Tawuran, Batu Melayang dan Pencarian Identitas

Tawuran, Batu Melayang dan Pencarian Identitas 1

Puluhan oknum pelajar digelandang aparat kepolisian usai melakukan tawuran antar sekolah di sebuah gang sempit ibu kota. Mereka terlibat baku hantam dan perkelahian fisik yang cukup sengit menjelang siang. Mereka juga kedapatan membawa botol, batu, gear motor, bilahan kayu besar, hingga clurit  guna melukai pelajar lainnya yang dianggap lawan dalam tawuran tersebut. Begitu tajuk berita yang kerap kita baca di kolom dan lini masa berita di televisi, radio,  surat kabar hingga media sosial. Begitu kerapnya hingga seolah pembaca dan pendengar sudah sangat akrab dan mahfum dengan fenomena tawuran pelajar. Hingga kini angka tawuran pelajar bukannya semakin berkurang justru semakin membengkak jumlahnya. Bahkan ini  seolah sudah menjadi sebuah bagian kehidupan seorang pelajar dan menjadi ‘ekstrakulikuler’ wajib bagi seorang pencari ilmu.

Ada apa dengan pelajar masa kini yang seolah begitu karib dengan tawuran pelajar ?

Berdasarkan catatan dan laporan aparat dan instansi yang berwajib, tawuran pelajar muncul akibat berbagai penyebab. Diantaranya karena masalah asmara, adu gengsi dan kebanggaan sekolah, factor dendam dan sengketa lama, perilaku agresif yang kian marak , norma yang kian luntur dan persoalan lainnya. Namun, ada sebuah catatan yang menarik dalam dinamika remaja dan pelajar yang sedang bertumbuh dalam sebuah fenomena ini. Sebenarnya, apa yang sedang dipertunjukkan oleh gerombolan pelajar ini lebih tepatnya merupakan bentuk kegelisahan pencarian indentias, pengakuan diri dan eksistensinya sebagai seorang remaja tanggung. Kegamangan dan pertanyaan dalam diri  seorang remaja mengenai ‘Siapa Aku Sesungguhnya’  di dalam dunia yang sedang ditinggali dan dimaknai secara setengah setengah sedang mencari jawabnya.

Segenap kegelisahan soal potensi diri,  kemampuan, kelebihan, keakuan, karakter, makna diri serta apa tujuan di balik itu semua, seolah menyesaki  pikiran dan batin seorang remaja. Termasuk juga keinginan untuk berperan dengan cara pikir yang masih serba terbatas. Tak lepas juga kuatnya rasa ingin membuktikan diri dan menggenapi tantangan di depannya. Kegalauan yang meluap ini, seolah ingin membentuk dan merujuk sosok dan gambaran individu ideal yang identik dengan  sifat perkasa, macho, jantan, gentle, pemberani dan gagah dalam sebuah aksi tawuran di jalanan berdebu. Sekaligus pula menjadi panggung  pencarian eksistensi dan wahana mendapatkan pengakuan jika berani mengepalkan tangan mengangkat batu hingga melempar botol melawan pihak lawan di arena tawuran.  Yah, mereka mungkin akan merasa lebih mudah diterima dan diakui jika sudah memenuhi sebuah prasyarat tak tertulis itu. Mereka juga merasa telah memaknai kepribadiannya , mengambil peranan utuh  dan lengkap jati dirinya jika ikut andil di medan tawuran nan berdarah.

Selain pencarian jati diri, ada sisi lain dalam sebuah fenomena tawuran yakni sebuah dinamika kelompok dimana pelajar menjadi anggota di dalamnya. Dalam pola terjadinya tawuran terkadang dipengaruhi pula rasa solidaritas, kebersamaan dan ikatan emosional yang kuat antar pelajar di sebuah komunitas sekolah tertentu. Mereka seolah ikut bertanggung jawab dengan harkat dan harga diri komunitasnya jika diusik komunitas oposisi. Mereka menganggap, mengusik martabat dan keberadaan kelompoknya sama saja sedang mencari masalah dengan dirinya. Didorong kebanggaan dan fanatisme sempit sebuah kelompok, mereka dengan rela hati berkorban dan berangkat ‘berperang’ melawan musuh.  

Yah, apapun kemungkinan yang melatarbelakangi tawuran pelajar, lagi lagi peran sebuah keluarga , masyarakat yang melingkupinya serta pihak sekolah beserta pemerintah di belakangnya kini dituntut ekstra untuk memberikan ruang dan perhatian lebih bagi pelajar. Penerimaan, penghargaan, suri teladan, edukasi nilai nilai, pemberian kasih sayang hingga rasa cinta dan kepedulian walau terkesan sepele bisa jadi mujarab untuk mengisi pribadi dan jati diri pemuda menentukan arah dan konsep dirinya. Daripada menjejali mereka dengan kekangan tuntutan , dogma kaku dan kekerasan untuk membentuk diri mereka menemukan makna dan hakikat diri di masa dewasa kelak. (NATA)

“Sebenarnya, apa yang sedang dipertunjukkan oleh gerombolan pelajar ini lebih tepatnya merupakan bentuk kegelisahan pencarian identias, pengakuan diri dan eksistensinya sebagai seorang remaja tanggung. Kegamangan dan pertanyaan dalam diri seorang remaja mengenai ‘Siapa Aku Sesungguhnya’ di dalam dunia yang sedang ditinggali dan dimaknai secara setengah setengah sedang mencari jawabnya”

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Christof Nata