Urgensi Pendidikan Spiritual dalam Rumah


Urgensi Pendidikan Spiritual dalam Rumah 1

Spirit pendidikan spiritual merupakan amanat konstitusi yang wajib ditegakkan. Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dengan eksplisit disebutkan, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Semakna dengan konsep pendidikan nasional di atas, yaitu konsep pendidikan yang dikembangkan Abdurrahman (2008). Menurutnya, pendidikan adalah proses manusia untuk menjadi sempurna yang diridhai Allah SWT. Pemerhati pendidikan Islam, Ibnu Miskawih menyatakan, pendidikan merupakan pencapaian akhlak mulia dan meraih kebaikan, kebahagiaan dan kesempurnaan hidup.

Dari paparan di atas, dapat kiranya ditarik satu kesimpulan. Pendeknya, pendidikan wajib berjalan di atas semangat spiritual.

Semangat pendidikan berbasis imani ini tentu berawal dari keluarga. Benih spritual perlu ditanam sejak anak masih dalam buaian orang tua. Sebab, mengharapkan anak tumbuh kembang menjadi anak shaleh membutuhkan kerja keras dan waktu banyak yang perlu tersita dari orang tua itu sendiri. Dari sini maka pilar yang paling pertama untuk menegakkan spirit spiritual pendidikan dimulai dari dalam rumah, dari dalam keluarga. Pepatah Arab mengatakan, “Al umm madrasatu al ula li al shibyan” (ibu adalah sekolah yang pertama bagi anak).

Materi yang wajib disuguhkan dalam proses ini adalah akidah (tauhid). Dr. Aidh Al-Qarni dalam bukunya La Tahzan menjelaskan, “Kesengsaraan hidup dialami seseorang pada sebenarnya terletak pada miskin iman dan krisis keyakinan.” Dalam bahasa Al-Ghazali yang ditulis dalam karyanya, Ihya’ Ulumiddin, “Penjelasan-penjelasan perihal akidah penting kiranya disuguhkan kepada anak-anak sejak dini.” Beliau beralasan, dengan akidah hati dan perilaku anak akan tersinari sehingga jauh dari perilaku-perilaku menyimpang kini dan nanti.

Pada tahap selanjutnya, anak perlu diajarkan mengenai dasar-dasar agamanya. Termasuk juga segala hal yang berkaitan dengan ilmu-ilmu yang berkenaan dengan pemahaman agama yang aplikatif, yang memiliki kaitan erat dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Di samping itu, anak juga perlu diajarkan tentang budi pekerti dan sopan santun serta keteladanan yang baik dari orang tua dalam rumah.

Proses semangat pengajaran spiritual ini pada sebenarnya berlangsung sejak lama. Orang tua dulu betapa getol mengajarkan hal ini kepada anak-anaknya. Betapa orang tua dulu menjejali anak-anaknya tentang pengajaran spiritual dari tidur sampai tidur lagi. Mereka merasa malu jika anak-anaknya tidak lancar baca Al-Qur’an, sholatnya bolong-bolong, apalagi sampai mengambil hak orang lain. Sehingga anak yang belum bisa buang ingus dititipkan dan dipasrahkan penuh pada pengajar Al-Quran di surau-surau.

Sebab anak, dalam gambaran kultur Madura ia adalah ghantongan ate (buah hati). Yang namanya buah, bucco’ enja’na aghumantong ka oreng se arabat (busuk tidaknya tergantung orang yang merawatnya), tentu dalam hal ini adalah orang tuanya. Karena kebaikan anak juga kebaikan orang tua. Begitu sebaliknya, rusaknya anak berarti juga rusaknya orang tua.

Namun sayangnya, pendidikan kini banyak dipandang sebagai alat transportasi cepat menuju kebaikan taraf hidup. Mudah kita temui, orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah berstandar internasional dengan meraup banyak dana demi tujuan tersebut. Pandangan-pandangan dangkal ini pada sebenarnya satu upaya menjerumuskan dirinya ke liang kekacauan dengan tanpa disadari. Sebagaimana pesan Dr. Aidh di atas.

Pendidikan yang bersandar pada tiang rapuh inilah melahirkan banyak keributan. Situasi ini telah banyak menimbulkan keculasan. Demi target ini, sarana pendidikan tak ubahnya sarang lotre di mana perilaku curang seperti jual beli kunci jawaban ujian dihalalkan. Muaranya, lahirlah manusia-manusia terpelajar namun berjiwa kriminal. Semuanya ulah dari dicampakkannya pendidikan yang berbenteng spiritual.

Sebagai penutup, patut kiranya kisah berikut kita petik sebagai satu pelajaran.

Syahdan, ada seorang petani yang sedang menggarap sawahnya, sedang anaknya melempar-lempar batu ke arah pemukiman penduduk. Melihat anaknya melempar batu, si petani menegur anaknya, “Nak, jangan melempar-lempar batu begitu, nanti batunya mengenai bapak!” Rupanya sang anak tidak peduli malah semakin kencang lemparannya.

Petani tetap terus menegurnya dengan kalimat yang sama. Sang anak tetap tak peduli malah ia berkata, “Bapak ini gimana, saya melemparnya ke arah sana bukan ke arah bapak, masa akan mengenai bapak?!” sambil ia melempar-lempar batu.

Selang beberapa waktu, lemparannya mengenai atap rumah salah seorang penduduk, dan yang punya rumah keluar seraya ia berteriak kencang, “Memang ini rumah bapakmu, seenaknya saja melempar batu!” Kemudian si petani yang berarti orang tua anak tersebut berkata pelan, “Tuh, kan, nak, lemparanmu benar-benar mengenai bapak?!”


Digstraksi adalah platform menulis independen, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Holikin

   

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copy link
Powered by Social Snap