Uang Panai, Antara Budaya dan Momok

Uang Panai, Antara Budaya dan Momok 1

Sulawesi Selatan dengan ibukotanya Makassar, menyimpan begitu banyak ragam budaya, mulai dari suku bangsanya, rumah adatnya, kulinernya, dan masih banyak lainnya. Salah satu budaya Bugis-Makassar yang sangat kental adalah Uang Panai biasa disebut juga panai’ atau panaik. Uang panai merupakan adat tradisi suku Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan yang merupakan uang yang harus diserahkan pihak keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan yang ingin diperistri.

Budaya ini sudah ada sejak dulu, namun tidak jarang uang panai ini menjadi momok tersendiri bagi keluarga laki-laki yang tidak mampu menebusnya. Karena tidak jarang uang panai bisa mencapai miliaran rupiah besarnya hingga menyebabkan cinta kandas di tengah jalan.

Uang panai ini sendiri sebenarnya adalah siri, kewibawaan atau harga diri dalam budaya Bugis-Makassar dan perlambang penghormatan suku Bugis-Makassar terhadap perempuan. Perbedaan besarnya uang panai di sebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor pendidikan, faktor keturunan, dan faktor lainnya. Uang panai gadis yang berpendidikan S1 akan jauh lebih besar dengan gadis yang hanya berpendidikan SMA, faktor keturunan juga sangat berpengaruh, seorang gadis keturunan bangsawan uang panai nya bisa mencapai miliaran, demikian juga jika sang gadis sudah pergi haji akan bertambah besar pula uang panainya.

Mengapa uang panai sangat mahal?   

Dahulu kala para orangtua ingin melihat seberapa seriusnya sang pria dalam melamar anak gadisnya sehingga sang pria betul-betul berusaha mengupayakan untuk mendapatkan gadis pujaan hatinya. Oleh karena itu susah sekali mendapatkan gadis suku Bugis-Makassar tapi hal ini juga berpengaruh terhadap kecilnya tingkat perceraian karena sang pria akan berpikir seribu kali untuk menceraikan istrinya disebabkan sudah banyak berkorban untuk mendapatkannya.

Besarnya uang panai biasanya juga diumumkan dalam salah satu prosesi sehingga hal ini menjadikan kebanggaan tersendiri di tengah masyarakat. Hal lain yang tidak bisa dipungkiri adalah tingginya uang panai juga menyiratkan sikap asli calon mertua kepada sang pria calon menantunya. Calon mertua yang tidak menerima calon menantunya akan menetapkan uang panai setinggi langit dengan maksud agar calon menantunya mengurungkan niat untuk melamar anak gadisnya.

Silariang

Dengan tingginya uang panai menyebabkan kendala tersendiri bagi banyak pasangan muda yang hendak menikah sehingga tak jarang mereka menempuh jalan pintas dengan cara kawin lari atau “Silariang”. Bagi suku Bugis-Makassar silariang adalah peristiwa yang sangat memalukan karena berhubungan dengan malu atau “siri” atau aib yang menjadi tanggungan keluarga sepanjang hidupnya.

 Silariang identik dengan kematian tapi bukan dalam arti dicari dan dibunuh melainkan dipaoppangi tana atau sudah ditelungkupi atau ditutup dengan tanah. Pelaku dianggap telah mati dan tidak diakui lagi dalam keluarganya. Pada umumnya pelaku silariang akan pergi merantau dan membuang diri dan tidak akan kembali lagi hingga beranak cucu.

Dari itu kita harus bisa mengambil pelajaran bahwa uang panai ini merupakan salah satu budaya yang sudah ada dari zaman dulu dan harus dilestarikan, akan tetapi kita pun harus bijak dalam menyikapi suatu budaya agar kita tidak salah dalam mengambil keputusan namun tidak pula melanggar budaya tersebut.

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Abdul Azies