Teman tapi Tak Tampak – Bagian 2


Teman tapi Tak Tampak - Bagian 2 1

Bagian 2. Si kakek mendorongku ke belakang menjauhi sosok itu.  Melihat kakek, sosok itupun langsung menjauh mundur ke arah pohon mangga .  Aku segera kembali ke kamarku dan kulihat tubuhku masih terbaring di kasur.  Segera aku mendekati ranjang dan tiba tiba aku sudah kembali ke tubuhku.

Paginya aku bangun dalam keadaan letih dan berkeringat, kepalaku masih sedikit pusing.  Aku masih bingung dengan kejadian semalam.  Apakah kejadian itu hanya mimpi atau memang nyata.  Tak ingin berlama-lama mengingat kejadian semalam, aku baru sadar bahwa ini hari Senin ada upacara bendera di pagi hari, aku harus segera berangkat ke sekolah.

Setelah sarapan, aku segera berangkat ke sekolah bersama kakakku Novi dan Rico dengan berjalan kaki.  Karena sekolahku kebetulan lumayan dekat dari rumah.  Saat berjalan aku merasa ada yang mengikutiku di belakang.  Tapi ketika aku menoleh tidak ada orang maupun makhluk halus yang mengikutiku.  “Ah, mungkin itu hanya perasaanku”, pikirku.

Sepulang sekolah setelah makan siang, aku menyempatkan bermain di kebun belakang bersama kak Novi dan Kak Rico.  Kak Novi melukis di bawah pohon mangga, Kak Rico duduk di teras belakang asyik main game.  Aku berkeliling mencari tempat orang-orang yang kulihat kemarin malam berkumpul.  Tetapi siang itu tak satupun dari mereka kutemukan.  Ada gudang di belakang rumah.   Semenjak pindah rumah aku belum pernah mengunjungi bangunan gudang itu disamping karena kondisinya yang kotor, nampaknya ada banyak “penghuni” di situ.  Aku mendekati gudang dan kurasakan ada banyak mata yang mengawasiku.  Aku coba membuka pintu gudang, ternyata tidak dikunci. 

Kreeeek…..pintu gudang berderit tanda jarang dibuka.  Seketika udara lembab dan bau debu langsung menyergap hidungku.  Tidak ada yang istimewa selain tumpukan barang-barang tua.  Sepintas kulihat ada bayangan-bayangan hitam berkelebat di dalam gudang yang tidak jelas bentuknya.  Kudengar Kak Novi memanggilku, “Angga jangan ke situ, nanti kamu kotor!  Di situ banyak tikus loh”.  Perasaanku mengatakan ini tidak baik, segera kututup pintu gudang dan kembali ke rumah.

Malamnya, badanku panas dan aku merasa  lemas.  Ibu cemas melihatku, “Kamu kenapa?  Ibu antar ke dokter ya, ayo segera bersiap ganti bajumu dulu”.   Kak Novi ikut bicara, “Kayanya kamu kena sawan ya gara-gara main di gudang siang tadi.  Aku sudah mengingatkan dia bu, agar jangan masuk gudang, tapi dia tetap nekat masuk”.    Malam itu aku ke dokter bersama ayah dan ibu.  Dokter mengatakan aku hanya kecapean.  Setelah diberikan obat resep, kamipun pulang.

Malamnya aku terbangun karena ingin ke kamar mandi.  Ketika berjalan ke kamar mandi, aku melihat sekelebat bayangan pria tinggi langsing mengikutiku.  Tapi ketika aku menoleh bayangan itu hilang lagi.  Aku takut dan berlari ke kamar orangtuaku.  Dengan panik kuketuk kamar mereka “Ibu, tolong temani aku, aku takut sendirian”.  Ibu keluar kamar, meraba keningku, “Kamu masih panas padahal sudah minum obat ya”.  “Ayo bu, temani aku di kamar, aku takut tadi ada yang mengikutiku”.  Ibupun akhirnya mau menemaniku di kamar dan akupun bisa tidur dengan tenang.  

Tengah malam aku terbangun, terdengar ada suara memanggil-manggil namaku.  “Angga….Angga bangunlah, mari ikut aku”.   Kubuka mataku dan aku dapat melihat dengan jelas sosok pria tinggi langsing berwajah rata yang kulihat kemarin di halaman belakang.  Tangannya yang panjang dan berkuku tajam meraih tanganku.  Aku ingin berteriak memanggil ibuku tapi tak ada suara yang keluar, aku ingin bergerak bangun dan memeluk ibu tapi badanku kaku tak bisa bergerak. Tangannya terasa dingin ketika menyentuh tubuhku, dan tiba-tiba aku sudah berdiri di sampingnya bergandengan tangan.  Aku menoleh ke ranjang dan kulihat tubuhku berbaring di ranjang bersama ibu.  “Siapa kamu, mengapa kamu ingin mengambilku?”, tanyaku.  Kudengar dia berkata,  “Panggil aku Mike, kamu tidak usah takut, ikut aku jangan membantah”.  Aku yang ketakutan hanya bisa menurut saja mengikuti dia keluar kamar. 

Sesampainya di ruang makan, aku melihat Tuan Muller menghadang Mike dan membentaknya,  “Jangan bawa anak itu, kau sudah melanggar perjanjian kita dan masuk ke wilayahku”!  Terdengar Mike berkata dengan dingin,  “Anak ini milikku, dia sudah memasuki wilayahku tadi siang dan aku suka anak ini”.  Pergi dan jangan ikut campur urusanku”!   Wajah Tuan Muller tampak geram karena marah,  “Kau sudah mengambil Greta dan Fredrich dariku.  Kemudian anak-anak lain yang menghuni rumah ini juga kau ambil.  Apa sebenarnya yang kau inginkan?” Tuan Muller bergerak cepat meraih tanganku.  Sehingga jadilah aku diperebutkan Tuan Muller dan Mike.  Mike mengayunkan tangannya menghalau Tuan Muller hingga Tuan Muller terlempar.  Tuan Muller tak mau kalah, dia balik mendorong Mike hingga aku dan Mike terlempar. 

Si Kakek pelayan Tuan Muller muncul dan berusaha menghalangi Mike membawaku.  Tapi diapun dapat dihalau oleh Mike.  Nampaknya Mike ini makhluk yang lebih kuat energinya dibanding mereka.  Mike memelukku dari belakang dan menancapkan kukunya di leherku sambil berkata, “Kalau kalian masih menghalangi aku, anak ini akan mati”!  Tuan Muller dan kakek mengejar Mike, namun ketika Mike sudah sampai di halaman belakang, mereka berhenti mengejar.  “Jangan coba-coba melanggar wilayahku atau kalian semua akan mati !” ancam Mike. 

Mike membawaku ke gudang di halaman belakang.  Orang-orang yang berkumpul dihalaman belakang itu nampaknya anak buah Mike.  Situasi gudang berbeda dengan yang kulihat tadi siang.  Dalam dimensi dunia Mike, gudang itu adalah sebuah rumah besar dan luas dengan banyak ruangan di dalamnya. Seluruh ruangan disinari cahaya dari lampu pijar.  Aku dibawa ke sebuah ruangan besar seperti aula.  Ada banyak permainan anak-anak yang menarik di dalamnya dengan beberapa anak kecil seusiaku yang sedang bermain.  Ada noni dan sinyo belanda yang memakai busana jaman kolonial, ada anak-anak yang memakai pakaian tradisional jawa kebaya dan beskap, ada yang berpakaian modern tapi seperti model lama antara tahun 50-an sampai 80-an. 

Jika diihat dari model pakaian yang mereka kenakan, tampaknya sukma mereka sudah lama diculik oleh Mike seperti aku dan tak bisa kembali ke dunianya.  Mike menunjuk ke arah mereka dan berkata  “Ada banyak permainan anak di sini, bermainlah bersama mereka”.  “Siapa mereka itu?   Apakah mereka juga kau culik seperti aku?”, tanyaku.  “Kau lihat noni dan sinyo itu, mereka adalah anak dari Tuan Muller “.  Sedangkan anak-anak yang lain kuambil dari anak-anak orang-orang yang menghuni rumah itu setelah Tuan Muller”. 

Aku ketakutan dan memohon pada Mike, “Tolong keluarkan aku dari sini, aku mau pulang nanti ibu mencariku” aku mulai menangis memohon.  “Tidak bisa, kau sudah jadi milikku.  Untuk mengambil kamupun aku kesulitan karena kamu kuat.  Tapi kemudian kamu memasuki wilayahku, sehingga aku lebih mudah mengambilmu.  Aku dan Tuan Muller memiliki batas wilayah sendiri.  Rumah dan pabrik es adalah wilayah Tuan Muller, sedangkan wilayahku ada dihalaman belakang dan gudang ini”.  Aku tak punya pilihan lain selain hanya menurutinya.  Walaupun banyak permainan anak di situ tapi aku tak berminat sama sekali.  Aku hanya duduk di pojok dinding sambil mencari kesempatan untuk keluar.  Sengaja aku pilih tempat yang mendekati pintu.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku duduk di pojokan.  Mike tidak nampak disekitarku.  Kulirik pintu gudang yang tertutup, sepertinya aman tidak ada yang menjaga pintu.  Perlahan kugeser posisi dudukku pelan pelan mendekati pintu dan aku berhasil mendekat dan membuka pintunya.  Aku segera berlari keluar menuju rumah.  Jarak dari gudang ke rumah sebenarnya tidak jauh, aku sudah berlari sekuat tenaga tapi anehnya tidak pernah bisa sampai ke rumah seperti lari di tempat saja.  Tiba-tiba muncul di depanku 2 orang yang tadi sempat kulihat nongkrong di sekitar halaman belakang.  Mereka mencegatku dan membawaku kembali ke gudang. 

Aku meronta-ronta berusaha melepaskan diri tapi mereka lebih kuat.  Sampai di gudang, Mike sudah menungguku.  “Berani sekali kamu berusaha lari dari aku.  Sebagai hukuman kamu akan kukurung di kamar gelap”.   Aku ketakutan dan berteriak, “Jangan, aku takut gelap, tolong aku mau pulang !”, aku mulai menangis.  Mereka mendorongku ke dalam ruangan kecil dan gelap, kemudian menutup pintunya.  Aku menangis putus asa membayangkan berpisah dengan orang-orang yang kucintai, ayah, ibu, Kak Novi dan Kak Rico.  Perutku terasa lapar,  terbayang masakan ibu yang lezat yang mungkin tidak bisa lagi kunikmati, badanku terasa letih, kotor dan berkeringat.   Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain berdoa memohon pertolongan Tuhan karena hanya Dia yang mampu menolongku.  Tidak berapa lama aku melihat seberkas cahaya putih masuk dari bawah pintu.  Cahaya itu makin lama makin besar dan terang.

Bersambung

 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Freya

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap