Udah Tau Sejarah “Sekolah” Belum? Ini Loh Sejarahnya!


Udah Tau Sejarah "Sekolah" Belum? Ini Loh Sejarahnya!

Apa yang muncul dipikiran kita kala kata “” diucapkan. Apakah yang muncul rasa menyenangkan sebab akan bertemu dengan banyak teman atau rasa malas sebab banyaknya tugas yang diberikan.

Kalau kita tilik sejarah , maka kita akan dapati bahwa Horace Mann lah yang mulai menerapkan sistem negeri atau publik yang berpusat di Amerika.

Model yang yang dipilih saat itu adalah model Prusia dimana metode pembelajarannya dinamakan pembelajaran depersonalisasi (mengabaikan personalisasi) disertai dengan kekuasaan yang ketat, sebab cara tersebut merupakan cara yang murah dan mudah untuk mengajarkan membaca dan menulis dalam skala besar.

Sistem ini mulai diterapkan di awal abad ke-20 oleh seorang ahli dibidang teori efisiensi sosial yang memiliki ambisi besar terhadap dunia indusrti, dimana kala itu dunia industri sedang menggeliat semakin pesat.

Dipimpin oleh pengajar bernama Elwood P. Cubberley, mereka menggunakan sistem persekolahan sebagai alat rekayasa sosial: ada kutipan dari Cubberley pada tahun 1917 yang ia sampaikan bahwa “ kami adalah pabrik dimana produk mentah (berupa anak-anak manusia), harus dibentuk dan dicetak ke dalam produk (pekerja) untuk memenuhi berbagai tuntutan kehidupan…”

Mereka mengkonstruksikan model era industri yang dirancang untuk menghasilkan jutaan pekerja untuk pabrik di Amerika. Sistem yang sudah dirancang dan digunakan ini meyakini bahwa sebagian besar siswa Amerika ditakdirkan untuk hidup yang kasar dan rendahan yakni sebagai buruh industri.

Maka jika dipahami, teori ini menciptakan sebuah sistem multi-track yang artinya yang digunakan bertujuan untuk memilih pekerja unggul sejak usia dini.

Siswa terbaik dan tercerdas secara hati-hati dipersiapkan untuk posisi kepemimpinan melalui proses belajar yang monoton seperti menghafal dan menyelesaikan tugas-tugas.

Di Indonesia sendiri model persekolahan seperti ini masuk bersamaan dengan politik etis kolonial Belanda di tahun 1901. Dari sistem dan model yang dijalankan tersebut, akan muncul beberapa konsekuensi seperti:

1. Krisis Sumber Daya Manusia

Pada sejarahnya, posisi dukud dalam barisan bangku serta wajah menghadap ke depan, ini adalah posisi yang memang sengaja dirangcang agar model persekolahan ini dapat efektif membungkam, mengontrol, dan menjejalkan sederetan hafalan juga pengetahuan yang sejalan dengan tujuan pencetakan manusia untuk menjadi para pekerja industri.

Cara ini jelas mengabaikan potensi unik yang ada dalam diri masing-masing manusia dan sudah pasti tidak terhubung dengna misi agung pencitpkaan yang sesunnguhnya.

Disinilah akan muncul krisis sumber daya manusia karena jiwa mereka akan kering. Sebab bagaimanapun, jika seorang yang amat terlatih secara skill, tetapi mati secara potensi aslinya, potensi sejatinya, ia tetap tidak akan memberikan kontribusi yang optimal terhadap apapun, baik bagi dirinya, maupun bagi lingkungan sekitarnya.

2. Melahirkan Perbudakan manusia

Tidak bisa dipungkiri lagi, awal sistem persekolahan ini diterapkan kemudian meluas, menjadi sekedar tempat untuk pengembangan intelektual. Model persekolahan ini memang mulanya dirancang untuk mengontrol manusia secara sistemik demi satu kepentingan egois berpa kekuasaan danketamakan.

Semakin banyak manusia yang bersekolah, semakin banyak potensi pekerja yang unggul dan mensukseskan industri kelak. Tak masalah jika tidak sesuai dengan potensi asli, asalkan keahlian yang dimiliki siswa dapat berkontribusi baik untuk kemajuan industri, dimana kemajuan industri akan berdampaik pada kemakmuran pemiliknya.

Sistem dalam model persekolahan ini akan membuat para siswa menjadi lemah tak berdaya sebab siswa berada dalam perintah terpusat, dan ujungnya mencetak manusia demi terpenuhinya tujuan penguasa yang tamak dengan ambisi duniawinya.

3. Menuhankan Kecerdasan dan Berorientasi Kerja

Sejarah sistem persekolahan di Amerika sudah menunjukkan fakta mengiri hati, salah satunya adalah sistem yang mereka rancang telah berhasil dengan setia “memproduksi” manusia dengan semangat dalam diri yang selamanya padam. Tidak ada kekhasan. Tidak ada bakat unik dan spesial.

Tidak ada peran sejati yang berkontribusi pada peradaban, pada tatanan hidup yang dikehendaki Sang Pencipta. Tidak ada samasekali pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Satu-satunya ukuran keberhasilan hanya kecerdasan dan kemampuan untuk siap bekerja. Itu prioritas utamanya.

4. Militerisme dalam Semua jenjang Sosial

Gaya persekolahan model ini memang sangat militeristik, sehingga menyebabkan perilaku militarianisme yang masuk ke dalam semua hal, baik diruang kelas, ruang para pengajar, juga akhirnya merembet pada pergaulan sosial dan kehidupan secara luas.

Ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam yang memandang setiap manusia sebagai ciptaan Allah yang mulia, dengan segala fitrah mulia, untuk mengambil peran sejati yang mulia demi membangun tatanan hidup yang juga mulia.

Terakhir, tidak semua sekolah saat ini memiliki sistem persekolahan di atas. Ada beberapa yang melakukan pembaruan disana sini. Dan ditulisnya tulisan ini juga bukan untuk mengajak pembaca supaya tidak menyekolahkan anak.

Sebab ini lebih untuk membuka pandangan utuh kita semua tentang sekolah yang dilihat dari sejarah sekolah. Harapan dari semua yang ditulis adalah akan muncul kesadara pada diri kita bahwa sekolah hanyalah salah satu pilihan untuk mendidik anak, bukan satu-satunya.

Sehingga apakah kita akan memilih menyekolahkan anak ataupun tidak nantinya, ada satu hal yang tetap harus dilakukan oleh orangtua yaitu “mendidiknya” dan salah satu solusi untuk melakukan proses anak oleh orang tua adalah dengan menerapkan “Home Based Education”

Bersambung….

Baca Juga

Exit mobile version