Teman tapi Tak Tampak


Teman tapi Tak Tampak 1

Bagian 1. Menjadi anak indigo tidak semudah yang dibayangkan orang.  Pasti orang akan membayangkan menjadi indigo bisa beken seperti Roy Kiyoshi.   Kenyataannya menjadi anak indigo adalah beban bagiku.  Sejak balita setiap aku melewati tempat-tempat dimana makhluk astral itu berada, selalu saja ada bayangan sosok berkelebat mulai dari yang cantik tampan seperti manusia pada umumnya, hingga makhluk menjijikan seperti alien.  Hal itu membuatku jadi rewel tidak bisa tidur di malam hari jika bertemu dengan makhluk seperti alien.  Tetapi jika makhuk astral itu berwujud manusia, aku menganggap mereka adalah teman-teman keluargaku.  Waktu itu aku heran kenapa orang-orang di sekitarku tidak dapat melihatnya.  Padahal mereka berada dekat dengan kami.  Terkadang aku dapat memasuki dunia mereka melalui portal di tempat-tempat yang tak terduga. Tetapi setelah aku berkomunkasi dan masuk ke dimensi mereka, hal itu selalu membuat energiku terkuras habis.

Pengalaman berada di dimensi makhluk astral berawal waktu aku berumur 8 tahun.  Ketika itu ayah yang bekerja di sebuah Bank mendapat  rumah dinas perusahaan peninggalan jaman Belanda yang kebetulan lokasinya dekat dengan kantor ayah yaitu di belakang kantor.  Pemisah dengan halaman kantor bank hanyalah sebuah gudang arsip.  Dari cerita orang-orang lama, gudang arsip itu awalnya sebuah pabrik es di jaman penjajahan Belanda dan rumah yang kami tempati adalah rumah pemilik pabrik es.   Waktu kami pindah ke rumah itu, setiap jam 01.00 malam lebih, aku selalu mendengar ada suara orang bekerja menggergaji dan memotong es.  Pernah aku coba ketika suara itu terdengar, aku bergegas menuju pabrik es siapa tau ada orang iseng membuat suara.  Namun ketika aku sampai di sana, suara tersebut hilang dan tidak ada satu orangpun di situ .  Aku juga menemukan bahwa begitu banyak penghuni di rumah itu.  Ada Keluarga Belanda Tuan dan Nyonya Muller, Oma Muller (ibu dari Tuan Muller), anak-anaknya Marry dan Shefa beserta 5 orang pelayannya.  Mereka berwujud manusia dengan pakaian kuno seperti tahun 1930 an awal.    

Perjumpaan pertama dengan Tuan Muller bermula pada hari Minggu disaat aku sedang asyik mengerjakan PR di dalam kamarku sendirian.  Di dalam kamarku ada sebuah lemari kayu besar kuno dengan kaca di pintunya.  Lemari itu adalah inventaris kantor yang keberadaannya di situ tidak ada yang tahu sejak kapan. Tiba-tiba dari  arah lemari datang seorang pria bule tampan, berambut pirang, bermata biru berumur sekitar 40 an, bertopi dan memakai jas seperti Charlie Chaplin datang menghampiriku sambil tersenyum.  “Halo Angga ” sapanya.  Aku terkejut, bagaimana dia bisa tahu namaku.  Tampaknya dia mengerti keherananku.  “Ayah ibumu dan kakak-kakakmu biasa memanggimu begitu kan ” katanya.  “Ayo ikut aku, akan kukenalkan kamu dengan keluargaku”,  diulurkannya tangannya yang bersarung tangan putih itu kepadaku.  Dia memang ramah dan tampan tapi aku sedikit takut, “Aku tidak boleh keluar rumah jauh-jauh, nanti ibu bingung mencariku” , kataku.  “Rumahku tidak jauh kok, tenang saja aku akan menjagamu” , kata Tuan Muller sambil meraih tanganku. 

Diajaknya aku berjalan ke arah lemari, kemudian Tuan Muller melangkahkan kaki ke arah cermin di pintu lemari itu.  Aneh,  kaca itu seolah mencair, separuh kaki Tuan Muller sudah berada dalam cermin.   Aku mencoba mencolokan jariku ke dalam cermin itu.  Sebagian jariku tenggelam dalam cermin itu.  Aku terkejut dan menarik tanganku dari cermin.  Rasa ingin tahuku kemudian mulai mengalahkan rasa takutku.  Aku mengikuti Tuan Muller masuk ke dalam cermin dan yang kulihat di depan mata sungguh tak terduga.  Aku berada dalam ruangan yang sama seperti kamar bermainku hanya suasana di dalamnya sedikit gelap dengan dekorasi ruangan bergaya klasik seperti umumnya rumah orang Belanda di masa itu.  Lemari kayu dengan cermin seperti di kamarku juga ada di situ dan ternyata lemari itu adalah portal menuju dimensi lain.

Di Rumah Tuan Muller aku berkenalan dengan Nyonya Muller, Oma Lisa,  Marry anak perempuannya dan Shefa anak laki-lakinya yang seusia dengan aku.  Mereka mengajakku berkeliling menjelajahi rumah.  Bangunan rumah Tuan Muller modelnya masih sama persis seperti rumahku sekarang,  hanya ada sedikit perubahannya seperti tambahan garasi, kamar mandi dalam, dapur dan dekorasi ruangannya saja yang berbeda.  Aku juga sempat melihat gudang arsip yang di dalam dimensi Tuan Muller adalah pabrik es.  Setelah puas berkeliling, aku bermain bola bersama shefa dihalaman pabrik yang luas.  Tidak kulihat kantor bank di situ. Suasana jalanan didepan pabrik sepi, tidak ada mobil masa kini yang lewat.   Hanya ada pejalan kaki yang berpakaian seperti orang di jaman kolonial, kereta kuda dan kereta api uap yang melintas di rel kereta api di pinggir jalan raya.  Tuan Muller mengajakku duduk di beranda kemudian dia mulai bercerita.

“Awalnya orangtuaku yang memiliki pabrik es ini.  Setelah ayahku meninggal akulah yang melanjutkan usaha ini”.  Setelah diam sejenak, Tuan Muller melanjutkan ceritanya ” Semua berjalan dengan baik, kami hidup bahagia waktu itu”.   “Sampai kemudian Jepang datang ke sini”, katanya dengan wajah sedih. Setelah berdiam cukup lama dia berkata, “Kamu pulanglah dulu, nanti ibumu mencarimu”.  “Besok kita bisa ketemu lagi melanjutkan ceritanya”, kata Tuan Muller sambil berdiri dari kursi.

Tak lama kemudian dia mengajakku melewati cermin di kamarnya untuk kembali ke kamarku.  Sekeluarnya dari dimensi rumah keluarga Muller, badanku terasa lemas, kepalaku pusing dan aku merasa mual serasa mau muntah.  Aku mencoba rebahan di kasur melawan rasa pusing dan mual yang menyerangku.  Terdengar suara ibuku memanggilku, “Angga , ayo saatnya makan malam, ini ibu masak sup ayam favoritmu”.  Karena lama tak menjawab, ibu masuk kekamarku, “Kamu kenapa Angga, sakit? tanya ibu dengan cemas.  “Aku tidak apa-apa bu, hanya sedikit pusing mungkin masuk angin” kataku menenangkan ibu.  Aku tak mungkin menceritakan kejadian tadi kepada orangtuaku.  “Ah, kamu lupa menutup jendela kamar”.  “Kan ibu sudah bilang, menjelang maghrib jendela harus ditutup biar tidak ada demit masuk kamar”.  “Ayo bangun makan, setelah makan kamu minum obat dan istirahat ya” kata ibu.

Malam itu menjelang tidur, antara sadar dan tidak sadar, dunia mimpi dan dunia nyata, tubuhku serasa ringan melayang.  Aku bisa melihat tubuhku yang berbaring di kasur.   Kulihat sekeliling kamarku, suasananya sama hanya sedikit lebih gelap.  Aku berjalan keluar kamar, suasana dan perabotannya sama namun aku tidak melihat siapapun di situ.  Aku tidak merasa takut sedikitpun, kakiku terus melangkah menuju dapur dan kulihat seorang kakek memakai surjan lurik, blangkon dengan celana selutut.  Aku tahu kakek itu adalah pelayan Tuan Muller yang sempat kutemui sore tadi.  Dia tersenyum dan mengangguk ramah melihatku.  Aku terus berjalan menuju pintu dapur yang menuju halaman belakang.  Ketika aku akan melangkahkan kaki menginjak tanah, tiba-tiba saja dalam sekejap dia sudah disampingku mencegahku.  “Jangan, itu berbahaya, banyak yang belum kenal kamu di luar sana”.  Aku berhenti memandang suasana sekitarnya.  Kulihat di halaman belakang ada banyak orang yang tidak ku kenal di sana duduk-duduk mengobrol. Sempat kulihat di dekat pohon mangga ada sesosok bayangan tubuh tinggi langsing, tubuhnya hampir setinggi pohon mangga itu,  tangannya panjang, tapi wajahnya seperti apa aku tidak dapat melihatnya dengan jelas karena gelap. Kulihat dalam sekejap,  tanpa sempat kulihat gerakannya melangkahkan kaki, dia sudah berada beberapa langkah saja didepanku.  Sosok itu memakai setelan jas, kulihat dia tidak memiliki mata, hidung dan mulut.  Mukanya rata bagaikan telur.   Tangannya yang panjang berkuku runcing bergerak ke arahku.  Si kakek segera menarikku ke dalam, “Cepat, masuklah sebelum terlambat, kembalilah ke kamarmu”.

BERSAMBUNG


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Freya

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap