Terbukti, 3 Buku Puisi Rekomendasi Yang Wajib Dimiliki Penyair Pemula Untuk Menemukan Ide-Ide Menarik


Terbukti, 3 Buku Puisi Rekomendasi Yang Wajib Dimiliki Penyair Pemula Untuk Menemukan Ide-Ide Menarik

Sebagai penulis, apalagi penyair tentu membutuhkan sekali beberapa buku referensi puisi yang bisa menambah diksi-diksi baru yang selama ini belum pernah di pakai untuk menulis puisi.

Tak heran, kata-kata yang dipakai oleh seorang penyair pemula ‘stag’ itu-itu saja atau biasa disebut sangat monoton. 

Variasi-variasi kata yang menggelitik rasa penasaran pembaca pun kurang ditampilkan, akhirnya pembaca merasa bosan dan menganggap puisi tersebut tidak menarik.

Walaupun demikian, setiap penyair memiliki khas dalam gaya kepenulisannya.

Habit membaca buku puisi karya orang lain bukan berarti kita tidak percaya diri dengan kualitas puisi buatan sendiri, akan tetapi dengan membaca buku puisi karya orang lain kita bisa lebih mengeksplor banyak ide, diksi, dan suasana dalam berpuisi itu sendiri.

Selebihnya, penulis yang dapat mengelolanya untuk bisa dijadikan bahan referensi berpuisi.

Berpuisi itu mudah, yang sulit adalah memulai untuk menulis sebuah puisi. Puisi dikatakan sempurna apabila telah rampung di tulis lalu dipublikasikan ke media sosial, berupa buku, dan lain sebagainya.

Membangun konsistensi dan kebiasaan menulis puisi pun, harus di mulai dari sekarang.

Lalu, apa saja 3 buku puisi yang bisa kalian jadikan bahan referensi menemukan ide-ide baru yang menyegarkan versi mimin? Berikut ulasannya:

1. Pahlawan dan Tikus
Kumpulan puisi yang ditulis oleh KH. A. Mustofa Bisri pada tahun 2019 di DIVA Press ni bisa menjadi rekomendasi utama bagi penyair dalam menemukan keunikan dalam meletakkan kata-kata sederhana menjadi sangat indah

Seperti contoh:

Sungai tak pernah berkata kepada lautAku rindu padamuLaut tak pernah berkata kepada sungai Aku tak rindu padamuTapi sungai dan laut terus saling memburu(Kaukah Sepi Itu – KH. A. Mustofa Bisri, 1414)

Bagai wanita yang tak ber-ka-be sajaIbu pertiwi terus melahirkan putra-putranyaPahlawan-pahlawan bangsa Dan patriot-patriot negara(Putra-putra ibu pertiwi – KH. A. Mustofa Bisri, 1415)

Dari penggalan puisi atas sangat jelas sekali bahwa kata-kata sederhana bisa dijadikan sebagai bahan membuat puisi, serta penggabungan kata antara kata benda dan kata sifat yang menyiratkan makna mendalam untuk disampaikan oleh pembaca dari penulis. 

2. Barista Tanpa Nama

Rekomendasi puisi kedua jatuh kepada karya-karya puisi dari penulis legendaris yang berasal dari Kota Tegal, Agus Noor yang diberikan judul Barista tanpa nama ini di cetak pertama pada tahun 2018 di DIVA Press.

Banyak yang tertuang dari karya beliau untuk dimanfaatkan menjadi sebuah inspirasi abstraktif dan mendalam bagi penyair pemula.

Misalnya: 

Ia pandangi sunyi di jendelaKe hamparan bayangan pepohonanDengan ranting cahaya, kilau embunDan bayang perempuan di rimbun daun
Tiba-tiba terasa duka Yang lebih celaka dari perasaan berdosaKenapa, wajahnya, kenapa Semakin mengingatkan, pada permulaan dosa
Dan makin ranum saja. (Jazirah Kenangan, Agus Noor 119).

Rasa yang mendalam dituliskan pada puisi di atas menggambarkan perasaan seseorang dalam melihat keberadaan di sekitar dengan diberikan selipan-selipan sastra di dalamnya.

Secara tidak langsung, Penyair mendeskripsikan apa yang sedang ia lihat dengan memberikan goresan abstraktif untuk puisi.

Jadi, buku ini sangat cocok untuk kalian jadikan referensi menemukan ide-ide baru yang cemerlang.

3. Selamat Menunaikan Ibadah Puisi

Yap, buku ini terbilang sangat jitu untuk penyair pemula. Mengapa bisa dikatakan jitu? Karena kata-kata sederhana yang biasa kita ucapkan sehari-hari tentu bisa dijadikan sebuah karya puisi yang sangat indah. 

Buku ini merupakan salah satu karya dari penulis termasyhur di Indonesia, siapa lagi kalau tidak Bapak Joko Pinurbo. Buku puisi ini cetak pertama pada tahun 2016 yang diterbitkan oleh Kompas Gramedia. 

Contoh:

Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kamikisah Paskah ketika hari masih remang dan hujanHujan yang gundah sepanjang malamMenyirami jejak-jejak huruf yang bergegas pergiPergi berbasah-basah ke sebuah ziarah(Minggu Pagi di Sebuah Puisi – Joko Pinurbo, 1998) 

Itulah 3 buku puisi yang bisa dijadikan rekomendasi dan referensi bagi penyair untuk menambah harta karun berupa diksi dan ide-ide terbaru dari beberapa karya dari penyair legenda, tetap semangat berpuisi dan jangan pantang menyerah, ya.