Tiga Tips Membuat Paragraf Pembuka Artikel

Tiga Tips Membuat Paragraf Pembuka Artikel 1

Tips menulis! Ya, hingga saat ini, saya belum menemukan tips jitu menulis artikel. Termasuk apa yang akan saya bagi dengan Pembaca berikut ini. Ini adalah pengalaman saya pribadi, selama melakukan aktivitas menulis. Setelah ‘berhasil’ membuat judul tulisan yang menarik, berikutnya adalah membuat paragraf pembuka. Mengapa paragraf pembuka menjadi penting? Seberapa besar pengaruhnya terhadap ‘keberhasilan’ sebuah artikel?

Sebelum terjadi ‘salah paham’ diantara kita (?) perlu saya tegaskan bahwa setiap orang yang gemar menulis memiliki metode atau proses kreatif yang berbeda. Hal ini mengingat menulis merupakan aktifitas batin alias kegiatan sangat pribadi yang melibatkan keseluruhan batin (emosi, kecenderungan karakter dan sebagainya) dari seorang penulis. Tetapi yang dapat kita ambil atau pelajari dari keberagaman metode dalam diri setiap penulis adalah caranya dalam mengelola ide tulisan. Ah! Kita bicarakan lain waktu saja soal ini.

Kembali kepada tema judul artikel ini, yakni bagaimana membuat paragraf pembuka yang ‘ciamik’? Menurut saya, judul tulisan yang bagus manakala tidak diikuti paragraf pembuka yang bagus maka hasilnya kurang optimal. Pembaca akan menghetikan membaca ketika menemukan ‘cara tutur’ kita dalam teks pembuka kurang menarik. Lantas adalah cara jitu untuk membuat paragraf pembuka?

Sekali lagi saya tegaskan, tidak ada cara yang jitu. Terus? Yang ada hanya rambu-rambu jitu. Sejak awal saya membagi bagaimana tips menulis artikel (populer) untuk media massa, media sosial, dan sejenisnya, hanya berupa rambu-rambu saja. Artinya, sebuah rambu-rambu –dalam konteks menulis—boleh saja dilanggar jika dirasakan kurang nyaman untuk dilakukan.

Baiklah, bagaimana tips atau rambu-rambu membuat paragraf pembuka? Ini buka tutorial yang langsung bisa dipraktekkan dalam menulis. Saya menyarankan rambu-rambu ini gunakan berulangkali saat Anda melakukan aktivitas menulis. Perlu disadari, menulis itu bukan soal kualitas ide melainkan kuantitas kita mengeksplorasi bahasa. Kita bicarakan lain waktu saja soal ini juga, hehe..

Pelit Data, Kaya Rasab. Apa saja tiga hal tersebut?

Pertama, biasanya mengimajinasikan kondisi pembaca. Artinya, kita harus mampu membayangkan siapa dan bagaimana calon pembaca tulisan kita nanti. Mengapa hal ini penting? Saya selalu memosisikan diri, ketika menulis –terutama artikel populer—seolah sedang bercerita di hadapan pembaca saya. Nah, dengan demikian akan berpengaruh terhadap cara tutur alias cara penyampaian ide melalui teks tulisan. Seperti saat menulis artikel pendek yang sedang Anda baca ini, jujur secara fisik memang saya menghadap ke layar monitor, namun pikiran atau imajinasi saya seolah berbicara atau bercerita dengan seseorang atau banyak orang. Hasilnya, mohon maaf jika cara tutur saya dalam tulisan ini terlalu ‘dekat’ secara emosional dengan Pembaca.

Tetapi mengimajinasikan kehadiran pembaca dalam setiap kegiatan menulis menjadi sangat penting. Menulis sejatinya adalah sedang mengkomunikasikan ide kepada khalayak. Sesuai hukum komunikasi, yakni ada komunikan dan komunikator (sedikit membuka teori komunikasi, hehe..) maka tidak elok jika kita berbicara dengan monitor komputer sebagai barang mati. Kita harus mampu menghidupkan imajinasi seorang sedang berbicara layaknya narasumber saat menulis.

Kedua, ciptakan teks yang mengundang penasaran. Bukan bombastis! Teks yang mengundang penasaran biasanya adalah sikap kita secara umum terhadap fenomena besar yang menjadi tema tulisan. Istilah saya, langsung saja hantam pembaca dengan gagasan besar kita sehingga terbelit rasa penasaran sehingga meneruskan membaca hingga paragraf berikutnya. Misalnya, ketika heboh vaksinasi, bagaimana dengan mereka yang gaptek? Sehingga sulit mengakses laman khusus pemerintah terkait pendaftaran dan pemerolehan sertifikat vaksin. Adakah yang memikirkan kondisi para lanjut usia yang demikian? Anda penasaran kan? Itu salah satu contoh yang juga pernah saya tulis artikelnya di laman website ini juga.

Ketiga, pelit data kaya rasa. Nah! Apalagi ini? Ada-ada saja tipsnya. Salah satu cara mengundang penasaran di paragraf pembuka tulisan kita adalah trik ‘pelit data kaya rasa’ Kok, saya mengajari pelit? Begini, biasanya jika tidak jeli mengelola data yang akan kita sampaikan ke pembaca, maka kita lantas mengeluarkan seluruh gagasan besar di awal paragraf. Hasilnya, pembaca akan selesai hanya membaca paragraf awal tulisan kita. Inilah yang disebut tulisan kita mudah ditebak. Ibarat menulis cerita pendek, maka pembaca akan bisa menebak alur dan konklusi cerita hanya dengan membaca paragraf awal. Kondisi ini tentu tidak bagus untuk ‘nasib’ tulisan kita.

Pelit data dalam rangka menyajikan secara bertahap, sedikit demi sedikit sehingga rasa penasaran pembaca terus terpelihara. Lalu kaya rasa itu bagaimana? Ini masalah bahasa. Menulis itu persoalan mengasah bahasa. Bagaimana cara melatih kekayaan bahasa? Tidak ada cara jitu selain sering menulis. Dengan sering menulis maka ‘rasa’ tulisan Anda akan muncul dengan nyata. Inilah yang disebut gaya penulisan. Temukan gaya penulisan Anda sehingga  pembaca akan kangen dengan tulisan Anda. Bagaimana? Selamat menulis.**

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.