajar, Penulis sebagai guru Mapel Fikih membuat group whatsApp sebagai media untuk penyampaian  materi yang dishare melalui  group WhatsApp  baik teks tulisan, file  gambar  yang di convert ke pdf, file tugas, audio mp3 dan video.

Penyampaian materi yang berupa gambar Seperti materi Wudhu’, Shalat dan lainnya, penulis mendesainnya dengan CorelDraw X7 dengan format satu halaman  yang di convert ke pdf, dan setiap gambar diberikan diskripsi, agar mempermudah pemahaman siswa, sementara pada akhir gambar diselipkan lima pertanyaan untuk bahan penilaian harian.  

Penyampaian materi fikih yang berupa teks ditulis dengan office word lalu di convert ke pdf  dan pada akhir tulisan disertakan lima pertanyaan. Lalu siswa di beri waktu 24 jam dalam membaca dan menelaah tulisan. Penyetoran  jawaban dikirim selambat-lambatnya 2 hari sejak materi dishare. Ternyata model  ini sangat kondusif, meskipun masih terdapat kelemahan.  terbukti dari 10 siswa yang ada di group hanya 2 orang yang tidak menyetorkan.

Pembelajaran dengan bentuk BJJ (Belajar jarak Jauh ) melalui Group WhatsApp berlangsung selama satu semester. Namun pada semester kedua dengan berbagai pertimbangan dari semua kalangan baik wali siswa, Siswa dan pihak guru, pembelajaran di rubah dengan sistem door to door (dari rumah kerumah).

Sebenarnya merunut terhadap  teori  model pembelajaran  tersebut,  penulis tidak pernah menemukan dari berbagai referensi baik buku bacaan , journal dan media cetak,  tentang model “door to door”. Ini hanyalah inisiasi Madrasah kami untuk tetap menjalankan Pembelajaran manual, meskipun coronavirus masih ada. Begitu juga sebagai solusi terbaik dalam ikatan batin antara guru dan murid.

Bapak  Mursid  Selaku Kepala MTS Tarbiyatul Banat,  mengatakan bahwa pembelajaran dengan sistem “door to door”, cocok  diterapkan di  kawasan kami, disamping sulitnya sinyal, apalagi  rata-rata penghasilan orang tua siswa hanya berkisar 800-an ribu perbulan. Begitu juga kalau di tinjau dari sisi agama, penerapan  pembelajaran tersebut lebih barakah, karena di dalamnya terdapat pertemuan dua insan  mulya disisi Allah. Sebagaiman Hadis Nabi “Al-alim wal muta’alllim syarikani fil khair” artinya: Orang alim (Guru) dan murid adalah dua orang  yang berada dalam kebaikan.

Pendedahan “ door to door” adalah model pembelajaran non online, Cuma formasinya yang berbeda dari biasanya. Kepala menjadwalkan guru terdekat di setiap Dusun sebagai pembimbing kelompok. Penulis selaku guru mapel  fikih bertugas pada kelompok bagian  zona selatan Dusun Tengah RT/RW 007/002. Alhamdulillah zona selatan seluruh siswa menyambut dengan baik.

Menurut penulis, model pembelajaran “door to door”  di semester genap ini, lebih apik  dibandingkan dengan model BJJ (Belajar jarak Jauh) pada semester gasal.  Bahkan bentuk pembelajaran tersebut juga lebih menghemat pembiayan bagi wali. Namun bagi guru hal demikian,  merupakan sebuah Tantangan yang harus di tempuh.

Oleh karena itu, berbagai tantangan  bagi  seorang guru adalah sebuah perjuangan yang harus ditanamkan sejak dini dengan nilai-nilai keiklasan, keistiqamahan serta ketabahan dalam menjalankan tugas. Guru adalah pahlawan kemanusiaan,  guru adalah juru penyelamat kebodohan bangsa, guru adalah panutan bagi murid-muridnya, maka hormatilah gurumu niscaya di hari esok engkau akan menuai kesuksesan.

Dengan demikian, di musim pandemi covid -19 yang masih merajalela, penulis selaku guru mapel fikih mengajak seluruh guru yang ada di Sumenep agar senantiasa  istiqamah, tabah dan sabar dalam menjalani tugas, terutama bagi guru yang masih sukwan, Guru Insentif, Guru Kontrak, agar tetap dalam kalimat “Ikhlas karena Allah”. Semoga perjuangan kita selama ini dinilai ibadah oleh Allah.    

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hamdi