Tips Mengajarkan Sastra pada Anak Usia SD


Tips Mengajarkan Sastra pada Anak Usia SD 1

Sahabat Umar ibnu al-Khattab berkata, “Ajarilah anak-anakmu tentang sastra agar tidak menjadi anak-anak yang pengecut.”

Membangun pendidikan literasi mestinya dimulai dari sejak dini. Minimal sejak anak-anak berada di bangku sekolah dasar. Tentu bangunan ini diawali dengan fondasi yang sederhana, yang ringan-ringan saja.

Mulailah dari puisi. Sebab, karya sastra berbait inilah yang paling akrab dengan mereka dibanding dengan karya sastra lainnya. Pendeknya, kata “puisi” tidaklah asing di telinga mereka.

Anak-anak ketika mendengar kata puisi, secara spontan mereka mendeklamasikannya sendiri meski dengan diksi seadanya. Mereka secara tiba-tiba membaca puisi dengan gesture (ekspresi tubuh) yang begitu lucu. Mereka teramat paham, bahwa puisi tidak dibaca sebagaimana membaca prosa. Dengan begitu, jelas sekali mereka pada sebenarnya memahami apa itu puisi meski tidak mampu membahasakannya secara definitif. Dan mengajarkan puisi kepada anak SD, khususnya pada kelas rendah (kelas 1-3) dimulai dari definisi sangat tidak efektif atau dengan kata lain, buang-buang waktu.

Penulis mengalaminya sendiri. Selama hampir lima tahun menjadi wali kelas tiga, menjelaskan puisi dimulai dari definisi, mereka kesulitan memahaminya. Mereka bingung. Apa itu karya? Sastra? Bentuknya terikat? Hanya saja mereka sok manggut-manggut mengerti.

Berbusa-busa menjelaskan di depan mereka kalau masih berkutat pada persoalan definisi, maka pokok tujuan dari materi puisi tersebut tidak pernah selesai-selesai. Guru mestinya punya cara lain agar anak didiknya mampu membaca puisi minimal sedikit baik, atau kalau perlu mereka mampu membuat karya sendiri. Secara subtansi, materi ini memiliki dua tujuan tersebut. Pertama, anak didik mampu mendeklamasikan puisi minimal sedikit baik. Dan kedua, mereka mampu membuat karya puisi sendiri.

Hal yang paling pertama dilakukan adalah membacanya di depan mereka. Memberikan contoh cara yang benar membaca puisi di depan peserta didik tidak cukup hanya sekali, minimal dua atau tiga kali. Hal ini juga perlu dilakukan tidak hanya pada satu waktu. Ia membutuhkan waktu yang sedikit lama. Kemudian peserta didik disuruh menirukannya. Sesekali jelaskan mengenai ekspresi yang tepat membaca puisi. Sebab, membaca puisi yang isinya melankoli berbeda dengan puisi yang memuat spirit kepahlawanan yang membutuhkan pekikan suara.

Pada tahap selanjutnya, anak-anak perlu digiring pada bagaimana caranya agar mereka mampu menulis karya puisi sendiri. Pada tahap ini, yang mesti seorang pendidik lakukan adalah menarik minat mereka agar gemar membaca. Sebab, membaca merupakan bahan bakar utama untuk mampu menulis. Makanya, dalam wahyu pertama kali diturunkan (surat Al-Alaq) memuat kata iqra’ (bacalah!) baru pada tahap selanjutnnya adalah allama bi al qalam (yang mengajarkan dengan pena). Hal ini membuktikan, untuk mampu menulis harus gemar membaca terlebih dahulu.

Dimulai dengan “memaksa” mereka membaca buku satu atau dua lembar sebelum pelajaran dimulai. Atau meminjamkan mereka satu buah buku tipis agar dilahap dalam satu minggu di rumahnya sendiri, dan seterusnya. Memang, tahap ini lebih sulit dibanding tahap sebelumnya. Jadi, lakukan dengan perlahan dan penuh kesabaran.

Untuk mampu menulis puisi, penulis memiliki cara sederhana. Pertama, menentukan judul puisi yang hendak kita buat. Misal, soal “nelayan”, maka pilih beberapa kata yang berkaitan dengan nelayan. Contoh, kata laut, ombak, angin, lelah, menjala, ikan, dan sebagainya.

Kemudian, setiap kata yang berderet tersebut kita kembangkan dan kita jadikan kalimat utuh sebagai baris hingga membentuk bait yang sempurna. Yang perlu kita ingat, pilihlah kata-kata (diksi) yang indah semampunya. Kemudian lakukan hal itu terus-menerus. Latih tanpa mengenal letih, dan lakukan meski hasilnya sedikit berantakan. Jelaskan hal itu dengan berulang-ulang dan dengan contoh yang berbeda.

Cara seperti ini merupakan cara yang mudah yang pernah penulis lakukan di depan murid kelas 3 sekolah dasar. Dan alhamdulillah, cara ini cukup ampuh, dan terbilang berhasil.

Tahap yang terakhir adalah kumpulkan karya sederhana mereka menjadi satu buah buku antologi puisi. Gandakan, kemudian sebarkan. Bisa melalui mading atau buletin sekolah sebagai apresiasi atas karya mereka.

Untuk membangun pendidikan sastra, apalagi di lingkungan sekolah dasar memang tidaklah mudah. Menularkan virus literasi ke tengah mereka membutuhkan keterampilan dan teknik yang terbilang pelik. Selain itu, ia juga membutuhkan kerja keras semua pihak. Dukungan lembaga terkait tentu sangat berperan penting di sana.

Tulisan ini hanyalah sketsa kecil dan teknik yang teramat sederhana yang penulis alami sendiri. Tulisan ini bukanlah sebuah pakem atau jurus ampuh yang memiliki kebenaran mutlak. Sebab, semua daerah memiliki kultur dan corak yang beragam yang tentu berbeda dengan daerah tempat tinggal penulis. Bisa saja teknik yang penulis terapkan ini tidaklah tepat disuguhkan pada daerah atau lembaga tertentu.

Tulisan singkat ini hanya bertujuan berbagi pengalaman, dan tidaklah bermaksud untuk menggurui. Jika Anda memiliki teknik yang berbeda, penulis mengharap dengan sangat agar berkenan berbagi pengalaman di kesempatan yang berbeda.

Dengan berbagi pengalaman, maka akan ada upaya serius demi tumbuh kembangnya budaya baca dan menulis (literasi) terkhusus di lingkungan sekolah dasar. Kemudian harapannya, kelak pada masanya akan tumbuh generasi pecinta sastra yang ujungnya melahirkan sastrawan-sastrawan hebat masa depan. Semoga. Wallahu a’lam.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin

   

Subscribe
Notify of
2 Comments
Oldest
Newest
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap