Titip Rindu untuk Ibuku

Titip Rindu untuk Ibuku 1

Menjelang tahun pelajaran baru, Ibuku sibuk beres-beres isi laci lemari tua itu. Aku diam tidak bertanya. Keringatnya mengucur. Satu hingga beberapa puluh buku tulis pelajaran lamaku dipilah, dipilih entah berdasarkan apa. Dari beberapa buku tulis itu kemudian dicari halaman yang masih kosong. Dilepaskan pelan-pelan. Demikian hingga terkumpul bertumpuk lembar. Dipilah dan disimpan rapi.

Ibuku, kemudian menjahitnya lembar demi lembar kertas kosong itu satu hingga sekian paket buku tulis baru. Diberi sampul dan dikemas rapi. Kemudian, ujarnya setelah aku datang mendekat di sampingnya, “Eman, kan reya kenning angghuy.. ” (Ini kan sayang bila dibuang, bisa dipakai ulang). Begitu berulang Ibu lakukan, tatkala menjelang tahun pelajaran baru sekolah dasar.

Ibu pernah membuatku bendera merah putih dari kertas layang-layang. Ceritanya begini. Menjelang perayaan kemerdekaan, Guruku meminta semua murid agar datang besok ke sekolah dengan membawa bendera merah putih. Aku merengek meminta kepada Ibuku seperti apa yang diminta guruku. “Oke, akan saya buatkan…” kata Ibuku santai.

Rianglah hatiku. Sambil memperhatikan Ibuku yang lagi membuat bendera merah putih dari kertas layang-layang bekas itu aku bersenandung, menyanyikan lagu “Tujuh Belas Agustus” seperti yang guru ajarkan tadi.

Tak lama, bendera merah putih buatan Ibuku jadi. Warna putih di atas warna merah dengan jambul terbuat dari koran bekas di atasnya. Tak sesuai “pesanan”, aku menangis, ngambek sejadinya. Seraya menyeka peluh yang mengembun di keningnya, Ibuku menenangkanku. “Terus gimana, seperti apa maunya? Ini kan sudah sesuai kombinasi warna baju SD-mu!” ujarnya letih. Kemudian, bergegas membetulkannya.

“Jika ditanya tentang pahlawan, namamu ibu yang paling awal aku sebutkan… ” Dalam sajak Ibu buah karya D. Zawawi Imran ini membawa kesan kebenaran mutlak perihal sosok Ibu bagiku. Bagaimana tidak? Ibulah yang menghadirkan aku ke tanah ini. Yang memberi dan meniupkan nafasnya untukku agar terbang bebas menggali ilmu pengetahuan. Dialah madrasah pertamaku. Tempat bertapa dan meditasi. Yang mengenalkan aku akan Dia yang Agung. Yang membesarkan aku dan yang menuntunku.

Ibu tak sekedar menyimpan surga di bawah tapak kakinya, namun ia menghadirkan surga di setiap tatapan-tatapannya. Kata-katanya adalah azimat. pesan-pesannya adalah pusaka. Marahnya merupakan kemarahan Tuhannya. Ibu, bentuk kata lain dari kontemplasi wujud Tuhan di muka bumi. “RidaNya di bawah rida kedua orang tua, marahNya di bawah kemarahan orang tua.” begitu sabda Nabi.

Namun, dua tahun sekian bulan yang lalu (tahun 2018) perubahan menimpaku. Seketika aku dilanda kehilangan. Bukan sekedar kehilangan biasa, namun merasakan kehilangan yang luar biasa. Setelah tahun 2013 yang lalu, aku kehilangan sosok ayah, kini menjadi sempurna. Aku, kehilangan sosok ibu. Penyakit yang bersarang yang aku perjuangkan agar menghengkang dari dalam tubuh ibuku, merenggut semuanya. Bukan hanya nafasnya, namun juga membawa nafasku.

Ah, setiap kali aku mendatangi pusaranya, bahkan setiap kali aku memandangi ragaku, wajahmu ibu selalu hadir. Nasehatmu, pesanmu, kata-katamu abadi dalam hati. Cintamu, kasih sayangmu, masih lembut membelaiku.
Tuhan… titip rindu pada Ibuku. Berilah dia ampunan. Tempatkan dia bersama para kekasihMu di jannahMu. Perkenankan semua amalnya menjadi amal shalih yang terus mengalir menjadi kesejukan baginya. Amin…

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin