Tongkat dalam Sejarah Buya Hamka

Tongkat dalam Sejarah Buya Hamka

Negeri ini pernah melahirkan Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981), atau populer dengan panggilan . “Sejarah kecil” yang kadang luput dari pemaparan sejarah umum adalah soal beliau.

menemani Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama ini bukan sekadar karena telah renta. Sejak muda, beliau telah mengoleksi . “Seperti orang lain punya hobi mengumpulkan perangko,” kata beliau.

yang produktif buku ini pernah berujar, “Jalan pakai kelihatannya ganteng-gagah.” Sukarno, presiden pertama Indonesia, melihat kebiasaan mengenakan sempat menyindir, “Kelihatan lebih tua.”

Kegemaran mengoleksi telah diketahui publik. Maka, tak heran jika banyak pihak menghadiahi beliau sebuah saat berkunjung ke daerah-daerah, seperti saat singgah di Makassar, Ambon, Aceh, dan Kalimantan. Sebaliknya, juga sering memberikan hadiah berupa . Beberapa hari setelah Mohammad Hatta meninggal dunia, Rahmi Hatta pernah memberikan hadiah yang terbuat dari gading gajah kepada .

Baca juga  Empat Jari Buya Hamka

Anak nomor dua, Rusydi , dalam buku Pribadi dan Martabat menerangkan bahwa kebiasaan memegang tak bisa dilepaskan dari kondisi Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, tempat kelahiran . Maninjau adalah sebuah danau yang dikelilingi bukit-bukit curam dan hutan yang lebat. Rumah-rumah penduduk bertebaran di antara bukit dan danau. Penghidupan didapatkan dari mengelola tanah persawahan dan ladang-ladang yang tak begitu luas karena keterbatasan lahan.

Tongkat dalam Sejarah Buya Hamka

Jika bepergian keluar Maninjau menuju desa-desa lain, penduduk menyebut pergi “ke atas”. Untuk keluar kampung memang harus mendaki gunung-gunung. Untuk jalan ke atas itu, penduduk memerlukan tongkat untuk menopang langkah, mengarungi bukit yang berhutan lebat, dan meniti semak belukar. Tongkat juga dijadikan senjata untuk menghadapi binatang-binatang berbisa seperti ular dan kalajengking.

Tentu, terkadang melepas tongkatnya alias tak selalu mengenakannya. Namun, sejak tergelincir dan terjatuh saat menuruni tangga Masjid Agung Al-Azhar, beliau benar-benar harus menyatu dengan tongkat. Kejadian ini terjadi pada tahun 1960. Setelah menjalani perawatan dokter, kaki tidak lagi leluasa berjalan seperti sebelumnya.

Baca juga  Empat Jari Buya Hamka

Dengan tongkat yang membantu jalannya, Buya tetap mengembara ke mana-mana. Beliau hampir setiap tahun pergi ke Malaysia. Beliau juga mengunjungi negara-negara Timur Tengah, Afrika, dan Eropa berkali-kali. Tongkat selalu dalam cengkeraman tangan beliau saat menuruni tangga pesawat, memasuki auditorium seminar dan konferensi internasional, dan menyambangi istana raja-raja dan presiden.

Rusydi menuturkan, “Tongkat menemani Ayah hingga akhir hayatnya. Sebuah tongkat yang paling sering dibawanya menjelang berakhirnya usia Ayah adalah sejenis kayu dari Pakistan, yang tersandar di bagian kepala pembaringannya di ruang ICU Rumah Sakit Pertamina.”

Ada kenangan mengharukan yang dirasakan Rusydi saat ayahnya menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia pada tahun 1974.  Gelar diberikan oleh pimpinan universitas Tun Abdul Razak yang saat itu juga menjabat perdana menteri Malaysia. Saat dipersilahkan berdiri untuk mengenakan toga kehormatan, Buya dipapah tongkat di tengah sorot mata tamu-tamu terhormat, cahaya terang spotlight televisi, dan kilatan lampu kameramen.

Baca juga  Empat Jari Buya Hamka

Namun, ketika diminta berpidato di atas panggung, Buya memilih berpidato di atas kursi. Sebelum duduk, tongkat ditaruh di tangan kursi. Di hadapan sejumlah guru besar, Buya tetap berpidato dengan tenang. Usai berpidato, beliau mengambil tongkatnya lantas turun dari panggung.

Buya dengan tongkatnya telah menyimpan sejarah sendiri. Buya bukan hanya milik bangsa Indonesia, tetapi juga kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara. Namun, tongkat terakhir yang dipakai Buya , sekarang milik siapa? “Entah di mana tongkat itu kini,” kata Rusydi . Wallahu a’lam.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Hendra Sugiantoro

   

juru tulis, pemustaka, pengkliping koran, periset buku lawas, penikmat tokoh, dan penyeru literasi