Tiga Tips Sederhana Meningkatkan Imunitas

Tiga Tips Sederhana Meningkatkan Imunitas 1

Pandemi Covid-19 telah menjadi bagian kehidupan masyarakat kekinian. Suka atau tidak, pandemi telah mengubah beragam sendi perilaku kita. Ada bentuk perilaku sosial yang ‘mendadak’ ada sebagai konsekwensi protokol kesehatan pencegahan penularan virus. Salah satunya, penggunaan masker seolah menjadi atribut wajib siapapun yang ingin beraktifitas di luar ruangan. Tetapi sejatinya, selain protokol kesehatan secara fisik (yang terlihat), ada protokol kesehatan ‘tak kasat mata’ yang juga berperan sangat penting. Apakah itu?

Setiap orang sebenarnya dapat dengan mudah melakukan protokol kesehatan tak kasat mana ini, begitulah istilah saya. Hanya saja, kita tidak menyadari bahwa protokol yang saya maksudkan itu memiliki peran besar meningkatkan imunitas tubuh. Meskipun program vaksinasi nasional gencar dilakukan, namun kasus penularan virus Covid 19 pada orang yang telah divaksin masih terjadi. Nah! Pada titik inilah sebenarnya protokol kesehatan tak kasat mata menjadi penting. Yakni sebuah perilaku yang mampu meningkatkan imunitas tubuh.

Pertama, tertawa. Sepele. Lucu terdengarnya. Mengapa hanya tertawa? Sederhana saja dan saya tidak perlu menyuguhkan data penelitian tentang hal ini. Berada dalam kondisi gembira yang termanivestasi dalam bentuk tindakan tertawa, mampu meningkatkan kadar kekebalan tubuh. Banyak penelitian bidang psikologi terutama yang menyarankan agar terapi tertawa menjadi alternatif jalan kesembuhan seseorang dari beragam penyakit. Ini membuktikan bahwa tertawa dapat memicu hormon tertentu sehingga membuat kekebalan tubuh meningkat. Maaf, saya tidak bisa menyebutkan detail teknisnya karena hak tersebut di luar kompetensi saya.

Saya hanya ingin menyampaikan bahwa perilaku tertawa adalah perilaku yang menunjang kesehatan psikis atau emosional seseorang. Ketika kondisi psikis sehat maka akan sehat pula kondisi tubuh secara keseluruhan.

Kedua, bersyukur. Agama apapun mengajarkan kita agar selalu bersyukur atas apa yang kita peroleh. Tetapi saya tidak akan membahas dalam konteks agama. Saya hanya ingin menekankan efek sosial dan emosional ketika budaya syukur menjadi ‘jalan hidup; keseharian kita. Secara sederhana, rasa syukur menimbulkan efek bahagia dalam batin. Situasi psikis inilah yang mendorong lahirnya kebahagiaan. Orang yang bahagia secara psikis, dipastikan gembira secara batin. Akhirnya mempengaruhi kondisi kesehatan tubuh, dimana rasa bahagia sebagai implementasi rasa syukur membuahkan kondisi sehat bati. Sehat batin inilah yang mendorong kesehatan secara fisik.

Ketiga, berpikir positif. Dalam situasi sosial yang tidak menentu ini, selalu berpikir positif menjadi penting. Kondisi masyarakat saat ini kian sensitif dipicu ketidakmenentuan segala aspek kehidupan. Masyarakat menjadi mudah tergerus hoaks yang meresahkan. Oleh karena itu, berpikir positif menjadi benteng utama agar kita tidak mudah gelisah. Efek selanjutnya, jika secara psikis tidak mudah gelisah tentu kondisi kesehatan tidak mudah menurun. Terlalu banyak orang terganggu kesehatan fisik yang dipicu rentannya kondisi psikis seperti mudah gelisah dan selalu curiga.

Nah! Tiga hal tersebut ternyata menjadi vaksin psikis –istilah saya—untuk mencegah penularan virus covid 19 dari dalam diri. Bagaimanapun, tubuh kita sejatinya telah memiliki sistem imunitas tersendiri. Hanya saya, kita kurang menyadari bagaimana cara memantik bekerjanya imun dalam diri tersebut. Dengan tiga tips tersebut, saya yakin imunitas kita akan meningkat. Dan akhirnya akan mampu melewati masa sulit saat pandemi ini.

Selamat mencoba; tertawa, bersyukur, dan selalu berpikir positif. **

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Cucuk Espe