Tradisi Minum Teh, Bagian Kolonialisme yang Masih Bertahan

Tradisi Minum Teh, Bagian Kolonialisme yang Masih Bertahan

Kebiasaan atau habit dalam sebuah keluarga biasanya diajarkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi sampai akhirnya di beberapa generasi setelahnya pemaknaan dan cerita sejarahnya mulai dikaburkan karena hal itu menjadi kebiasaan yang seolah sudah ada sejak dahulu atau dalam istilah lain bisa disebut sebagai tradisi. Seperti tradisi pada waktu pagi atau petang hari, bagi sebagian keluarga yang di teruskan hingga saat ini dalam beberapa keluarga. Tapi tahukah bahwa tradisi merupakan dari kolonialisme Belanda.

Tanaman atau disebut juga sebagai “emas hijau” sempat menjadi komoditas dagang di Indonesia kala penjajahan kolonialisme Belanda. Meski awalnya sebatas tanaman hias, menjadi komoditas dagang di pasar Internasional kala itu. mulai masuk di Indonesia pada tahun 1826 mulai dilakukan uji coba penanaman pembibitan tanaman di Kebun Raya Bogor dan melihat keberhasilan perdagangan yang dilakukan Jepang, Tiongkok dan Taiwan di pasar Eropa akhirnya pada tahun 1833 penanaman yang menggunakan lahan luas lebih di masif dan dua tahun setelahnya hasil perkebunan tersebut mulai di angkut ke Belanda.

Baca juga  10 Jenis Teh Yang Baik Untuk Kesehatan Tubuh, Mana Yang Kamu Suka ?

Tradisi Minum Teh, Bagian Kolonialisme yang Masih Bertahan

Pada masa politik cultur stelsel di Indonesia pada masa , tanaman merupakan tanaman yang wajib ditanam entah ditanam ditanah sendiri atau ditanah sewaan rakyat diwajibkan untuk menanam tanaman ini. Daerah penanaman di Indonesia meliputi Batavia, Karawang, Banten, Cirebon, majalengka dan beberapa daerah di Jawa Barat Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan bahkan hingga ke Sumatera. Tanaman atau istilah lain “emas hijau” telah menjadi komoditas danag tersendiri di pasar internasional dan memberikan sumbangan bagi devisa Indonesia. menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, tetapi tidak untuk kesejahteraan masyarakat melainkan untuk mendapatkan keuntungan bagi Belanda.

Kebiasaan teh yang jadi bagian dari masyarakat Indonesia sampai saat ini adalah kebiasaan Belanda yang diadaptasi dari Tiongkok, dan Jepang sebagai negara yang telah membangun tradisi ini selama ribuan tahun. Sebab Belanda hal ini membuat budaya teh lebih kepada ke barat-baratan daripada merujuk orientalis. Di sisi lain teh pada zaman adalah tanda adanya perbedaan kelas sosial. Kebiasaan teh kala itu identik dengan orang-orang barat, kelas-kelas bangsawan atau priyayi. teh menjadi kebiasaan yang dilakukan masyarakat kelas atas yang tidak bisa dinikmati oleh masyarakat kelas bawah kala itu. Sebab menjadi komoditas dagang pasar internasional di Eropa berarti olahan adalah mahal dan sarat akan kelas.

Baca juga  3 Pelengkap Makanan Yang Paling Pas Untuk Ada Disetiap Makan

Karena rakyat biasa pada waktu itu hanyalah menjadi tenaga kerja untuk komoditas perdagangan teh bukan sebagai penikmat teh. Tradisi teh merupakan kolonialisme yang masih dipertahankan hingga saat ini dan menjadi sebuah tradisi turun-temurun. Kolonialisme yang merupakan penjajahan dengan pengerukan sumber daya alam dan sumber daya manusia tidak selalu berarti buruk, nyatanya meminum teh memiliki beberapa manfaat tersendiri untuk kesehatan asal menggunakan cara yang sesuai. Meskipun awal mula komoditi dagang teh ini menjadi bagian dari penindasan kepada pribumi.

Tradisi Minum Teh, Bagian Kolonialisme yang Masih Bertahan

Hari ini teh tidak lagi mengenal kelas sosial lagi karena hampir semua kalangan masyarakat bisa menikmati teh. Tetapi, yang membedakan adalah bagaimana cara, suasana dan nilai-nilai yang ada ketika teh ini. Misalkan dalam sebuah keluarga teh ada di waktu-waktu tertentu seperti pagi hari sebelum beraktivitas atau petang hari di saat berkumpul dengan keluarga sambil berbincang. Di sisi lain, ada yang teh untuk pelengkap ketika berada ditempat makan atau disambi sembari melakukan pekerjaan. Lebih lagi dengan pengemasan teh yang makin praktis hari ini teh telah menjadi komoditas yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Baca juga  Neron yuk, Intip Kebiasaan Suku Lembak

Setiap kelas sosial dan generasi memiliki jenis teh yang dikonsumsi. Misalkan teh kekinian yang dijual secara Frenchise dengan segmentasi pasar generasi milenial atau teh dalam kemasan yang diperuntukan bagi konsumen yang lebih umum, dan metode lain yang menjadikan teh sebagai yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari.

bukan sebuah kebiasaan yang ada sengan sendirinya tetapi ia berkaitan dengan berbagai macam hal seperti konteks budaya, ekonomi, sosial dalam hidup masyarakat. Terlebih lagi merupakan kolonialisme yang masih dipertahankan sampai hari ini. Tradisi ini adalah bangunan yang dikonstruk secara turun temurun dari yang dulu sarat akan kelas sosial tapi hari ini lebih melebur ke berbagai kelas sosial masyarakat yang beragam.

Baca Juga

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

armahatra

   

"Kita tidak akan pernah selesai dalam pembelajaran dan pembacaan karena manusia adalah pembelajar sepanjang hayat"