Tips Menulis: Seni Mencuri Perhatian

Tips Menulis: Seni Mencuri Perhatian 1

Saya akan sharing; bagaimana saya menulis. Salah satunya adalah terkait trik mencuri perhatian. Aneh? Memang, menulis juga membutuhkan aksi mencuri perhatian pembaca. Tujuannya agar pembaca ‘bertahan’ membaca tulisan kita hingga kalimat terakhir. Lantas bagaimana tips-nya? Trik agar perhatian pembaca berhasil kita curi sehingga bersedia meluangkan waktu beberapa menit untuk membaca tulisan kita?

Sejak awal membagikan tips menulis di laman ini, saya selalu menekankan bahwa proses kreatif seseotang itu berbeda. Sehingga apa yang akan saya bagi ini, mungkin tidak cocok dengan sahabat penulis lainnya. Bukan tujuan saya memaksa untuk mengikuti cara saya. Lebih asyik jika membaca pengalaman kreatif orang lain dalam rangka memperkaya wawasan saja.

Baiklah! Setiap menulis, saya selalu mengimajinasikan sedang berbicara dengan seseorang (pembaca). Nah, agar lawan biacara –tak kasat mata—itu tetap bertahan membaca, maka perhatiannya harus kita curi. Ilmu mencuri perhatian dalam konteks menulis; sah-sah saja. Ada beberapa rambu yang harus kita lakukan agar perhatian pembaca tercuri. Lagi-lagi, saya ingatkan, tips ini hanya berlaku untuk jenis tulisan artikel populer. Jenis lainnya, tentu membutuhkan setrategi yang berbeda pula.

Artikel populer menurut saya adalah artikel dalam ragam intim, istilah komunikasinya. Kenapa begitu? Penulis sepatutnya merasa dekat sekali dengan pembaca, tanpa jarak batin. Sehingga saat membaca seolah antara penulis dan pembaca telah sangat akrab. Asyik sekali apabila hal itu dapat terjadi. Rambu-rambu apa yang harus kita perhatikan? Pertama, perhatikan judul tulisan Anda. Judul adalah wajah. Judul adalah 50% keberhasilan. Judul adalah kesan pertama tulisan sekaligus siapa penulisnya. Ciptakan rangkaian kata dalam judul yang kurang atau tidak lazim. Meski begitu harus tetap menggunakan kaidah tata bahasa Indonesia.

Judul yang tidak lazim, misalnya bernada berseberangan dengan pendapat kebanyakan orang terkait isu yang akan kita tulis. Atau menggunakan rangkaian kalimat parodi. Perhatikan rima (istilah puisi) dalam judul. Ambil contoh; ketika akan menulis tentang korupsi, bagaimana seandainya kita memberi judul artikel kita’ Koruptor di Negeri Kotor’. Menurut saya, cukup menggelitik. Jadi, biasanya menemukan rangkaian kalimat yang tidak lazim dan menggelitik untuk membuat judul.

Kedua, pada paragraf pembuka, hindari menulis atau menceritakan ulang kronologi isu yang telah dipahami publik. Misalnya kita akan menulis tentang dampak pembelajaran daring selama pandemi. Di paragraf awal hindari menceritakan ulang; kenapa daring, apa arti pembelajaran daring, bahaya Covid-19, dan sejenisnya. Pembaca sudah mengerti semua isu itu. Nah! Posisikan diri kita (ide kita) sedikit berseberangan dengan pemahaman umum. Dengan demikian akan terlihat keunikan dan kenakalan perspektif kita dalam menganalisa fenomena yang sedang terjadi.

Patut diingat, ini menurut pengalaman saya; pembaca menyukai hal-hal yang melawan arus. Tidak ada salahnya, kita ikutin kemauan pembaca tersebut. Saya contohkan dalam paragraf awal tulisan ini. Dengan cara saya; saya mencoba mendekatkan diri seolah telah mengenal betul pembaca saya. Rasa tak berjarak ini pula terkadang membuat membuat penasaran sehingga terus mencari kalimat lanjutannya (semoga begitu). Berikutnya, saya mencoba membalik total keinginan pembaca. Yakni membaca tips menulis bukan untuk ditiru, tetapi hanya sebagai rambu-rambu saja. Jika pembaca penasaran, tentu akan meneruskan membaca tulisan ini.

Ketiga, obrak-abrik tatanan batin pembaca. Nah! Saya mengajari buruk? Jangan berprasangka buruk. Maksud saya, mengobrak-abrik batin pembaca terkait dengan logika kita gunakan atau presfektif dalam memandang tema utama tulisan. Ini kaitannya dengan membunuh rasa bosan pembaca. Jujur saja, saya pribadi merasa bosan jika membaca tulisan yang ‘lempeng’ atau datar, tanpa adanya hentakan logika yang tercermin dalam tatanan kalimat. Wow! Apalagi ini? Pembaca akan merasa tercuri perhatiannya secara tidak sadar manakala saat membaca seolah muncul rasa empati terhadap tema atau cara penyampaian kita.

Rambu ketiga ini agak sulit dijelaskan karena berkaitan dengan imaji perasaan. Bahwa melalui tulisan, kita sebaiknya mampu menyentuh batin atau emosi pembaca. Jika hal itu terjadi, besar kemungkinan akan membaca tulisan kita sampai selesai. Mungkin, seperti Anda saat ini yang membaca artikel saya hingga paragraf ini. Hehe..

Begitulah, semoga ada manfaatnya. Maaf, perhatian Anda sedikit saya curi.***

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.