Telepon Terakhir dari Kakak


Telepon Terakhir dari Kakak 1

“Siapa sosok hebat yang paling kalian kagumi?”

Aku yakin beberapa di antara kalian akan menjawab dengan jawab yang sama dan aku termasuk di dalam golongan ini. Entah sudah berapa kali aku mendapatkan tema yang sama untuk menulis selama bersekolah, dari SD hingga SMA pada pelajaran Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Mungkin lebih dari lima kali?

Entah. Yang penting jawabannya selalu sama, yaitu Kak Aila. Karena dia selalu tahu akhirnya.


Telepon berdering di hari Sabtu pukul 7 malam. Rumahku sepi, ibu dan bapak ada di kamar tengah berdiskusi sesuatu yang penting. Akhirnya aku berlari menuruni tangga untuk mengangkat telepon yang masih berdering nyaring.

“Halo? Selamat malam,” sapaku seperti biasa.

Hening. Aku hanya mendengar suara napas yang terengah-engah dan aku menahan napas.

“Kak Aila?” Tanyaku dengan suara berbisik, nyaris tak terdengar. Tapi Kak Aila memiliki telinga yang awas sejak dulu. Bahkan ketika suara vespa milik bapak masih di ujung gang masuk menuju rumah, dia pasti sudah berseru kalau bapak pulang.

“Mawar? Bapak mana?” Tanya Aila dengan suara berbisik.

“Di kamar, Kak. Kenapa telepon? Habis lari-lari ya?” Tanyaku penasaran. Aku melilit kabel telepon dengan jari telunjuk dibantu jari tengahku dan menempelkan bokongku ke sofa untuk duduk.

“Iya. Tolong panggil, penting!” Serunya cepat. Dia terdengar panik dan aku bisa merasakannya. Buru-buru aku berteriak sambil menutup bagian bawah gagang telepon agar teriakanku tidak mengganggu pendengaran Kak Aila.

“Pak! Bapak! Ada telepon!”

Aku kembali menempelkan gagang telepon ke telinga, mengawasi kakakku yang masih terengah-engah.

“Kak?” Panggilku pelan.

“Aku bakal pulang pas ulang tahunmu nanti,” kata kak Aila di seberang sana. Aku tersenyum, senang mendengarnya. Akhirnya kakakku satu-satunya ini akan pulang, setelah berbulan-bulan bagai hilang ditelan bumi.

Suara langkah Bapak dan Ibu mulai terburu-buru menuruni tangga dan saat itu aku mendengar dia berkata, “Segera tutup teleponnya!” Dan aku mendengar bunyi Duk! yang keras.

“Kak? Kak Aila!” Panggilku panik sambil berteriak. Tak lama, seseorang bicara di telepon itu. Bukan kepadaku, tapi entah pada siapa.

“Keluarganya. Datangi rumah mereka.”

Aku menutup mulut dan menahan napas. Segera kututup telepon itu dengan satu bantingan, bahkan kucopot sambungannya dan kuhempaskan ke lantai. Yang kulihat hanyalah kekacauan pandangan ibu dan bapak malam ini.

Aila tertangkap?


“Mawar, ada rencana mau buat apa?” Tanya Bapak sambil meminum kopi hitamnya yang masih mengepul dari cangkirnya.

Aku menggaruk kepalaku pelan, terasa gatal tiba-tiba.

“Mawar bingung, Pak. Sempat terpikir video, tapi belum terpikir isinya apa,” jawabku ragu. Sudah semalaman aku berpikir untuk membuat apa pada aksi tahun ini.

“Dokumenter gimana, Pak? Isinya ada 3 nanti. Pertama bapak, lalu ibu, terakhir aku?” Usulku dengan penuh keraguan. Karena bapak sering menolak untuk membuat video yang berkaitan dengan peristiwa yang satu ini. Katanya selalu tak sanggup untuk menuturkan ulang bagaimana Kak Aila hilang. Bahkan dulu, ketika kesaksian harus disampaikan, bapak memutuskan untuk menulis berlembar-lembar halaman.

Kali ini juga sama, Bapak hanya menggeleng dengan rasa pasrah. Aku juga sama, pasrah dengan pilihan Bapak untuk menuliskan sekali lagi perasaan sepi kehilangan Aila untuk aksi Kamisan tahun ini.


Berbeda dengan ulang tahun setahun yang lalu, tahun ini keluargaku didatangi kumpulan orang bertubuh besar yang tidak kukenali sama sekali. Tidak ada suasana meriah, justru hening dan mencekam.

Lima orang laki-laki dengan rambut cepak ini masuk ke rumah sejak jam 5 sore tadi. Menanyakan perihal Kak Aila yang tidak kami ketahui sama sekali. Bapak dan Ibu dicecar dengan berbagai pertanyaan yang hanya membuat pening kepala. Aku bertanya-tanya, di mana Kak Aila?

“Aila telepon kesini kan seminggu lalu?” Tanya salah satu lelaki yang duduk paling dekat dengan Bapak.

Bapak mengangguk lemah. Dia tak berani berbohong, sebab lelaki itu menenteng pistol. Entah apakah pistol itu berisi atau tidak.

“Dia bilang apa?” Tanya lelaki itu kembali. Bapak hanya menggelengkan kepala. Bapak jelas tak tahu apa-apa, sebab akulah yang menerima teleponnya.

Salah seorang lelaki yang duduk di paling ujung sofa mengarahkan dagunya kepadaku. Aku terdiam dan hanya mematung. Badanku seolah menempel pada tembok dingin tempat aku menyandarkan diri.

“Aila, ya? Sini, nak. Om mau tanya sesuatu,” kata lelaki yang tadi berbicara dengan bapak sambil tersenyum. Senyum yang membuatku muak hari ini. Aku memandang Bapak yang menatapku khawatir.

Aku berjalan pelan menghampiri orang-orang itu dengan mata yang menatap ubin. “Kak Aila cuma janji akan pulang hari ini,” kataku cepat. Aku tak tahan dengan orang-orang ini.

“Oh gitu ya. Kakak bilang mau ke mana setelah itu?” Tanya laki-laki itu sekali lagi.

Aku mengangkat kepalaku dan memandangnya. Seberkas harapan jatuh di kepalaku hari ini. Kak Aila belum tertangkap? Mataku menyipit, memandang penuh selidik pada lelaki itu. Tapi yang kudapati hanyalah tatapan dingin yang sedari awal sudah ditunjukkannya.

Aku menggeleng dengan mata yang masih menatapnya. Kurasa pada hari ini aku tahu bahwa kakakku tidak akan pulang dan hadir di acara ulang tahunku. Seharusnya aku yang menerima hadiah hari ini, tapi sebaliknya. Aku yang akan memberikan hadiah padanya, suatu tindakan yang kuharap menyelamatkan nyawanya.


Aku membuka pintu kamar Kak Aila dan menemukan tumpukan buku catatan di mejanya. Entah ada berapa. Aku tak mungkin menghitungnya lagi. Buku-buku ini selalu diberikan Ibu sebagai kado ulang tahunnya dengan alasan, buku catatan Aila pasti habis karena sering menulis.

Aku mengambil buku terbawah dari tumpukan, dan mengucapkan mantra yang sama setiap aku mengambil buku-buku ini.

“Kak Aila, minta satu ya bukunya. Kan kakak punya banyak,” kataku sambil tersenyum. Kemudian aku melangkah tergesa-gesa keluar dari kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat.

Kau tahu perbedaan dunia manusia dan hantu yang sering digambarkan dengan atmosfer mencekam? Ada atmosfer yang berbeda ketika aku masuk ke kamar kakak dan kembali ke duniaku sendiri. Di kamarnya selalu terasa terang benderang, sementara di sini terasa sepi, seperti aku sendirian. 

Tanpa aku sadari Bapak sedang memandangku dari tangga, dia hanya diam sambil menenteng satu buah dus di tangannya. Ketika aku tersadar dan memandangnya, aku mendapatkan ide untuk aksi Kamisan tahun ini. Di dus itu, semua tulisan Kak Aila terkumpul menjadi satu.


Setelah berbulan-bulan rezim orba tiada, satu per satu orang yang mengaku teman Kak Aila datang. Kami sekeluarga sama sekali tidak mengenal mereka dan hanya mengangguk-angguk ketika mereka bercerita mengenai Aila. Kepala kami dipenuhi oleh pikiran, kapan dia kembali?

Sampai akhirnya salah satu teman Kak Aila itu membawa kami ke salah satu kamar di rusun Klender.

“Ini kamarnya Aila, Pak, Bu,” katanya sambil mempersilakan kedua orang tuaku masuk. Teman perempuan kak Aila merangkulku pelan dan mendorongku untuk ikut masuk ke sana.

Ibu sudah merosot ke lantai, disusul dengan Bapak yang memeluk Ibu menenangkan. Bapak merapal mantra yang sama, “Sabar, sebentar lagi dia pulang.”

Aku hanya tersenyum dan menghela napas keputusasaan. Jika benar Aila akan kembali, maka kami sekeluarga tak perlu ke sini. Tapi tanpa sadar, kami sudah kehilangan sosok Aila secara perlahan, sehingga kami memutuskan untuk mampir ke tempat yang sempat disinggahi Aila. Berharap di sini ada jejak yang bisa mendukung eksistensi Aila yang masih hidup.

Namun, kamar yang tak terurus itu hanyalah salah satu pertanda bahwa kami harus berlapang dada.

Aku mengitari kamar kecil itu dan menemukan setumpuk buku di bagian dalam lemari yang tertutup alas kayu. Awalnya aku tak menyadari bahwa di sana ada tempat penyimpanan, namun teman Kak Aila yang menunjukkannya. Di dalamnya ada tumpukan kertas yang dipenuhi dengan tulisan tangan Kak Aila. Entah apa yang ditulisnya, karena pandanganku gelap seketika.


“Bapak, kalo dokumenternya berisi gambar-gambar tulisan Kak Aila. Gimana? Nanti ada sedikit narasinya, tapi biar Mawar yang isi,” Tanyaku mengusulkan.

“Boleh.”

Setelah mendapat izin dari Bapak, aku mulai mengumpulkan beberapa tulisan yang pernah ditulisnya. Aku yang memutuskan kalau judul dari dokumenter ini adalah “Telepon Terakhir dari Kakak”, karena sebelum Kak Aila menyuruhku menutup telepon dia berkata, “Maaf, karena ini telepon yang terakhir”. Sepertinya dia tahu kalau dia akan pergi dan tidak bisa menelepon lagi.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Carter

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap