Universalitas Cinta Dalam Buku Kumcer ‘Cinta Tak Pernah Sia-sia’ Karya Agus Noor


Universalitas Cinta Dalam Buku Kumcer ‘Cinta Tak Pernah Sia-sia’  Karya Agus Noor 1

Dalam kumpulan cerpen ‘Cinta Tak Pernah Sia-sia’ kita dapat menemukan 37 cerpen yang pernah dimuat di Koran Kompas Minggu selama kurun waktu 27 tahun ia berkarya  terhitung dari tahun 1980-an ketika cerpennya ‘Kecoa’ pertama kali dimuat dalam Kompas Minggu. Dari saat itulah ia memutuskan untuk hidup dari menulis.  

Yang menarik adalah ia tak pernah bosan mengeksplorasi gaya dalam setiap tulisannya. Terbukti dari 37 cerpen yang ditulis masing-masing pada rentang waktu yang berbeda itu terdapat cerpen yang menggunakan gaya surealis, gaya absurd, gaya populer dan bahkan metropop. Ini mengindikasikan bagaimana komitmen penulis untuk memperkaya gayanya dalam menulis.

Dalam novel Sang Alkemis yang merupakan salah satu novel terlaris di dunia karya dari Paulho Coelho dikisahkan bahwa terdapat satu bahasa universal yang akan mampu dipahami oleh semua orang di seluruh dunia terlepas dari perbedaan bahasa asal mereka.

Bahasa yang dimaksudkan itu adalah bahasa cinta yang menurut Paulo Coelho merupakan bahasa yang murni dan bahasa yang tak memerlukan penjelasan untuk dapat dipahami. “Bahasa ini lebih tua dari manusia, dan lebih kuno dari padang pasir.”

Tentang cinta, cinta sendiri merupakan tema klasik dalam kesusastraan yang hiingga kini tak pernah habis dan tuntas untuk dibahas dan dikisahkan.

Sayang sekali oleh sebagian orang cinta sering diidentikan dengan romantisme sepasang kekasih seperti yang biasa dikisahkan dalam novel-novel dan sinetron-sinetron populer.

Padahal sesungguhnya cinta itu begitu luas cakupannya dan juga merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Berkaitan dengan itu Agus Noor, sebagai salah satu penulis yang terkenal di negeri ini telah meramu universalitas dan keluasan cinta itu dalam cerpennya.

Pertama, Cinta yang paling dasar yaitu Cinta seorang ibu kepada anaknya seperti yang dikisahkan dalam cerpennya ‘Pemetik Air Mata’. Dalam cerpennya ini, dikisahkan tentang garis hidup Sandra, seorang anak dari seorang pelacur. Bagaimanpun si pelacur sangat menyayangi anaknya itu dan selalu bercita-cita agar suatu saat nanti anaknya akan hidup lebih baik dari dirinya. Pada akhirnya Sandra, anaknya dapat hidup ‘sedikit’ lebih baik yaitu dengan hidup sebagai istri simpanan dari seorang pejabat kaya. Dan Sandra tak ingin agar Bita anaknya pada suatu hari nanti menjadi istri simpanan seperti dirinya.  

Kedua, cinta akan tanah air. Cinta yang  menumbuhkan semangat nasionalisme dalam diri seorang mahasiswa sehingga menjadikannya sebagai salah satu aktor penting dalam demonstrasi untuk menggulingkan Soeharto pada bulan Mei 1998. Pada peristiwa yang dikisahkan dalam cerpennya ‘Matinya seorang demonstran’ dikisahkan bahwa sang mahasiswa, karena cinta akan tanah airnya dan karena keprihatinannya pada keadaan bangsanya waktu itu, ia pun keluar dari zona nyamannya sebagai mahasiswa demi memperjuangkan suara rakyat dan bangsanya.

 Ia tetap ngotot bersuara saat yang lain bisu karena takut akan dimusnahkan secara kejam oleh oknum pemerintah pada waktu. Pada akhirnya ia diculik dan tak pernah lagi kembali. Namun sayangnya saat cita-cita reformasi telah tercapai ia tak diingat. Yang lebih anehnya lagi seorang mahasiswa manja yang kebetulan terkena peluru nyasar pada malam sebelum pemunduran diri dari presidenlah yang justru dinobatkan sebagai pahlawann sedangkan Eka,  si mahasiswa tadi yang telah berjuang mati-matian justru dilupakan.

Di saat seperti itu mungkin orang mengira bahwa perjuangan cintanya pada negeri ini sia-sia. Tetapi ingatlah bahwa ia berjuang untuk mewujudkan reformasi di negara ini dan bukan untuk dirinya sendiri. Dengan begini berarti perjuangannya tidak sia-sia sebab peristiwa reformasi akhirnya terjadi. Cerita seperti ini senada dengan apa yang pernah dikatakan oleh John F. Kenedi, mantan Presiden Amerika Serikat, “Jangan tanyakan apa yang dilakukan negara untukmu melainkan tanyakanlah apa yang kau lakukan untuk negara.”

Rasa cinta akan tanah air ini menjadi garis besar dari hampir semua cerpen dalam buku kumpulan cerpen ini. Karena rasa cinta itu penulis menentang keras ketidakadilan yang sering terjadi di negara ini seperti pada cerpen ‘Mawar di Tiang Gantungan’.  Penulis pun lalu menawarkan solusi dengan menggambarkan negeri ideal yang diharapkannya seperti pada cerpen ‘Hakim Sarmin Presiden Kami’ dan ‘Surat Buat Bapa Presiden.’

Ketiga, Cinta akan istri dan kekasih. Memang penulis pun mengambil tema ini juga dalam sebagian cerpennya. Tetapi dalam ceritanya tentang tema ini tidaklah dibahas cerita cinta cengeng seperti yang ditemukan dalam film-film dan sinetron masa kini. Penulis secara gamblang mengisahkan cerita-cerita itu dari sudut pandang masyarakat kelas bawah. Ini sekaligus menjadi kritik pada pemerintah atas kesenjangan  ekonomi dan sosial yang terjadi di negara ini seperti pada cerpen ‘Kecoa’ dan ‘Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia.”

Keempat, cinta pada Yang Mahakuasa. Memang benar bahwa Agus Noor bukanlah penulis genre religi tetapi satu hal yang perlu diketahui ialah bahwa  ia adalah salah seorang beragama. Nampak dalam banyak cerpen dalam buku ini sebutan-sebutan Yang Mahakuasa.

Barangkali ada cinta model lain lagi yang dapat kita temukan tetapi cukup itu dulu untuk karya ‘Cinta Tak Pernah Sia-sia ini’. Buku ini jelaslah buku yang sangat berkualitas. Membacanya adalah keharusan dan kepuasaan adalah jaminannya. Sementara refleksi tentang cinta tergantung dari bagaimana kita membaca dan sedikit berimajinasi bersama buku ini.


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Claudio

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap