Toxic Parents Bikin Tertekan, Suka Dibandingkan dengan Anak Tetangga


Toxic Parents Bikin Tertekan, Suka Dibandingkan dengan Anak Tetangga 1

“Jangan nonton TV mulu, belajar sana. Lihat tuh anaknya tetangga depan rumah kita, tiap kenaikan kelas selalu dapet juara. Seneng banget orang tua kalau anaknya bisa kaya gitu.” Ini kalimat yang dulu (mungkin) sering dilontarkan Ibu kepadamu ketika kamu masih sekolah

” Jadi kapan skripsimu selesai biar bisa cepet wisuda. Anak-anaknya temen Ibu seangkatan kamu sudah pada kerja semua loh.” Ini sebuah dialog yang cukup mengiris ketika kamu duduk di bangku kuliah.

“Hari Ibu kemaren si Lisa ngasih kado ke Ibunya sebuah mobil yang mewah dan diajak makan makan direstouran ternama dikota kita. panteslah, dia anak yang hebat. bekerja di perusahaan besar dan calon suaminya juga seorang pengusaha yang sukses.” Kalimat menohok ini akan kamu dapati ketika kamu sudah bekerja.

Ada satu hal yang tidak dapat kita pilih dalam hidup, yaitu takdir tentang siapa orang tua kita ketika kita dilahirkan di dunia.  Namun, apakah kamu pernah mendapat beberapa kalimat di atas dari orang tuamu?. Apakah yang kamu lakukan selama ini selalu dianggap tidak cukup baik untuk orang tuamu ?. Jika tidak, maka kamulah seorang anak yang sangat beruntung di dunia ini. Bersyukurlah.  Disisi lain beberapa pendapat mengatakan bahwa sebenarnya tujuan orang tua hanya ingin kita termotivasi, karena tidak ada orang tua yang berniat untuk menyakiti perasaan anaknya.

Namun sebagai orang tua yang dulu pernah muda, pernah berada dalam posisi kita harusnya lebih mengerti bahwa dibanding bandingkan dengan orang lain itu adalah hal yang sangat menyakitkan. Sebuah motivasi namun mental illnes, sekejam itukah pelumpuhan mental yang mengatasnamakan motivasi. Mereka inilah yang oleh Forward dalam bukunya yang berjudul Toxic Parents : Overcoming Their Hurtful Legacy and Reclaiming Your Life disebut sebagai salah satu contoh orang tua disfungsional atau disebut sebagai Toxic Parents.

Kamu harus tahu ciri-ciri toxic parent yang dapat kamu ketahui secara sederhana seperti berikut ini :

Orang Tua Tidak Dapat Memberikan Kasih Sayang dan Rasa Aman Terhadap Anaknya 

Toxic Parents Bikin Tertekan, Suka Dibandingkan dengan Anak Tetangga 3

Menurut Forward type orang tua seperti ini disebut sebagai orang tua yang tidak adekuat. Yaitu orang tua yang tidak memenuhi kewajiban utamanya terhadap anak . Sebuah kasih sayang dan rasa aman merupakan hal utama yang harus diberikan kepada anak. Apabila hal tersebut tidak diberikan maka seorang anak akan tidak begitu dekat dengan orang tuanya. Akibatnya anak selalu menyelesaikan permasalahan hidupnya seorang diri tanpa adanya bimbingan yang tepat sehingga melahirkan sebuah keputusan yang tidak benar dan beresiko.

 

Semua Tindakan dan Pilihan Anak Selalu Salah dimata Mereka

Semua yang dilakukan anak selalu dinilai kurang baik dan kurang tepat, sehingga tidak menghargai  pilihan sang anak. Terkadang orang tua lupa bahwa anak juga memiliki hak untuk dihargai setiap pilihan dan keputusannya. Orang tua seperti ini cenderung suka mengkritik tanpa memberika solusi atau terkadang memberikan solusi yang memaksa. Akibatnya seorang anak menjadi malas untuk melakukan apapun dan kehilangan jati dirinya. Selain itu seorang anak akan tumbuh dengan pribadi yang sulit untuk mengambil keputusan.

 

Orang Tua Melarang Anak Mengekspresikan Emosi Negatif

Orang tua seperti ini akan melarang segala ekspresi negatif yang diekspresikan oleh seorang anak. Seperti halnya seorang anak yang tidak boleh menangis, tidak boleh bersedih ataupun marah dan segala sesuatu terkait kebutuhan emosionalnya. Akibatnya akan memicu depresi pada sang anak karena tidak bisa melepaskan beban yang ada dalam dirinya secara leluasa.

 

Orang Tua Membebankan Kebahagiaan Kepada Anak

 

Parameter kebahagiaan orang tua yang toxic adalah mereka ingin anaknya menjadi sosok yang mereka inginkan dan bisa membuatnya bahagia. Apabila orang tua ingin anaknya kuliah di perguruan tinggi A dengan jurusan yang diinginkan orang tuanya, maka anaknya harus mewujudkan keinginannya untuk kuliah di kampus tersebut demi membahagiakan orang tuanya. Tidak jarang mereka mengorbankan kebahagiaan sendiri demi membahagiakan orang tua. Selain itu dalam kehidupan keluarga yang pas pas an orang tua membebankan kebahagiaan kepada anak bahwa nanti kalau sudah dewasa harus bisa memberikan orang tuanya kehidupan yang lebih baik.

Seakan akan bergantung kepada masa depan anak, maka kalau misal anak gagal membuat orang tua hidup enak maka dinilai tidak dapat membahagiakan orang tua. Padahal dalam kamus seorang anak, tidak ada yang ingin melihat orang tuanya hidup menderita. Seorang anak tanpa diberikan mandat untuk membahagiakan orang tuanya-pun  jauh sebelum mereka dewasa sudah memikirkan hal akan itu. Justru ketika kita semakin dituntut, maka akan semakin depresi dan tidak tahu lagi harus berbuat apa.

 

Orang Tua yang  Suka Membanding kan Anaknya dengan Anak yang Lain

Toxic Parents Bikin Tertekan, Suka Dibandingkan dengan Anak Tetangga 4

Membandingkan anak sendiri dengan anak anak yang lain seperti sudah menjadi budaya yang mendarah daging di masyarakat. Kalimat kalimat pembuka di awal tulisan ini merupakan salah satu contoh betapa budaya membanding bandingkan ini masih abadi di lingkungan sekitar kita, atau bahkan mungkin terjadi pada diri kita saat ini. Kegiatan membanding bndingan itu bahkan dilakukan dari anak usia masih balita hingga dewasa.

Ketika masih balita anak dibandingkan dengan yang sudah bisa berhitung, ketika sekolah anak dibandingkan dengan temannya yang sering juara satu, ketika kuliah dibandingkan dengan temannya yang sudah wisuda duluan, ketika kita kerjapun masih dibandingkan dengan anak orang yang lebih sukses lagi. Tidak akan berhenti di situ ketika sudah menikahpun seorang anak masih mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang tua yang toxic. Baik itu dari segi pendidikan, prestasi, kekayaan, gaya hidup, fisik dan permasalahan kehidupan lainya.

 

SEPUCUK SURAT UNTUK PARA ORANG TUA

Ada banyak hal yang perlu diketahui oleh orang tua. Tidak ada satu anakpun yang tidak ingin membahagiakan orang tuanya. Ketika kami sedang berjuang melalui banyak proses maka kebahagiaan orang tualah yang menjadi tujuan kami, tanpa harus diminta. Jadi, jangan pernah banding bandingkan kami dengan anak yang lain. Proses kami berbeda, medan kami berbeda, mimpi kami berbeda, takdir kami berbeda dan yang paling penting kita lahir dari orang tua yang berbeda, pun dengan pola asuh yang berbeda pula.

Maka kami pun memiliki cara masing masing untuk membahagiakanmu, yang pasti tidak sama. Dulu ketika kami masih kecil juga tidak pernah membandingkanmu dengan orang tua teman teman kami. Karena bagi kami orang tua kita adalah yang paling hebat. Selama ini kami selalu berusaha dengan segala kemampuan kami. Tolong hargai pengorbanan kami. Ketika kami belum mampu memberikan apa yang menjadi keiginan orang tua seperti anak anak yang lain, tolong do’akan dan dukung kami.

Kami tahu tujuan membandingkan degan anak anak yang lain agar kami temotivasi untuk mencapai hal yang sama. Namun hal itu justru menciptakan rasa sakit hati yang mendalam dan merusak kesehatan mental kami. Bisa jadi stres, insecure, merasa diri tidak berguna dan gagal membahagiakan orang tua, kehilangan bakat yang sebenarnya kita miliki namun tidak pernah dihargai.

Selain itu kita jadi enggan untuk berkomunikasi dengan orang tua, karena merasa trauma dengan obrolan yang selalu mengarah pada hal hal yang membicarakan kelebihan anak orang lain. Kami sebagai anak hanya butuh suport dan doa, bukan dibandingkan dengan anak tetangga.


Suka POST ini ? Bagikan ke temanmu !

Bunga Desember

   

Pecandu gunung dan kabut dingin pembawa damai

Subscribe
Notify of
1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Nurmalasari

Hm, betul sekali. Dibandingkan itu sangat enggak enak, sakit hati. Rasanya untuk hidup saja sudah nyerah:”