Tiga Ekor Tikus di Dapur


Tiga Ekor Tikus di Dapur 1

“Lihat Muscu ada celah itu terlihat di dinding bagian bawah.” Rattus menunjuk ke arah dinding kepada Muscu.

“Tapi itu kecil sekali kelihatannya ya.” Muscu mulai mendekati celah di dinding itu yang diikuti Rattus. Setelah mereka sampai didepan lubang itu terlihat ada celah kira-kira ukuran 2 cm.

“Ayo kita langsung mencoba masuk kedalam celah itu.” Rattus tidak sabaran ingin mencoba masuk ke dalam celah yang ada dibawah dinding.

“Kamu dulu yang coba Rattus. Kalau kamu lewat aku pasti lewat juga.” Muscu masih tampak ragu untuk melewati celah tersebut.

“Kamu ini bagaimana Muscu! Kalau kepala kita lewat sudah pasti badan kita juga akan lewat.” Rattus tetap meyakinkan Muscu agar mereka melewati celah tersebut.

“Sekarang kamu cobalah dulu.” Muscu terlihat mulai semangat untuk mencoba melewati celah tersebut. Kemudian Rattus memulai masuk ke dalam celah tersebut.

Muscu dan Rattus adalah tikus yang jenisnya berbeda. Muscu, jenis tikus rumah yang ukurannya kecil, sedangkan Rattus merupakan tikus atap yang ukurannya sedang. Walaupun berbeda jenis dan tempat hidup yang berbeda mereka tetap berteman.

“Kamu beneran bisa masuk Rattus?” Muscu terlihat masih ragu dan bertanya kepada Rattus.

“Kepalaku sudah mau melewati celahnya Muscu. Tunggu saja dulu aku lagi berusaha mencoba.” Rattus menjawab Muscu dan memintanya untuk sabar menunggu selama dia mencoba melewati celah.

“Lama sekali kamu lewatnya.” Muscu sambil mendorong Rattus agar cepat melewati celah.

“Muscu aku sudah bilang sabar dulu! Ini lagi mencoba dan sebentar lagi mau lewat.” Rattus sambil setengah berteriak kepada Muscu. Tapi Muscu tetap mendorong Rattus supaya cepat melewati celah tersebut.

“Muscu tikus rumah! Aku bilang sabar dulu. Aku sudah melewati celah.” Kepala Rattus terlihat sudah melewati celah dan dia kemudian menarik badannya untuk melewati celah di dinding tersebut.

“Sekarang kamu harus cepat lewat. Ukuranmu lebih kecil dibandingkan aku.” Rattus sekarang gantian mulai menyuruh Muscu untuk melewati celah.

“Aku segera mencobanya.” Muscu mulai masuk ke dalam celah. Tidak menunggu lama Muscu langsung bisa melewati celah tersebut.

“Muscu lihat kita sekarang sedang di dapur. Ayo segera cari makanan. Aku bosan menggigit kabel di atap.” Rattus dengan sangat bersemangat sambil melihat sekeliling dapur.

“Hah kamu menggigit kabel? Apa tidak ada barang lain yang bisa digigit diatap? Kalau kabel nanti kamu kesetrum loh.” Muscu juga sambil memperhatikan sekeliling dapur.

“Kamu tahu sendiri Muscu diatap tidak banyak pilihan untuk digigit. Kadang kayu yang aku gigit. Kamu enak di bawah. Bisa gigit baju di lemari, kardus di gudang, kertas di rak buku. Nah di atap tidak banyak yang bisa digigit. Kamu tahu sendiri kalau kita tidak menggigit sesuatu barang nanti gigi kita terus tumbuh dan memanjang sampai bisa menembus ke leher kita. Saya tidak mau seperti itu Muscu.” Rattus sambil melihat Muscu menjelaskan kondisinya.

“Oke-oke saya mengerti kondisimu Rattus. Nah itu sepertinya ada pecahan roti yang terjatuh di bawah meja. Ayo kita berlomba kesana mengambilnya.” Muscu melihat ada potongan roti dan langsung berlari dan disusul oleh Rattus.

“Kamu curang, belum aku jawab sudah lari duluan. Jangan habiskan rotinya Muscu. Rotinya kita bagi dua Muscu.” Kemudian mereka sampai ke bawah meja dan mengambil potongan roti yang terjatuh.

“Ini ambil sebagian rotinya.” Muscu menyodorkan roti yang diambilnya kepada Rattus.

Rattus dan Muscu sangat menikmati potongan roti yang mereka dapat. Tiba-tiba Muscu berbisik kepada Rattus.

“Rattus lihat disana. Di bawah wastafel ada yang bergerak. Sepertinya itu kotak makanan.” Dengan suara kecil Muscu berbicara kepada Rattus.

“Aku juga melihatnya Muscu. Mengapa kotaknya bisa bergerak ya?” Rattus juga sambil berbisik kepada Muscu.

“Ayo kita lihat kesana Muscu. Kamu duluan yang lihat.” Rattus sambil mendorong Muscu untuk melihat kotak yang bergerak di bawah wastafel.

“Rattus kamu kan lebih besar daripada aku. Kamu harusnya yang duluan lihat kesana. Kamu takut Rattus?” Muscu sambil menahan dorongan Rattus.

“Kata siapa aku takut. Aku hanya melatih kamu supaya lebih berani Muscu.” Rattus melontarkan jawabannya kepada Muscu.

“Bilang saja kamu takut. Kalau aku sih tidak takut.” Kata Muscu menanggapi Rattus. Mereka mulai berdebat siapa yang akan pergi duluan untuk melihat kotak makanan bergerak di bawah wastafel, karena keasikan berdebat jadinya tidak ada yang duluan maju ke arah kotak tersebut.

“Hei!” Terdengar ada teriakan keras dari balik kotak makanan di bawah wastafel tersebut. Muscu dan Rattus terkejut dan langsung berlari untuk bersembunyi di balik kaki meja.

“Ha ha ha ha. Kalian berdua terlihat sangat lucu.” Terdengar ada yang tertawa sambil berjalan ke arah Muscu dan Rattus yang sedang bersembunyi.

“Kirain siapa ternyata kamu Gicus. Kamu sudah menakuti kami” Muscu dengan nada kesal berbicara kepada Gicus.

“Begitu saja kalian sudah takut.” Gicus masih tetap tertawa melihat Muscu dan Rattus yang terlihat panik.

“Bercandamu sangat tidak menyenangkan Gicus.” Rattus juga dengan nada kesal berbicara kepada Gicus.

“Baiklah aku minta maaf temanku. Aku tadi melihat kalian keluar dari celah dan aku berpikir untuk menakut-nakuti kalian. Maaf kawan kalau aku sudah buat kalian takut.” Gicus berusaha meminta maaf kepada Muscu dan Rattus sahabatnya.

“Baiklah Gicus tidak apa-apa. Jangan kamu ulangi lagi ya.” Rattus tampak sudah tidak panik lagi dan Muscu juga.

Gicus tikus juga yang berbeda jenis dengan Rattus dan Muscu. Gicus merupakan jenis tikus got yang senang tinggal di saluran pembuangan air. Ukuran dari Gicus terlihat lebih besar dibandingkan dengan Muscu dan Rattus. Walaupun berbeda tempat tinggal dan ukuran, ketiga jenis tikus ini berteman. Mereka bertiga juga sering mencari makanan bersama di dalam areal rumah.

“Sepertinya ada bau yang sangat menyengat ya? Apakah bau roti? Tapi rotinya sudah habis kita makan Rattus.” Muscu sambil tersenyum berbicara kepada Rattus dan Gicus.

“Bau menyengat apa ya maksudnya Muscu? Tadi aku dapat makanan mie di kotak itu baunya tidak menyengat.” Gicus tampak sedikit kebingungan mendengar perkataan Muscu.

“Bau menyengat itu dari baumu Gicus. Muscu hanya menyindir kamu Gicus.” Rattus menjelaskan maksud Muscu kepada Gicus.

“Kamu bisa saja bercanda Muscu. Kita sama-sama bau tikus kok.” Gicus sambil mendekati Muscu.

“Makanya tinggal jangan di saluran pembuangan air. Jadi baunya kan sangat menyengat.” Muscu sambil tersenyum berbicara kepada Gicus.

“Disitu tempat yang sangat nyaman untuk tinggal Muscu.” Kata Gicus  menjelaskan.

“Apakah kalian sudah selesai berbicara masalah bau-bauan? Aku masih lapar. Ayo kita keliling lagi cari makanan.” Rattus berbicara kepada Muscu dan Gicus.

“Ayo kita keliling tikus-tikus rakus.” Muscu sambil tertawa berbicara kepada Rattus. Tanpa memperdulikan Muscu dan Gicus, Rattus langsung jalan mencari lagi makanan di dapur. Kemudian Gicus dan Muscu juga mengikuti Rattus untuk keliling mencari makanan.

Mereka bertiga sedang sibuk mencari makanan, tiba-tiba pintu dapur terbuka dan lampunya dinyalakan. Terlihat Muscu ada di depan pintu dan langsung lari kebawah wastafel. Dibawah wastafel sudah duluan ada Rattus dan Gicus.

“Bagaimana ini Rattus? Kita harus kabur.” Muscu tampak ketakutan.

“Ayo ikuti aku lewat saluran air ini. Di saluran air ini kita bisa lewat karena tidak ada penutupnya.” Gicus berusaha mencari jalan keluar untuk mereka.

Tampak ada laki-laki yang berdiri sambil berbicara kepada istrinya. “Ma aku ada lihat tikus di dapur.”

Istrinya datang ke dapur. “Cepat tangkap tikusnya pa.”

“Mereka sudah kabur duluan lewat saluran air itu. Aku tidak sempat menangkap mereka.” Sahut suaminya.

Suaminya mulai menjelaskan kepada istrinya situasi di dapur. “Padahal minggu yang lalu kita sudah memperbaiki dapur karena ketemu kecoa. Tapi kenapa sekarang malah tikus yang muncul ya ma.” Suaminya agak kebingungan karena melihat tikus.

“Siapa ini yang makan roti masih ada remahannya dibawah meja dan itu kotak makanan di bawah wastafel.” Istrinya mulai mengomel kepada suaminya.

“Sepertinya ini ulah anak kita ma, tadi dia ada pesan makanan dan makan di dapur. Sudahlah ma besok aku periksa kembali dapur kita dan menutup celah yang terlihat. Sudah cukup banyak hama yang berkeliaran di dapur kita.” Suaminya mulai menenangkan istrinya.

“Baik pa. Lebih teliti lagi ya dicek besok dapurnya.” Sahut istrinya.

Kemudian mereka meninggalkan dapur dan menutup pintu dapur. Kemudian keesokan harinya istrinya membersihkan dapur dan suaminya menutup celah-celah yang ada di dapur.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Ian Bangun

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap