Terus apakah setelah putus harus blok-blok an?


Terus apakah setelah putus harus blok-blok an? 1

Memilih untuk berpisah atau mengakhiri sebuah hubungan percintaan biasanya dikarnakan ketidakcocokan diantara mereka. Ada ribuan problematika yang mengakibatkan kandasnya hubungan setiap pasangan. Berpisah karena beda keyakinan, berpisah karena beda prinsip hidup, berpisah karena tidak direstui orang tua, karena selingkuh dan diselingkuhin, karena tidak diberi kepastian, bahkan mungkin berpisah karena beda zodiac.

Aku virgo dan dia pisces, aku taurus dan dia leo, aku capricorn dan dia libra. Wahh macam-macam.

Tapi dibalik berbagai alasan kandasnya sebuah hubungan, pertanyaannya adalah apakah putus dan blok-blok an selalu membentuk garis dengan nilai gradien yang sama? Apakah selalu sejajar dan beriringan?

Mungkin publik sudah tidak asing lagi dengan hal yang satu ini, putus dan blok-blok an sudah seperti sebuah seremonial tea pai pada tiap acara pernikahan suku tiong hua.

Bahkan jika kita searching digoogle dengan keyword “putus dan blok-blok an” akan banyak sekali artikel yang membahas mengenai “alasan mengapa mantan memblokir kita”, tapi tidak ada yang membahas mengenai “Kenapa Harus Diblokir?

Karena mantan juga sebenarnya seorang yang pernah duduk dikusi prioritas yang kamu urutkan sendiri. Dia berharga pada waktu itu. Dia adalah orang yang duduk bersama kamu, mendengarkan cerita kamu, membagikan cerita dia, atau mungkin sedikit beradu argumen. Ada kisah dan memori yang lahir dari perjalanan itu, jadi apakah blokir mantan adalah sebuah terobosan yang baik untuk Move On?

Dari berbagai artikel mengenai “alasan memblokir mantan” bisa disimpulkan bahwa mempercepat proses penyembuhan luka adalah alasan utama seseorang memblokir mantanya.

Putus karena alasan apa saja tentu akan terasa sakit. Namun yang membedakan adalah periode waktu penyembuhan dari rasa sakit itu. Seberapa banyak cerita diantara kamulah yang menjadi kunci seberapa sulit kamu untuk menyembuhkan sakit hati itu.  Semakin banyak cerita diantara kalian tentunya akan semakin sulit pula proses penyembuhan itu.

Iming-imingan bahwa jika kamu tidak sengaja kebuka IG story nya maka rasa sakit itu akan terungkit kembali. Apakah bener seperti itu ? hmmm…

Sebenarnya kamu hanya tidak terbiasa karena orang itu adalah orang yang sama, orang yang kamu temui setiap malam minggu tiba. Tapi malam minggu kali ini berbeda, sebab kamu hanya meratapi layar ponsel sambil merebahkan badan lesumu diatas kasur yang sedikit berantakan itu, Lalu kamu tidak sengaja melihat mantanmu sedang tertawa lega bersama teman tongkrongannya.

Kemudia kamu menemui ingatan yang ternotifikasi dalam pikiranmu, kamu teringat kembali hari-hari bahagia, kamu ingat kembali segala pengorbanan, dan kamu ingat kembali semua janji yang pernah kalian tulis dalam list harian. Alhasil kamu menyimpulkan itu sebagai sebuah “Gagal move on”.

Jadi apakah ngeblokir adalah jalan terbaik?

Tidak.

Kamu juga bisa menemui teman tongkronganmu dan bersenang-senanglah, berliburlah jika kamu merasa perlu. Yang paling penting adalah jangan pernah berusaha untuk melupakan dia. Sama halnya dengan tidur, jangan pernah memaksakan diri untuk tidur tapi biarkan dirimu terlelap sendirnya, kamu hanya perlu enjoy the process.

Dan biarkan dia hidup seperti apapun yang dia putuskan dan kamu hiduplah seperti apapun yang kamu putuskan. Karena berpisah bukan berarti menjadi musuh, berpisah berarti kalian kembali ke status dimana kalian belum memulai.

Jika mantanmu bisa melupakan kamu, kamu juga harus kuat membangun komitmen untuk bisa hidup tanpa angan-angannya lagi. Pindahkan memori tentang dia kedalam rak memori-memori usang lainnya, jangan lagi simpan memori itu ditempat yang mudah ingatanmu gapai.

Ini persoalan memaafkan dia juga memaafkan diri sendiri.

Jika notifikasi dari memori-memori itu datang lagi jangan terlalu diambil pusing, lanjutkan aktivitas kamu dan anggap saja itu seperti notifikasi sms “nak kirimkan mama pulsa 100 rb ke nomor ini sekarang, mama lagi dikantor polisi dan hp mama rusak”.

Putus
Putus

Abaikan!

 


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Andy Chandra

   

Dari Kelompok Minoritas yang mayoritas menolak untuk bersastra!

Subscribe
Notify of
2 Comments
Oldest
Newest
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap