Tradisi Hane Zambaya dan Pengalihan Rasa Sakit di Papua

Tradisi Hane Zambaya dan Pengalihan Rasa Sakit di Papua

Kematian pasti meninggalkan kesedihan bagi setiap orang yang ditinggalkan. Akan terasa perih ketika ditinggal orang tersayang seperti orangtua, adik, kakak, kekasih.

Upaya apapun untuk membuatnya kembali, tentu tidak akan pernah ada. Doa dan harapan pun tujuannya bukan untuk menghidupkan kembali orang yang telah meninggal.

Namun, untuk memberikan keselamatan, keikhlasan, dan kedamaian.

Bukan hanya bagi yang meninggal, tapi bagi kita yang masih hidup dan menerima rasa pahit.

Tangan milik salah seorang mama di Distrik Wandai, Kabupaten Intan Jaya, Papua yang menjalankan Hane Zambaya karena beberapa anaknya yang meninggal dunia.
Tangan milik salah seorang mama di Distrik Wandai, Kabupaten Intan Jaya, Papua yang menjalankan Hane Zambaya karena beberapa anaknya yang meninggal dunia.

Suku Moni di Distrik Wandai, Kabupaten Intan Jaya, Papua memiliki tradisi yang unik untuk meluapkan rasa kecewa atas kehilangan anggota keluarga yang meninggal dunia.

Tradisi tersebut biasa disebut Hane Zambaya (Potong Jari). “Tujuannya untuk membuat arwah tetap tinggal di Honai (Rumah Adat Masyarakat Papua) sampai luka jari tersebut sembuh,” ungkap Derek (30) seorang warga Distrik Wandai.

Hane Zambaya ini dilakukan seorang diri. Orang yang ditinggalkan keluarganya karena meninggal dunia, akan langsung memotong jarinya, setelah pemakaman selesai.

Baca juga  5 Objek Wisata di Papua Barat yang Memikat

Hane zambaya berlaku bagi semua jari kecuali ibu jari. Biasanya mereka memotong dua ruas jari.

Prosesi pemotongan jari dilakukan menggunakan parang, kampak atau benda tajam lainnya, beralaskan batu atau kayu.

Tradisi ini bukan saja dilakukan Suku Moni akan tetapi Suku Dani, di Papua. Masyarakat Pegunungan Tengah Papua biasa melakukan hal ini sejak lama.

“Orang yang memotong jari akan menangis tersedu-sedu saat pemotongan berlangsung,” jelas Kepala Desa Wandai, Lukas Zagani.

Derek menjelaskan, Setelah jari terputus, biasanya masyarakat akan melakukan pengobatan secara tradisional.

Obat yang dianggap manjur adalah daun ogaogah, dagohoga dan bogeogah. “Setiap tiga hari harus mengganti daun, maka luka akan kering di hari ke sembilan,” tutupnya.

Secara medis tentu saja ini adalah kebiasaan yang terbilang ekstrim. Unik memang, hanya saja berakibat pada pengurangan daya cengkram yang menyebabkan kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

Baca juga  Inilah 5 Kebiasaan Orang Indonesia di Saat Malam Pergantian Tahun Baru

“Jika jari-jari dipotong tentu saja akan mengurangi fungsi tangan,” papar dr. Rizky Amaliah, Sp.B.

Jari adalah anggota tubuh yang sangat penting. Di mata medis, kasus yang mengharuskan amputasi pada tangan, dapat membuat pihak medis berpikir berulang kali, mencari cara bagaimana agar tidak mempersulit pasien menjalani kehidupannya pasca operasi.

“Sejauh ini belum ada jari atau tangan palsu (robotic) yang dapat mendekati fungsi sebenarnya,” ujar dokter berdarah sunda tersebut.

Satu Keluarga di Distrik Wandai, Papua sedang berkumpul di depan Honai. Satu orang mama menunjukan tangannya dan terlihat beberapa jarinya telah hilang, pertanda keluarga ini tidak benar-benar lengkap. 
Satu Keluarga di Distrik Wandai, Papua sedang berkumpul di depan Honai. Satu orang mama menunjukan tangannya dan terlihat beberapa jarinya telah hilang, pertanda keluarga ini tidak benar-benar lengkap. 

Cara Memindahkan Rasa sakit

Masyarakat Pegunungan Papua memiliki kebiasaan lain selain Hane Zambaya.

Kebiasaan ini adalah menyayat anggota tubuh; kening, tangan, paha, dan anggota tubuh lainnya.

Hal ini dilakukan karena mereka meyakini darah kotor di dalam tubuh harus dikeluarkan saat mengidap penyakit.

Seperti kisah Petrus (43), seorang warga Desa Wandai, dia menyayat pelipisnya karena sakit kepala. Bekas luka di pelipisnya terdapat di bagian kiri dan kanan.

Baca juga  7 Masakan Lokal Papua yang Ekstrem, Berani Nyobain?

Jika ia merasakan sakit kepala lagi, maka akan dilakukan lagi sayatan ditempat yang sama. “Sakit kepala langsung hilang,” katanya dengan mantap.

Bukan hanya sakit kepala, tapi pilek, sakit mata, tumor (bengkak), dipatuk ular, sampai anak yang menangis terus menerus pun disayat untuk mengobatinya.

“Semua masalah dibawa pada peradangan ulang,” kata Junaedi,S.kep, relawan medis doctorSHARE di pelayanan medis Distrik Wandai, Papua.

Berdasarkan penjelasan Junaedi, Peradangan atau Inflamasi adalah cara tubuh untuk melakukan penyembuhan diri.  

Masyarakat Papua melakukan penyayatan pada setiap kasus penyakit. Artinya proses peradangan ulang terus menerus dilakukan tubuh.

“Logisnya memang rasa sakit kepala akan hilang, diganti oleh sakitnya sayatan yang mungkin sudah familiar rasanya bagi mereka,” imbuh perawat bedah senior tersebut.

Menurut Lukas Zagani, ritual hane zambaya sudah tidak boleh dilakukan lagi sejak tahun 2000.

Pemerintah daerah melarangnya. Faktor masuknya Agama juga memperkuat larangan tersebut. Namun, metode penyembuhan dengan sayatan masih berlangsung hingga kini.

Masyarakat pegunungan Papua dengan segala keunikannya mampu bertahan melawan penyakit dengan caranya sendiri.

Hane zambaya dan sayatan pada organ tubuh adalah suatu pengalihan rasa sakit khas Papua yang tidak akan dilakukan jika saja ada layanan kesehatan dan pendidikan yang mumpuni bagi pengetahuan masyarakat pegunungan Papua.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Devrila M. Indra