Vokasi atau Sarjana, Bingung?

Vokasi atau Sarjana, Bingung?

Sedang panas-panasnya hawa anak-anak SMA/Setara dan anak-anak gapyear yang sedang mempersiapkan masuk kuliah.

Banyak orang yang berlomba-lomba untuk latihan soal-soal persiapan yang banyak. Beberapa dari kalian bahkan sudah adu mahal bimbel yang diambil.

Lalu setelah itu kalian dihadapkan pada 2 pilihan yang mungkin tidak kalian mengerti: Vokasi atau Sarjana.

Singkatnya, perbedaan dari keduanya seperti perbedaan SMA dan SMK. SMA lebih mengedepankan ilmu pengetahuan, sedangkan SMK lebih mengedepankan pengalaman dan kesiapan bekerja.

Dari sini, kita bisa memperkirakan akan seperti apa perbedaan vokasi dan sarjana.

Sayangnya, anak SMA tidak akan merasakan seperti apa SMK, begitupun sebaliknya. Sehingga banyak perbandingan tidak bisa benar-benar dimengerti.

Kebetulan, saya adalah alumni SMA yang kuliah di institusi vokasi. Saya merasakan betul bagaimana sulitnya beradaptasi di dunia vokasi.

Namun saya dapat mengenal satu per satu perbedaan antara vokasi dan sarjana, dan akan saya bagikan dalam tulisan ini.

Perbedaan secara umum

Vokasi secara umum adalah pendidikan tinggi yang lebih memfokuskan peserta didiknya pada praktik-praktik dan keahlian yang berujung pada kesiapan kerja.

Sedangkan sarjana adalah pendidikan tinggi yang lebih memfokuskan pada keilmuan.

Kata kunci yang dapat diambil adalah: Vokasi – Kerja, Sarjana – Keilmuan.

Karena dari fokusnya saja sudah berbeda, tentu akan banyak perbedaan didalamnya. Entah itu dari porsi pembelajaran, materi, jenis praktik, dan lain sebagainya. 

Perbedaan gelar

Waduh, udah ngeri aja ngomongin gelar, padahal masuk aja belom.

Yaps, gelar dari kedua jenis pendidikan ini berbeda. Dalam vokasi itu sendiri ada 4 jenjang; D1, D2, D3 dan D4.

Baca juga  School Meaning: Build Or Kill?

Lulusan D1 menempuh pendidikan selama satu tahun dengan bobot 32 SKS, dan mendapat gelar Ahli Pratama atau (A.P.) Contoh, Ahli Pratama Pelayaran: A.P.Pel

Lulusan D2 menempuh pendidikan selama dua tahun dengan bobot 64 SKS, dan mendapat gelar Ahli Muda atau (A.Ma.) Contoh, Ahli Muda Perpustakaan: A.Ma.Pust

Lulusan D3 mendempuh pendidikan selama tiga tahun dengan bobot 112 SKS, dan mendapat gelar Ahli Madya atau (A.Md.) Contoh, Ahli Madya Kebidanan: A.Md.Keb

Lulusan D4 menempuh pendidikan selama empat tahun dengan bobot 144 SKS, dan mendapat gelar Sarjana Terapan atau (S.Tr.) Contoh, Sarjana Terapan Teknik: S.Tr.T

Berbeda dengan lulusan sarjana yang gelarnya berupa S. Misalnya S.Pd, atau S.Si. Kurang lebih begitu.

Kurikulum dan porsi belajar

Karena fokus kedua jenis pendidikan ini berbeda, tentu akan memiliki kurikulum dan porsi belajar yang berbeda.

Biasanya untuk menjelaskan porsi belajar digunakan istilah 60-40. Pada pendidikan vokasi, isinya adalah 60 persen praktikum dan 40 persen teori.

Berbeda dengan sarjana yang mana memiliki 60 persen teori dan 40 persen praktikum.

Namun untuk porsi ini tidak tepat 60-40, melainkan angka tepatnya bisa berbeda di masing-masing kampus. Misalnya 51-49, 57-43, dan lain sebagainya.

Sarjana pada umumnya memiliki kurikulum yang memfokuskan mahasiswanya untuk belajar keilmuan.

Maksudnya disini, segalanya benar-benar mengacu pada perhitungan ilmiah. Nantinya, mahasiswa sarjana akan dihadapkan penelitian yang akan dipublikasi sebagai penelitian ilmiah jika berhasil. 

Sedangkan vokasi memfokuskan pada keahlian dan keterampilan. Disini kita akan diajarkan mengenai standar-standar yang berlaku sesuai pekerjaan.

Standar yang dimaksud disini, jika pada sarjana kita diwajibkan melakukan semua perhitungan sendiri, disini tidak.

Baca juga  Anestesi, Jurusan Langka dengan Prospek Kerja yang Tinggi

Karena peruntukannya pekerjaan, biasanya digunakan tabel yang memuat langsung hasil dengan batas-batas tertentu, sehingga tidak perlu terlalu banyak menghitung demi efisiensi pekerjaan.

Kelanjutan studi

Sudah tidak asing masalah studi lanjut. Karena memang sejak kecil kita selalu diharapkan untuk sekolah setinggi-tingginya. 

Pada pendidikan vokasi, lulusan bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Misal dari D1 ke D2 dan seterusnya sampai D4. Sedangkan pada sarjana, sudah jelas lulusan S1 bisa lanjut ke S2 dan S3. 

Mitos yang seringkali beredar adalah lulusan D4 tidak bisa lanjut ke S2 dengan mudah alias harus kuliah lagi untuk gelar S1. Apakah benar? Jika benar tentu ini akan menjadi beban tersendiri untuk yang sudah menargetkan pendidikan vokasi untuk kelanjutannya dari SMA atau setara.

Jawabannya adalah, D4 dan S1 setara. Seperti SMA dan SMK, kedua jenjang ini setara namun isi kurikulumnya yang berbeda. Secara SKS, D4 dan S1 memiliki jumlah SKS minimal yang sama, yakni 144 SKS. 

Oleh karena itu, lulusan D4 juga bisa melanjutkan studi ke S2, entah itu murni atau terapan. Jadi, tidak ada masalah bagi kalian yang ingin fokus pada dunia kerja namun tetap memiliki studi yang tinggi.

Prospek kerja

Untuk prospek kerja sendiri sebetulnya bisa dikatakan agak rebutan antara lulusan vokasi dan sarjana.

Satu sisi lulusan vokasi memiliki keterampilan yang lebih meyakinkan, sedangkan lulusan sarjana tentu memiliki ilmu yang tak kalah bagus juga.

Tapi untuk ‘seharusnya’, kedua bidang ini juga memiliki prospek kerja yang berbeda.

Baca juga  Pembelajaran Daring Di Masa Covid-19

Untuk sarjana, karena bidangnya adalah ilmiah, tentu akan kebagian pekerjaan di bidang ilmiah juga. Umumnya adalah peneliti, guru, dan lain sebagainya.

Namun tak menutup kemungkinan lulusan sarjana bekerja di perusahaan sebagai karyawan.

Seringkali perusahaan membutuhkan analisis ilmiah untuk memperbagus bisnisnya.

Sedangkan vokasi, prospeknya bisa bermacam-macam. Untuk jenjang D1, D2, dan D3 juga memiliki tempatnya masing-masing.

Umumnya untuk 3 jenjang ini jadi pekerja ahli, teknisi, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk lulusan D4, biasanya memiliki tempat di pengawasan, analis, inspeksi, dan perencanaan. 

Lebih baik memilih vokasi atau sarjana?

Jawabannya sangat bergantung pada preferensi diri kita masing-masing sebagai mahasiswa atau calon mahasiswa.

Disini kita harus bisa mengenali diri kita apakah lebih suka analisis yang bersifat teknis atau ilmiah.

Jika yang kita cenderung pada hal-hal yang bersifat teknis, vokasi adalah pilihan yang tepat. Tapi jika kita cenderung pada hal-hal yang bersifat ilmiah, sarjana adalah pilihan yang bagus pula.

Jika ditanya lebih bagus lulusan vokasi atau sarjana, jawabannya relatif. Tergantung dari sisi yang mana. Dari sisi pekerjaan, jelas lebih baik vokasi. Dari sisi keilmuan, sarjana jadi pemenang. 

Sebenarnya dua bidang ini bukan untuk disaingkan, namun untuk dikolaborasikan, dengan tujuan akhir menjadikan kehidupan lebih baik.

Analisa ilmiah akan terus dibutuhkan untuk ilmu pengetahuan yang dipakai para pekerja, namun analisa teknis juga pasti akan dibutuhkan oleh para peneliti untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan. 

Jadi, untuk kalian yang sedang berjuang ke perguruan tinggi, semangat dan pastikan kalian memilih tempat yang tepat!

Digstraksi adalah Media User-Generated, Semua karya tulis sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis. Kamu juga bisa mempublikasikan karya tulis & mendapatkan kompensasi berupa uang tunai, pelajari Di sini.

Lief

   

Sukses hanyalah tentang seberapa beruntung kita. Tuhanlah yang menentukan keberuntungan itu, kita hanya bisa berdoa dan berusaha.