Tren Bukber 2022 Dinilai sebagai Ajang Pamer Busana, Budaya Konsumtif Semakin Merajalela?


Tren Bukber 2022 Dinilai sebagai Ajang Pamer Busana, Budaya Konsumtif Semakin Merajalela?

Bulan Ramadan selalu dinantikan oleh para kaum muslim. Di bulan ini tak lepas dari istilah bukber. “Bukber” sendiri merupakan singkatan dari “buka puasa bersama”.

Hal ini merupakan tradisi yang tidak bisa lepas disaat bulan ramadan tiba. Tak hanya kaum muslim saja, kaum non muslim pun juga ikut antusias dalam meramaikan tradisi ini.

Ketertarikan terhadap tradisi bulan ramadan ini membuat masyarakat menciptakan tren bukber yang semakin unik dari tahun ke tahun.

Mengingat sejak 3 tahun terakhir, antusiasme untuk buka bersama tidak sebesar dari tahun-tahun sebelumnya.

Karena adanya pandemi Covid-19 pada tahun-tahun sebelumnya sehingga menimbulkan adanya peraturan-peraturan yang mengharuskan masyarakat untuk tidak melakukan buka puasa bersama atau membatasinya agar pandemi Covid-19 tidak bertambah buruk.

Hal ini membuat masyarakat tidak dapat merasakan sensasi bulan ramadan yang sesungguhnya.

Pada tahun 2022 ini, bisa kita rasakan peraturan mengenai protokol kesehatan untuk buka bersama sudah tidak seketat tahun sebelumnya.

Pemerintah memberikan kebijakan baru berupa memperbolehkan buka puasa bersama asalkan tetap menjaga jarak.

Dilansir dari kompas.com, menurut Satgas Penanganan Covid-19, buka puasa bersama diperbolehkan asalkan tidak mengobrol.

Lebih jelasnya, tidak perlu berbicara saat menyantap makanan agar tidak menimbulkan droplet yang menyebabkan penularan virus.

Selanjutnya, setelah selesai makan, bisa melanjutkan silaturahmi dengan memakai masker dan tetap menjaga jarak.

Hal ini merupakan kabar baik bagi yang di saat ramadan sebelumnya belum sempat berkumpul untuk berbuka bersama dengan teman lama, keluarga, sahabat, atau bahkan pasangan.

Ramadan tahun 2022 ini sangat dinantikan oleh masyarakat. Mengingat sensasi bulan ramadan pada 3 tahun terakhir tidak terlalu berkesan dikarenakan pandemi Covid-19.

Kerinduan akan suasana bukber dengan teman ataupun keluarga sudah tidak terelakkan. Oleh karena itu, tren buka bersama di tahun 2022 sudah banyak berseliweran di sosial media terutama TikTok.

Banyak sekali tren “Ramadhan vibes” di TikTok saat ini. Mulai dari Jedag Jedug (JJ) dengan petasan, bermain kembang api, hingga yang paling menarik perhatian yaitu bukber dengan dress code “abaya”.

Tren “Bukber abaya” merupakan tren yang banyak diikuti oleh netizen di TikTok. Dengan nuansa hitam-hitam dan hashtag “habibi”, mereka berlomba-lomba agar video bukber yang mereka buat bisa masuk fyp (for your page) di TikTok.

Bukan merupakan suatu masalah apabila buka puasa bersama dilakukan dengan menggunakan dress code yang telah disepakati bersama.

Justru jika menggunakan dress code tertentu akan menunjukkan kebersamaan dan kekompakan dari rombongan bukber tersebut.

Namun, yang membedakan dari “Bukber abaya” ini adalah bahwasanya tren ini dijadikan sebagai ajang kompetensi dalam berbusana bak “wanita-wanita dubai atau arab” yang bergaya hidup mewah.

Pemilihan tempat buka bersama pun juga difokuskan pada restoran-restoran yang berkelas dengan desain interior yang sepadan dengan busana mereka.

Istilah “kebersamaan” dan “kekompakan” merupakan embel-embel yang tepat untuk dijadikan alasan agar rekan satu grup dalam suatu “circle pertemanan” bersedia mengikuti tren “Bukber abaya” tersebut.

Nahasnya, tak senggan dari mereka yang tidak memiliki abaya hitam rela merogoh kocek untuk membeli abaya hanya agar bisa mengikuti tren tersebut.

Selain itu, dana yang dibutuhkan untuk berbuka di restoran yang berkelas pun juga tidak sedikit. Hal ini menunjukkan bukti gaya hidup yang konsumtif di kalangan remaja saat ini.

Budaya konsumtif sendiri merupakan suatu pola atau gaya hidup yang berlebihan pada seseorang atau masyarakat yang identik dengan kemewahan.

Dapat pula diartikan sebagai gaya hidup yang suka membelanjakan uang tanpa pertimbangan yang matang.

Mengikuti tren yang disertai dengan pemborosan merupakan salah satu perilaku konsumtif yang sepatutnya dihindari.

Dampak gaya hidup yang konsumtif akan mempengaruhi kondisi finansial kita. Apabila perilaku konsumtif sudah menjadi kebiasaan, maka sifat boros pun tidak dapat dihindari.

Selain berdampak pemborosan, perilaku konsumtif juga dapat mengakibatkan kesenjangan sosial dan inflasi. Kepemilikan benda atau barang akan membuat jurang kaya dan miskin makin kentara.

Perilaku konsumtif menunjukkan tingginya jumlah orang yang membelanjakan uangnya. Apabila angka spending tinggi, maka jumlah uang yang beredar akan banyak. Hal ini mendorong menurunnya nilai uang sehingga terjadilah inflasi.

Disaat masih memiliki daya beli, perilaku konsumtif memang menyenangkan. Kita bisa membeli segala sesuatu yang kita inginkan.

Namun, tanpa disadari perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan dan akan membentuk karakter yang sulit untuk diubah.

Seseorang yang konsumtif akan merasa ketagihan untuk membelanjakan uangnya dan perilaku tersebut cenderung sulit untuk dihentikan.

Jika sudah seperti itu, bayangkan apa yang akan terjadi disaat daya beli sudah tidak mendukung lagi? Tentu kita akan mengalami “kesehatan” finansial yang akan semakin memburuk seiring berjalannya waktu.

Sebenarnya, tradisi bukber bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Mulai dari yang sederhana hingga mengikuti tren yang ada.

Namun, kita juga harus bersikap bijak dan selektif akan tren-tren yang kini sedang ramai diikuti.

Semua kembali kepada diri kita masing-masing. Apabila dirasa tren tersebut tidak dapat diikuti, maka jangan dipaksakan.

Buka puasa bersama dapat dilakukan ditempat yang terjangkau oleh semua kalangan dan apabila ingin meningkatkan kekompakan dapat menggunakan dress code dengan warna baju yang dimiliki oleh semua orang.

Alangkah lebih baik jika uang yang kita miliki dapat disisihkan untuk beramal dan bersedekah di bulan Ramadhan.

Karena semua amalan baik yang dilakukan di bulan Ramadhan akan diberikan pahala yang berlipat-lipat.

Namun, jika tetap ingin mengikuti tren tersebut, kita bisa membuat versi yang lebih sederhana.

Dalam hal ini kreativitas sangat dibutuhkan. Daripada mengikuti tren yang dirasa memberatkan, mungkin dari kreativitas yang kita miliki dapat menghasilkan konten yang lebih menarik sehingga bisa menciptakan tren baru. Tertarik untuk mencoba?