Tiga Hal Yang Membuat Orang Menjadi Fanatik


Tiga Hal Yang Membuat Orang Menjadi Fanatik 1

Baru-baru ini, masyarakat Indonesia digemparkan oleh kabar tentang serangkaian aksi teror yang terjadi di Desa Lemba Tongoa, Kecamatan Palopo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) diduga sebagai pelaku yang membunuh empat orang warga, menjarah logistik, hingga membakar tujuh  rumah.

Kejadian teror seperti ini tentu bukan yang pertama kali, bahkan sudah sering terjadi.  Masih kental dalam ingatan kejadian dua pesawat menghantam Word Trade Center di New York pada 2001 lalu. Masih terngiang dalam kepala saya serangkaian aksi teror bom, mulai dari Bom Bali hingga Bom Thamrin. Agaknya, tidaklah berlebihan rasanya jika mengatakan bahwa abad-21 adalah abad dimana era-fanatisme begitu menjalar secara massif.

Sebagai seorang awam, saya mulai bertanya kepada diri sendiri. Pertanyan yang muncul dari perasaan kemanusiaan yang lahir dalam diri saya. Perasaan tidak terima akan pembunuhan yang dilakukan sekelompok orang bahkan demi alasan apapun. Tindakan kekerasan, kebencian, bahkan aksi-aksi yang merenggut nyawa banyak orang tentu tidak bisa dibenarkan. Maka sampai disitu saya sepakat untuk dengan keras menolaknya.

Namun apa sesungguhnya yang membuat orang menjadi fanatik? Pencarian itu saya mulai dengan pengertian atas apa itu fanatisme itu sendiri. Bahwa fanatisme adalah sebuah paham, yang  bisa diidentifikasi dari sikap ekstrim yang muncul atas satu keyakinan, pandangan hidup yang membuatnya penganutnya rela mati dan berbuat kekerasaan demi kelangsungan pandangan dan keyakinan yang ia anut itu. Maka dari itu, sependek yang saya amati, setidaknya ada beberapa sebab yang membuat orang menjadi fanatik hingga menganut fanatisme dalam dirinya:

Pikiran Tertutup

Tiga Hal Yang Membuat Orang Menjadi Fanatik 3
Open minded & Close minded

Kita masuk dalam sebuah era yang dikenal dengan globalisasi. Sebuah era dimana manusia semakin terhubung oleh kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Namun di era ini, globaliasi menyimpan paradoks dalam dirinya. Alih-alih memudahkan, Ia membuat orang semakin takut untuk bersikap terbuka, dan malah menutup dirinya di hadapan perbedaan. Orang-orang menjadi takut akan keluasan dan keterbukaan, karena ia menganggap kemajuan bisa mengancam kepastian identitas yang telah ia pegang era-erat selama ini. Ia menganggap kemajuan mengikis nilai-nilai luhur yang ia yakini mulai dari keyakinan agama, bahkan adat-istiadat.

Pikiran terbuka adalah syarat untuk hidup dalam dunia yang semakin rumit dan canggih. Bukan tidak mungkin manusia bisa hidup dan menyesuaikan diri dalam buah kemajuan zaman ini. Namun, fanatisme bisa muncul justru ketika pikiran  semakin sempit dan takut dengan keterbukaan dunia ini. Akibatnya, orang-orang memilih untuk hidup tertutup, dan memeluk erat-erat identitas lokalnya. Cara pandang seperti ini berpontensi membuat orang menjadi sangat fanatik, bahkan bisa bersikap  membenci sesuatu yang berbeda dari keyakinan yang ia yakini. Ia menyangkal kebenaran lain, dan menganggap keberagaman sebagai ancaman akan kepastian identitas yang ia miliki.

Pada puncaknya, sikap ini menjadi jauh lebih rumit dan berbahaya. Sikap ini membuat penganutnya melihat dunia secara hitam-putih. Melihat segala sesuatu secara baik dan buruk. Peliknya, adalah apa yang dia anggap sebagai satu keyakinan dari kepastian identitasnya adalah hal yang paling benar, dan di luar itu adalah tidak benar, atau salah, bahkan nyaris harus dilawan dan dihancurkan.

 

Trauma dan Ketakutan

Tiga Hal Yang Membuat Orang Menjadi Fanatik 4

Fanatisme bisa muncul dari ketakutan. Sebuah cara pandang negatif yang muncul dari dendam dan trauma yang pernah terjadi sebelumnya, atau yang saat ini ia alami. Ketakutan membuat manusia memiliki cara pandang yang gelap dan tidak jernih. Perasaan ini muncul dan diganggu akan sesuatu yang disebut dengan ‘ketidakpastian hidup’. Masalah ekonomi, kesenjangan sosial, trauma rasisme identitas, dan terlebih lagi masalah politik dan kehidupan bernegara bisa memicu ketakutan yang mendalam bagi masyarakat.

Akibatnya, manusia terombang-ambing dalam lautan ketidakpastian. Lalu kemudian hasrat akan kepastian menjadi keinginan yang ingin manusia cari. Tidak banyak manusia yang sanggup hidup dalam ketidakpastian. Namun kerentanan seperti ini bisa memicu manusia untuk menjadi fanatik. Mulai dari fanatisme agama, fanatisme politik dan segala jenis fanatisme kultural lainya.

Segala permasalahan seperti ketidakadilan global, dendam, dan trauma yang terjadi, membuat orang akhirnya membangun kelompok-kelompok untuk melawan. Mereka mulai mengorganisir dengan menjual kesamaan nasib dan identitas. Menjual segala tafsir dan dogma tentang keyakinan. Maka dengan segala doktrin dan dogma mereka mulai mengikat kesamaan identitas dan menghimpun masa untuk berkumpul dan berjuang bersama. Manusia rentan yang awalnya penuh ketakutan itupun mejadi manusia yang terlahir kembali dengan keyakinan dan kepastian penuh atas hidupnya. Sehingga dengan itu, mereka rela untuk melakukan apapun, bahkan serangkaian aksi teror sekalipun untuk melangsungkan keyakinanya.

 

Kehendak Akan yang Murni

Tiga Hal Yang Membuat Orang Menjadi Fanatik 5

David Hume, seorang filsuf pencerahan Inggris menyebutkan bahwa yang menyebabkan perang antar bangsa terjadi justru karna kehendak yang tidak rasional. Sejarah manusia, tidak bertolak dari pemikiran rasional melaikan sebaliknya. Ia seringkali dikendalikan oleh keinginan-keinginan ataupun nafsu-nafsu tertentu harapan hidup. Akal budi hanya dijadikan pelayan bagi tumbuh-kembangnya kehendak dan nafsu-nafsu manusia atas nilai kehidupan.

Kehendak yang dimiliki manusia telah membuat manusia berfikir tidak rasional. Kehidupan manusia dikendalikan oleh kehendak dalam diri untuk menjadi yang paling asli, menjadi yang paling benar, menjadi yang paling suci dan murni. Sebuah kehendak, yang pada akhirnya menjadi sumber lahirnya sikap fanatisme yang akut. Dengan kehendak itu, mereka menganggap dirinya berbeda dan paling benar dengan sesuatu yang di luar dirinya. Suatu yang dianggapnya berbeda, kotor, menyalahi kodrat dan tidak suci, harus  ditolak bahkan dimusnahkan.

Fanatisme manusia seperti itu lahir dari kehendak yang cacat. Tipe manusia yang tercerabut, lemah dan tidak tahan pada realitas yang kacau sehingga membuat dia memusuhi realitas. Ketidakmampuan menghadapi realitas itu membuat manusia butuh satu sandaran yang stabil, sehingga menemukan ekspresinya dalam berbagai wujud kepercayaan yang akan ia yakini.

Sampai disini kita bisa melihat bahwa ada suatu dalam diri manusia yang membuat dia butuh untuk percaya secara fanatik dan akan siap membelanya mati-matian. Manifestasinya bisa kita lihat dari apa yang dilakukan barisan massa Intoleran yang mempersekusi, mengancam, dan menghadang segala tindakan yang dianggap tidak sesuai dengan norma dan keyakinan yang dia anut.

Fanatisme akan satu keyakinan membuat ia memusuhi manusia lain. Mereka memusuhi perbedaann hanya karna mereka berbeda, tidak suci, kotor, berdosa dan dianggap telah menjadi sumber bencana dimuka bumi ini. Sehingga mereka yang melihatnya atas nama yang murni, merasa memiliki alasan untuk menolak, bahkan memenggal kepala manusia sekalipun. Sebuah contoh, dari tindakannya yang melihat seseorang diluar dari dirinya sebagai sesuatu yang bukan manusia.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Wanda Rahmat Putra

   

Hanya pelaku dan penikmat kesenian. Kebetulan menyukai teater, sehingga lagi aktif di komunitas Actor Idea Padang Panjang. Hobinya begadang, sambil baca-baca buku, juga berdiskusi hingga belajar nulis.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments