Tolong Maaf Kan AKU


Tolong Maaf Kan AKU 1

Zahra adalah anak kaya setiap kali dia sering menggangu  Tasya, Tasya anak kurang mampu. Tasya selalu membantu ayah ibunya di rumah sering kali Tasya membersihkan rumah, mencuci baju, bahkan membantu ibu belanja di pasar.

Tasya selalu mencuci baju kotornya di dalam mesin cuci, karena  bajunya yang terkena lumpur. Tasya harus mencuci baju, baju ayah ibu dan baju Kakak Melina.

“Yah…Bu, ada baju kotor tidak, aku cuci ya.” Kata Tasya.

“Iya sayang ambil lah.” Kata Ayah kemudian.

Baju Tasya lalu di jemur, dan gantian baju ayah ibu di masukan kedalam mesin cuci. Lalu Tasya menuju ke kamar Kak Melin.

“Kak ada baju kotor, aku ambil ya.” Tasya berkata sambil mengambil baju.

“Iya ambil saja.” Kata Melina.

Setelah baju ayah ibu sudah selesai, lalu baju Kak melin di masukan ke dalam mesin cuci.  Baju tasya sudah kering, lalu ku jemur baju ayah ibu dan setelah berapa menit baju Kak Melin sudah berhenti, terus di jemur.Yang bagian sertika baju tugasnya masing masing,  Tasya menyertika bajunya sendiri.

Sebelum tugasnya belum selesai Tasya harus menyapu bagian kamar, ruangan tamu, dan tugas Kak Melina itu menyapu dan menyepel ruang keluarga   dan ruangan atas. Tasya tidak mau menyapu bagian ruangan atas, setelah tugasnya selesai Tasya beristirahat di kamarnya sambil mengerjakan tugas matematika dari Bu Nia.

~“~

Kesokan paginya….

Tasya sudah berangkat sekolah lebih awal di sekolah dan Zahra sudah berada di kelas. Zahra ingin  meminjam tugas matematika  Tasya, tapi Zahra tidak mau mengatakannya.

“Tasya, pergi ke katin yuk.” Kata Novi.

“yuk.!” Kata Tasya kemudian.

Setelah berapa menit kemudian, bel masuk sudah berbunyi Tasya dan Novi segera masuk kelas. Semua murid sudah masuk kelas, Bu Nia menyanyakan tugas matematika ke pada murid – murid.

“Anak – anak keluarkan tugas matematikanya di kumpulkan di atas meja.” Kata Bu Nia.

“Iya, Bu.” Murid – murid menjawab dengan serentak.

Tiba – tiba saja buku tugasnya matematika Tasya tidak ada,Tasya binggung perasaan sudah di bawa dan sudah di masuk ke dalam tasnya.

“Duh, mana ya buku matematikaku.” Kata Tasya  (dalam hatinya binggung).

“Ada apa Tasya.” Kata Novi teman sebangkunya.

“Buku tugas matematikaku tidak ada, di mana nih.” Kata Tasya kemudian.

“Kamu yakin sudah membawanya.” Kata Novi.

“Iya, jadi sudah kumasukkan. Aku tidak pernah lupa apa lagi lupa membawanya. Aku selalu mengumpuli terus tugas tepat waktu Novi, tapi kok tidak ada.” Kata Tasya mulai gelisah.

“Siapa yang tidak mengumpulkan tugas.” Kata Bu Nia tegas.

“Bu buku tugas matematika Tasya hilang, Bu.” Kata Novi.

Kok bisa hilang kan kamu selalu mengumpulkan tugas, bagaimana   bisa hilang Tasya. Apa kamu lupa.” Kata Bu Nia kemudian.

“ Iya sih.Tapi tidak Bu Nia. Aku tidak pernah lupa.” Kata Tasya.

“Ala paling kamu tidak mengerjakan tugasnya iya kan, ngaku aja deh.” Kata Zahra  menatap  mata Tasya.

“Tidak begitu Zahra, aku yakin aku sudah membawanya dan mengerjakan tugasnya.” Kata Tasya mulai ke binggungan apa yang harus di lakukannya.

“Ala paling Tasya bohong, Bu.” Kata Zahra memojokkan Tasya agar Tasya di hukum Bu Nia.

“Sudah begini aja, kalau kamu yakin sudah mengerjakannya. Pasti kamu bisa mengerjakannya soal yang ada di papan tulis, apa kamu bisa menjawbannya.” Kata Bu Nia kemudian.

“Iya, Bu bisa.” Kata Tasya merasa yakin.

“Ok kalau begitu kamu tak kasih soal 20 di kerjakan sekarang, nanti pas pulang sekolah di kumpulkan ya.” Kata Bu Nia dengan sabar.

“Iya Bu.” Kata Tasya kemudian.

“Lho Bu kok di kasih soal 20, sedangkan aku di suruh nyapu semua kelas. “ Kata Zahra.

“Lah kamu sering banget nggak ngerjai tugas dari bapak / ibu guru,  apa kamu sudah mengumpulkan tugas.” Kata Bu Nia.

“Sudah dong Bu.” Kata Zahra.

“Terus bukumu yang mana.” Kata Bu Nia sambil menulis soal.

“Ini buku ku Bu.” Kata Zahra.

“Itu kan buku ku Zahra, kok bisa berada di  kamu.” Kata Tasya terkerjut.

Zahra langsung terdiam dan tidak bisa mengatakan sesuatu.

“Zahra, apa benar itu punya Tasya.” Kata Bu Nia.

“Emmm….tidak kok ini punyaku.” Kata Zahra sudah mulai berbohong.

“Kalau begitu Ibu mau lihat tulisamu. Ibu sudah hapal tulisan anak anak.” Kata Bu Nia   kemudian.

Zahra menyerahkan buku tugasnya pada Bu Nia, sebelum melihat tulisan Zahra. Zahra sudah berteriak  “ jangan Bu.” Kataku.

“Kengapa  Zahra kok kamu teriak begitu.” Bu Nia heran dengan siap Zahra hari ini.

“Iiiittttuu…… bu…buu…buukan punya ku, ttapi puunya Tasya Bu.” Kata Zahra mulai merasa takut di hukum.

“Mengapa kamu bisa mengambil buku tugas Tasya.” Bu Nia berkata sangat marah tapi tetap sabar

“Karena aku tidak mau di hukum lagi Bu.” Zahra berkata pelan sekali.

“Kamu tuh caranya sudah salah sekali itu, seharusnya kamu mengerjakanya di rumah bukan mengambil buku tugas punya-nya teman gitu to.” Kata Bu Nia.

“Iya Bu.”Kata Zahra.

“Cepet kamu minta maaf sama Tasya.” Kata Bu Nia.

“Iya Bu, Tasya aku. Kamu mau kan maafi aku.” Kata Zahra menyesal.

“Emmm… bagaimana ini aku sudah menulis soalnya, sudah selesai gimana dong.” Kata Tasya.

“Tasya.” Kata Bu Nia menatap mata Tasya.

“ Iya Bu. yang kalau begitu kamu tak maafi ya, tapi jangan di ulangi lagi.” Kata Tasya kemudian.

“Iya, aku tida akan mengulanginya lagi. Aku minta maaf ya.” Kata Zahra sambil menundukkan kepalanya.

“Ya sudah kamu sudah ku maafi.” Kata Tasya.

Seharusnya kita sebagai teman itu harus jujur dan memaafkan satu sama lain, jadi Tasya dan Zahra menjadi teman yang selalu memaafkan temannya. Zahra harus meminta maaf semua teman yang suda di jaili sama Zahra. Zahra sadar apa yang di lakukan itu benar salah dan Zahra mndapatkan pelajaranbarunya tentang memaafkan. Sekarang Zahra mendapatkan teman brunya yaitu Tasya.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Masruroh Fitri

   

Nama saya Masruroh Fitri Cahyawati. Hobi saya menulis cerita pendek.

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap