Teman tapi Tak Tampak – Bagian 3


Teman tapi Tak Tampak - Bagian 3 1

Bagian 3. Pintu terbuka, aku melihat orang tua berpeci dan berbaju koko putih menghampiriku. Di belakangnya tampak 3 orang berbaju putih,  membawa pedang.  Sepertinya mereka anak buah dari orang tua itu.  “Kamu tidak apa-apa kan?  Mereka belum memberimu makan dan minum kan?, tanyanya cemas.  “Aku tidak apa-apa, hanya merasa capek”, kataku.  “Ayo kita pergi”, katanya sambil menarik tanganku.  Kami segera berlari keluar, ketika melewati ruang bermain kulihat anak-anak itu masih bermain di sana. 

Aku berhenti berlari dan meminta si orang tua itu berhenti.  “Tunggu, bisakah mereka ikut kita pergi juga?  Kasihan, mereka juga diculik, pasti keluarganya sudah lama mencari mereka”.  “Aku tidak bisa membawa mereka karena mereka sudah puluhan tahun bahkan ratusan tahun pergi.  Seandainya bisa kembalipun, tubuh mereka sudah tidak bisa menerima mereka dan keluarganyapun sudah tidak bisa mengenali mereka karena orang tua mereka sudah tidak ada.  Aku hanya bisa membebaskan mereka dari Mike”.

Ketika kami sudah mendekati pintu keluar, tiba-tiba Mike menghadang di depan pintu, “Siapa Kamu, berani-beraninya kamu mengambil  anak itu!  Tinggalkan dia atau kau akan kujadikan budakku dan tak bisa kembali ke dunia lagi!, terdengar suara Mike.  Mike menjulurkan tangannya yang panjang mencoba merebutku.  Namun sebelum dia berhasil meraihku, orang tua itu sudah menepis tangan Mike dan mendorongnya.  Mike terhuyung jatuh ketika dia mencoba bangun, para pengawalnya langsung bergerak mengayunkan pedang ke arah Mike. 

Kami terus berlari namun para pengawal Mike sudah menghadang.  Kulihat orang tua itu berdoa kemudian mengibaskan tangannya ke arah mereka.  Mereka semua terlempar jauh dan terbakar.  Akhirnya kami sampai di beranda belakang rumah  dan segera menuju ke kamar.  Aku melihat tubuhku yang terbaring di kasur, segera aku mendekatinya dan akhirnya aku bisa kembali ke tubuhku.

Ketika aku bangun, kulihat di situ telah berkumpul ayah, ibu, Kak Rico dan Kak Novi mengerumuni tubuhku yang terbaring di kasur.  Aku juga melihat orang tua itu duduk di sisi ranjang didampingi 3 orang lagi.  Ibu menyambutku bahagia, “Syukurlah akhirnya kamu selamat.  Sudah sejak kemarin kamu tidur terus tidak bisa dibangunkan, tapi kamu terus mengigau menyebut nama Mike, minta dilepaskan dan pulang.   Ayahmu  akhirnya menyadari sakitmu bukan karena faktor medis, kemudian dia minta bantuan Ustadz Darwis teman semasa SMA dulu untuk menolongmu.  Ustadz Darwis akhirnya kesini membantumu bersama 3 orang santrinya”.   

Aku terkejut,  “Berarti aku sudah sehari terbaring sakit dan percakapanku dengan Mike mereka juga tahu.  Bagaimana mungkin….aku baru beberapa jam di sana”,  kataku heran.  “Waktu yang berlaku di alam mereka berbeda dengan kita.  Bisa jadi kamu merasa baru pergi selama beberapa jam saja, tapi menurut waktu di bumi, kamu sudah meninggalkan dimensi manusia selama 1 hari”, Ustadz Darwis menjelaskan.  Kemudian dia menoleh pada ayah dan berkata,  “Kau ini bagaimana, anak sudah mau diambil makhluk gaib kenapa tidak segera minta bantuanku.  Terlambat sedikit Angga sudah tidak bisa pulang ke tubuhnya lagi.  Untung saja makhluk itu belum memberinya makanan dan minuman.  Kalau dia sampai makan dan minum makanan mereka, sakitnya akan makin parah”. 

Kemudian dia memberiku segelas air yang sudah dibacakan doa, “Minumlah ini untuk menetralkan energi buruk tubuhmu”.   Dia memberi ibu sebotol air dan berkata, ” Ini aku beri air yang sudah dibacakan doa.  Minumkan setiap malam 1 cangkir”.   Aku meminumnya, seketika rasa letih dan capek dibadanku berangsur hilang.  Ustadz Darwis melanjutkan lagi, “Untuk mencegah makhluk-makhluk gaib di gudang itu menggangu lagi, aku sarankan gudang itu dibongkar saja daripada menjadi pesanggrahan jin jahat”.   “Angga, kamu berhati-hatilah ketika memasuki suatu tempat.  Apalagi kalau masuk rumah tua yang jarang dirambah manusia”, kata Ustadz.   “Baik Ustadz, lain kali aku akan lebih hati-hati lagi. 

Bisakah Ustadz menghilangkan kemampuanku melihat makhluk-makhluk gaib itu?  Aku tidak nyaman dengan keadaan ini”, kataku.   “Tidak bisa Angga, itu sudah menjadi takdirmu.  Kalaupun saat ini kututup pandanganmu, besok-besok kamu tetap bisa melihat lagi.  Kalau kamu melihat mereka, bersikaplah seolah kamu tidak melihat, menghindarlah jangan berkomunikasi dengan mereka apalagi kalau mereka jahat, “, jelas Ustadz Darwis.   “Ibu, aku lapar sekali, aku minta makan”,  kataku sehingga semua orang di situ tertawa.   “Ya..ya..ya ibu suapi kamu makan ya.   Ayo semua makan dulu, aku sudah menyiapkan hidangan untuk kita semua”, kata ibu.

Sejak itu aku sudah tidak takut sendirian di kamar lagi.  Mike sudah dibuang Ustadz Darwis ke suatu tempat yang aman.   Malamnya aku bermimpi Tuan Muller menemuiku dia terlihat bahagia.  Aku melihat Sinyo dan Noni Belanda yang kulihat digudang bersamanya.  “Terimakasih, akhirnya Fredrich dan Greta bisa kembali.  Sudah lama kami sekeluarga menunggu mereka.  Kini kami sudah berkumpul kembali”.

Itulah pengalamanku di masa kecil memasuki dimensi alam lain.  Begitu melelahkan dan kuharap kedepannya aku hanya bertemu dengan makhluk-makhluk yang baik saja .  

TAMAT


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Freya

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap