Tukang Cukur Depan Pasar Merupakan Oase Dari Pasar Itu Sendiri


Tukang Cukur Depan Pasar Merupakan Oase Dari Pasar Itu Sendiri 1

Pasar tradisional merupakan tempat berkumpulnya berbagai macam pedagang dari berbagai tempat untuk melaksanakan suatu kegiatan jual-beli pada waktu tertentu. Walaupun pasar diperuntukkan untuk berjualan, tidak menutup mata bahwasanya pasar juga dipakai usaha dalam sektor jasa. Usaha dalam sektor jasa yang sering kali kita lihat di antaranya, tukang parker, ojek, tukang sol sepatu, servis korek api hingga tukang cukur.

Usaha sektor jasa biasanya bertempat di bagian luar pasar dan uniknya hal tersebut menjadi tempat nongkrong favorit untuk menghilangkan gabut. Biasanya menjadi tempat pertukaran kabar berita yang cukup cepat dan up to date. Entah itu masalah politik, sosial, budaya, hingga tetangga kadang tanpa sengaja masuk menjadi bahan obrolan, walaupun ndak semua seperti itu.

Salah satu sektor jasa yang cukup menarik bagi saya adalah tukung cukur depan pasar. Di mana tukang cukur depan pasar menjadi sebuah oase dari kebokekan tapi ingin mencukur dengan rapi. Tak udah di pertanyakan lagi seberapa friendly-nya dikantong pengangguran terselubung seperti saya. Yang jelas coba dan anda akan tahu hasilnya.

Ngomong-ngomong soal tukang cukur, sadar atau tidak sadar tempat tersebut bisa menjadi sumber invormasi yang cukup manteb. Hal tersebut dapat terjadi karena pelanggan yang mau cukur datang dari berbagai tempat berbeda dan kebanyakan dari mereka tak mungkin untuk tidak ngobrol dengan tukang cukur. Jadi kalau bejo bisa saja dapat berita-berita hot dari lain daerah. Tapi kalau bejo ya, pas obrolan bisa sampai kesitu.

Obrolan saat cukur bisa beragam, tergantung anda dan tukang cukurnya. Kalau tukang cukur pada saat itu sedang onfire biasanya obrolan akan bisa merembet kamana-mana, akan tetapi dengan catatan anda harus aktif juga memancing dan bertanya. Sering tuh tukang cukurnya aktif tapi pelanggannya diam saja, jadilah obrolan tidak dibentuk dengan maksimal. Kalau sudah seperti itu biasanya obrolan hanya berkutat tanya alamat dan gaya cukuran.

Selain menjadi tempat pencairan berita, tukang cukur depan pasar bisa menjadi sarana curhat kecil-kecilan. Curhat kepada tukang cukur merupakan cara yang cukup ampuh untuk berbagi kesumpekan, apalagi masalah perduwitan dan di tambah media sana-sini mbahas inpor beras, pehh gek sawah tandurane pari pisan. Ehh kenapa jadi ngomongin beras.

Bisa dilihat betapa enaknya sambat kepada tukang cukur depan pasar. Bukan berarti tidak ada rasa syukur kepada pemberian dari tuhan, akan tetapi sekedar meluapkan isi hati yang terpendam oleh ego yang paling dalam. Ceileh basane sok puitis.

Kembali ketopik, tukang cukur depan pasar bukan hanya sekedar tempat sambat akan tetapi juga tempat nongkrong yang enak. Tempat yang nongkrongable membuat para pelanggan nyaman dan betah, bahkan untuk orang yang sekedar gabut atau neduh pun ikut betah juga. Entah ngelmu apa yang dipakai tukang cukur pasar untuk bisa pas milih tempat buat cukuran.

Kebanyakan yang nongkrong adalah bapak-bapak yang sedang nunggu istrinya belanja di pasar. Kadang ada juga anak muda kayak kita-kitak, tapi jarang banget. Kalaupun ada palingan sehabis cukur sekalian nongkrong. Tau lah mumpung obrolan lagi anget-angetnya kadi males buat balik.

Seperti itu lah yang kemanteban dari cukur depan pasar, selain harga friendly, juga enak untuk curhat sekalian nongkrong. Semoga kedepannya tukang cukur depan pasar tidak punah sejalannya waktu, karena di situ terdapat kearifan lokal yang mungkin seberjalannya zaman akan kita rindukan.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Abdan

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap